Sabtu, 07 Januari 2012

MEMBACA PEMAHAMAN DENGAN QUANTUM LEARNING

Upaya Meningkatkan Keterampilan Membaca Pemahaman dengan Pendekatan Quantum Learning pada Siswa Kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun Tahun ajaran 2011/2012.


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembelajaran membaca di Madrasah (MA) merupakan bagian yang integral dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Pembelajaran membaca sebagai bagian dari empat keterampilan berbahasa yang mencakup keterampilan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Pembelajaran membaca di Madrasah Aliyah dapat digolongkan dalam pembelajaran membaca tingkat Mahir/ Lanjut (Iskandar Wasid: 2009:29). Pembelajaran tingkat mahir lebih ditekankan pada penemuan ide pokok dan ide penunjang, menafsirkan isi bacaan, membuat intisari bacaan, menceritakan kembali berbagai jenis isi bacaan (narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi).
Membaca pemahaman adalah suatu kombinasi dari pengetahuan huruf, intellect, emosi yang dihubungkan dengan pengetahuan si pembaca (background knowledge) untuk memahami suatu pesan yang tertulis (Gillet, 1994:35). Tujuan membaca yang utama adalah memahami isi atau pesan yang terkandung dalam suatu bacaan secara efisien. Anderson, Durston, Poole (190:106-107) mengidentifikasi ada tiga tingkatan penting dalam membaca pemahaman, yaitu 1) mampu memahami arti harfiah (reading the lines), 2) mampu menginterpretasikan maksud penulis (reading between the lines), dan 3) menarik simpulan atau generalisasi (reading beyond the lines).
Keterampilan membaca berperan penting bagi siswa dalam kegiatan belajar juga dalam kehidupan pada umumnya. Menurut Sri Hastuti (dalam Sarwiji Suwandi dan Raheni Suhita, 2000:35) bahwa dalam membaca setiap orang akan memperoleh sejumlah pengetahuan yang heterogen dan majemuk, pengalaman yang luas, perilaku bahasa yang baik, dan akhirnya mampu bersikap dewasa dan rasional.
Pada kenyataannya, keterampilan membaca pemahaman siswa Madrasah aliyah/ Sekolah Menengah Atas di Indonesia masih rendah. Dari 31 negara yang diteliti, Indonesia berada pada peringkat ke-30. Peringkat tertinggi diduduki oleh Finlandia, (Khaerudin Kurniawan, 2000:237). Hal yang sama dibuktikan dalam sebuah penelitian tentang kemampuan membaca yang dilakukan oleh IEA (International Association for the Evaluation of Education Achievement). Penelitian terhadap kemampuan siswa SMA itu dilakukan di sejumlah negara (termasuk Indonesia), hasil penelitian itu menunjukkan bahwa kemampuan para siswa SMA Indonesia masih di bawah rata-rata dari 33 negara yang diteliti para siswa SMA, Indonesia berada di urutan dua terbawah di atas Venezuela ( Sarwiji Suwandi dan Raheni Suhita, 2000:34).
Selain hal tersebut di atas, kenyataan menunjukkan soal-soal ujian sekolah dan ujian nasional mata pelajaran bahasa Indonesia sebagian besar menuntut pemahaman siswa dalam mencari dan menentukan pikiran pokok, kalimat utama, membaca grafik, alur/plot, amanat, setting, dan sebagainya. Tanpa kemampuan membaca pemahaman yang tinggi mustahil siswa dapat menjawab soal-soal tersebut. Dalam hal ini peran penting membaca pemahaman untuk menentukan jawaban yang benar. Belum lagi dengan adanya standar nilai kelulusan, hal ini memicu guru bahasa Indonesia khususnya untuk dapat mencapai target nilai tersebut.
Rendahnya keterampilan membaca pemahaman menurut pengataman peneliti juga terjadi di Madrasah Aliyah Negeri 2 Madiun. Hal ini dapat diketahui dari nilai ulangan bahasa Indonesia khususnya Kompetensi Dasar Membaca. Siswa yang mencapai batas ketuntasan pada KD membaca ini hanya 40% sedangkan selebihnya belum mencapai batas ketuntasan. Selain itu, siswa sulit memahami isi bacaan. Hal ini dapat diketahui dari kegiatan membaca yang dilakukan siswa. Setelah membaca, siswa diberi pertanyaan berkaitan dengan isinya, jawaban mereka masih banyak (60%) yang di bawah nilai ketuntasan. Hal ini disebabkan mereka belum mampu menentukan atau menemukan gagasan utama dari isi bacaan tersebut.
Penyebab rendahnya keterampilan membaca pemahaman siswa di atas dapat diindikasikan dari beberapa faktor. Salah satunya adalah metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Pembelajaran membaca pemahaman di MAN 2 Madiun pada umumnya menggunakan sistem klasikal yang menempatkan kecepatan rata-rata siswa (Ahmad Ridhani Ar. 2004:72).
Faktor siswa, guru dan persiapan pembelajaran dalam proses pembelajaran merupakan komponen yang tidak boleh ditinggalkan. Sebagus apapun persiapan guru dalam merencanakan pembelajaran, harus mempertimbangkan kemampuan siswa sebagai subjek yang akan dibimbing. Ketepatan perencanaan dalam pembelajaran harus dilengkapi adanya sebuah model yang tepat pula sebagai pengiring di dalamnya.
Rendahnya keterampilan membaca pemahaman juga disebabkan oleh beberapa hal, yaitu. : (1) Siswa kurang antusias dalam mengikuti pelajaran. Hal tersebut terlihat saat mengikuti pelajaran membaca, siswa menunjukkan sikap acuh tak acuh dan tidak memperhatikan pelajaran dengan sepenuhnya, (2) Siswa kesulitan dalam memahami materi pelajaran bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan siswa menganggap pelajaran membaca itu sulit dan membosankan, (3) Siswa merasa jenuh pada mata pelajaran bahasa Indonesia yang bersifat monoton dan kurang menarik, (4) Guru merasa kesulitan dalam membangkitkan minat siswa selama pembelajaran membaca dilaksanakan, siswa menunjukkan sikap yang kurang berminat dan kurang antusias, (5) Guru merasa kesulitan menemukan model yang tepat dalam mengajarkan materi membaca pemahaman. Selama ini dalam mengajarkan materi membaca pemahaman pada siswa guru menggunakan metode ceramah dan tugas sehingga sifatnya masih konvensional.
Adapun penyebab permasalahan yang telah dikemukakan di depan dari segi siswa antara lain: (1) siswa kurang tertarik terhadap pembelajaran bahasa Indonesia, (2) keterampilan membaca belum dapat menjadi budaya/ kebiasaan sehingga tidak bisa memaknai isi bacaan, (3) motivasi siswa masih sangat kurang (4) merasa kesulitan memahami bacaan, (5) merasa ragu-ragu saat menjawab pertanyaan pada wacana. Dengan demikian pembelajaran membaca pemahaman di MAN 2 Madiun perlu dibenahi.
Ketetampilan membaca merupakan salah satu aspek keterampilan yang harus sudah dikuasai siswa SMA/MA. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal diri, budayanya, dan budaya orang lain. Mengemukakan gagasan perasaan, dan berpartisipasi dalam masyarakat dengan menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis, imajinatif yang ada dalam dirinya. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil kesastraan manusia Indonesia. Untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki oleh siswa, maka perlu diadakan penelitian terhadap dampak pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran, termasuk pembelajaran membaca pemahaman.
Pembelajaran berbahasa salah satunya adalah membaca. Membaca memiliki fungsi yang berbeda-beda dan perlu disajikan secara kontekstual dalam situasi pembelajaran yang menyenangkan, menarik, dan menantang bagi siswa untuk lebih banyak mengeksplorasikan pemahaman dan pengetahuan awalnya, maka diperlukan suatu pendekatan pembelajaran yang tepat, salah satunya pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menerapkan pendekatan quantum learning. Penggunaan quantum learning dalam pembelajaran ini siswa diharapkan akan memberikan suasana belajar yang menarik, terjadi interaksi proses belajar yang dapat menggerakkan potensi siswa sebagai pelajar sehingga mereka mampu belajar merangsang kreativitas siswa dalam pembelajaran.
Pelaksanaan quantum learning ditekankan pada ciri-ciri yang pertama adalah penciptaan lingkungan belajar yang penataannya bisa diibaratkan dengan tugas kru panggung (De Porter dan Henacki, 2005:13). Demikian pula dengan penataan lingkungan belajar perlu diciptakan suasana seperti yang dilakukan kru panggung. Penataan lingkungan belajar dalam quantum learning adalah penciptaan lingkungan menyenangkan yang dilakukan mulai dari perabotan, bantuan visual (alat peraga) baik yang dipergunakan selama pembelajaran ataupun yang digantung pada dinding kelas. Ciri pelaksanaan yang kedua adalah menerapkan falsafah belajar sugestologi atau sugestopedia. Sugesti dapat mempengaruhi situasi belajar. Wujud sugesti dalam interaksi belajar yang disarankan De Porter dan Henacki (2005: 14) adalah komentar positif. Komentar positif akan membentuk kepercayaan diri siswa tegang dan terbebani dalam belajar. Di dalam pembelajaran, kedua karakteristik quantum learning yaitu penciptaan lingkungan yang menyenangkan serta penerapan sugesti diperlukan untuk memotivasi siswa agar mampu belajar seoptimal mungkin.
Pengembangan quantum learning dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang diterapkan di MAN 2 Madiun dengan mempertimbangkan kondisi yang ada, siswa kelas XI IPS2 mengalami kesulitan untuk membaca pemahaman bacaan, maka TANDUR (Tumbuhkankan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan) dalam quantum learning diharapkan merupakan metode yang tepat untuk mengatasinya. Melalui metode TANDUR, siswa dibantu untuk memahami apa yang ingin dibaca dalam bacaan, tidak hanya dengan cara menugaskan siswa sekadar membaca. Cara ini diharapkan cara yang sesuai untuk diterapkan.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, pembelajaran membaca pemahaman di MAN 2 Madiun yang telah dikemukakan tersebut , perlu diadakan pembenahan atau penyelesaian masalah tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan mengimplementasikan pendekatan quantum learning dalam pembelajaran membaca pemahaman di MAN 2 Madiun tahun ajaran 2011/2012.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.
1. Apakah penerapan pendekatan Quantum Learning dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran keterampilan membaca pemahaman pada siswa kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun tahun ajaran 2011/2012?
2. Apakah penerapan pendekatan Quantum Learning dapat meningkatkan kualitas hasil keterampilan membaca pemahaman pada siswa kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun tahun ajaran 2011/2012?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini sebagai berikut.
1. Meningkatkan kualitas proses pembelajaran keterampilan membaca pemahaman melalui pendekatan Quantum Learning pada siswa kelas XI IPS2 MAN 2 Madiun tahun ajaran 2011/2012.
2. Meningkatkan kualitas hasil keterampilan membaca pemahaman melalui pendekatan Quantum Learning pada siswa kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun tahun ajaran 2011/2012.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat memberikan manfaat baik secara teoretis maupun praktis.
1. Manfaat Teoretis
Penelitian ini dapat dijadikan landasan pengembangan pembelajaran bahasa Indonesia khususnya sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa SMA/MA.
2. Manfaat praktis
Bagi Siswa :
a) Keterampilan membaca pemahaman siswa meningkat melalui pendekatan quantum learning.
b) Pembelajaran akan lebih menarik karena berlangsung dalam situasi yang nyaman dan menyenangkan.
c) Menumbuhkan motivasi siswa untuk berperan aktif sebagai pelaku utama pembelajaran dengan dasar suka rela, riang, dan gembira.
Bagi Guru:
a) Kemampuan guru dalam menerapkan quantum learning dalam pembelajaran keterampilan membaca pemahaman meningkat.
b) Sebagai upaya untuk menawarkan inovasi baru cara pembelajaran melalui metode quantum learning dalam keterampilan membaca pemahaman.
Bagi Sekolah :
a) Sebagai masukan untuk memberikan dorongan kepada guru dalam melakukan kegiatan belajar mengajar agar menerapkan cara mengajar yang menarik.
b) Dapat menumbuhkan iklim pembelajaran yang kondusif sehingga tercipta kualitas pembelajaran yang baik, aktif, efektif, dan inovatif.
c) Menciptakan situasi dan kondisi sekolah yang mendukung pembelajaran membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning.










BAB II
KAJIAN TEORI ,PENELITIAN YANG RELEVAN, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Kajian Teori
1. Hakikat Keterampilan Membaca Pemahaman
a. Pengertian Keterampilan
Pada hakikatnya setiap manusia pasti memiliki kemampuan, potensi atau keterampilan yang dibawa sejak lahir. Keterampilan terus berproses sesuai dengan bertambahnya usia seseorang. Keterampilan diartikan sebagai pengetahuan, kemampuan, dan nilai-nilai dasar yang direfkeksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak (Depdiknas :2007) . Keterampilan yang dimaksud di sini adalah suatu kemampuan untuk mengeluarkan sumber daya internal atau bakat dalam diri seseorang yang dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
Keterampilan digunakan untuk menyebutkan kemampuan individu yang berfungsi dalam lingkungan yang membutuhkan suatu usaha yang besifat kognitif. Keterampilan yaitu kemampuan untuk mengeluarkan semua sumber daya internal, keunggulan, dan bakat agar dapat mendatangkan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
Hal senada juga diungkapkan oleh Ubaidilah (2002) keterampilan diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan tepat dan mahir.
Berdasarkaan hal di atas, dapat disimpulkan bahwa keterampilan adalah suatu kekuatan yang memerlukan kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan tepat dan dapat diukur. Keterampilan yang dimaksud yaitu kemampuan untuk mengeluarkan semua sumber daya internal, keunggulan, dan bakat agar dapat mendatangkan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain

b. Pengertian Membaca
Membaca adalah suatu kegiatan interaktif untuk memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung di dalam bahan tulis. Di samping itu, membaca juga merupakan suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis (Samsu Somadayo,2011:5).
Gilet dan Temple (dalam Syafi’i,1999:6) menyatakan bahwa membaca adalah kegiatan fisual, berupa serangkaian gerakan mata dalam mengikuti baris baris tulisan, pemusatan penglihatan pada kata dan kelompok kata, melihat ulang kata-kata dan kelompok kata untuk memperoleh pemahaman terhadap bacaan. Membaca juga merupakan proses pengembangan keterampilan, dari keterampilan memahami kata-kata, kalimat-kalimat, paragraf-paragraf dalam bacaan sampai dengan memahami secara kritis dan evaluatif keseluruhan bacaan.
Menurut Nurhadi (1991:13) membaca adalah suatu proses yang kompleks dan rumit. Kompleks berarti dalam proses membaca terlibat berbagai faktor internal dan faktor eksternal pembaca. Faktor internal berupa faktor intelegensi, minat, sikap bakat, motivasi, tujuan membaca, dan sebagainya. Faktor eksternal bisa dalam bentuk sarana membaca, teks bacaan, faktor lingkungan atau faktor latar belakang sosial ekonomi, kebiasaan, dan tradisi membaca.
Harjasujana (2003:36) menyatakan bahwa membaca adalah suatu kegiatan komunikasi interaktif yang memberikan kesempatan kepada pembaca dan penulis untuk membawa latar belakang dan hasrat masing-masing. Lebih lanjut, Bonomo (1973:119) menyatakan bahwa membaca merupakan sutu proses memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung dalam bahasa tulis (reading is bringing).
Senada dengan pendapat di atas, Godman (1988:127) menyatakan bahwa membaca adalah suatu kegiatan memetik makna atau pengertian yang bukan hanya dari deretan kata yang tersurat (reading the lines) , melainkan makna di balik deretan yang terdapat di antara baris (reading between the lines), bahkan juga makna yang terdapat di balik deretan baris tersebut (reading beyond the lines). Menurutnya, kegiatan membaca ini merupakan suatu proses yang aktif dan tidak lagi merupakan proses yang pasif, membaca merupakan proses yang aktif dan bukan proses yang pasif artinya seorang pembaca harus dengan aktif berusaha menangkap isi bacaan yang dibacanya, tidak boleh hanya menerima saja.
Menurut Crawley dan Mountain (1995:22) membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya sekadar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berpikir, dan metakognitif sebab proses visual membaca merupakan proses menerjemahkan simbol tulisan (huruf) ke dalam kata-kata lisan.
Hal tersebut juga dinyatakan oleh Imam Syafi’ie (1999: 8) bahwa membaca sebagai proses berpikir, membaca mencakup aktivitas pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi, kritis, dan pemahaman kreatif. Pengenalan kata bisa berupa aktivitas membaca kata-kata dengan menggunakan kamus. Selanjutnya di samping pandangan tentang hakikat membaca tersebut, salah satu konsep yang sangat penting yang telah dihasilkan dari berbagai penelitian tentang membaca adalah konsep reading readines atau emergent literacy (kesiapan membaca).
Beberapa pendapat tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca semakin penting dalam kehidupan masyarakat yang semakin kompleks. Setiap aspek melibatkan kegiatan membaca. Tanda-tanda jalan mengarahkan orang yang bepergian pada tujuannya, menginformasikan pengemudi mengenai bahaya di jalan dan mengingatkan aturan-aturan. Disamping itu, kemampuan membaca merupakan tuntutan realitas kehidupan sehari-hari.
Membaca sebagai aktivitas umum bagi orang kebanyakan dan sebagai aspek yang digunakan dalam pembelajaran bahasa . Menurut Smith ( 1978) dalam Endang Fauzi (2002:139) “It defines reading more pragmatically as understanding a massage conveyed by the writter through visual and non visual information.”
Pernyataan Smith di atas, menerangkan bahwa membaca merupakan suatu proses yang bersifat transformatif karena adanya pemindahan informasi dari penulis kepada pembaca menjelaskan bahwa membaca secara pragmatik adalah suatu pengiriman pesan oleh penulis melalui informasi visual atau nonvisual. Dalam hal ini, Smith menekankan bahwa membaca merupakan kegiatan pemahamn terhadap pesan yang disampaikan oleh pengirim kepada si penerima pesan.
Merujuk dari pendapat Smith, Gusti Ngurah Oka (1983:12) mengemukakan definisi para pakar dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda. Para penganut teori itu memandang membaca sesuai dengan dimensi keilmuannya masing-masing, sehingga menghasilkan pengertian yang bervariasi , mereka ada yang memandang bahwa membaca sebagai suatu keterampilan, membaca sebagai suatu persepsi, dan membaca sebagai suatu proses merekonstruksi. Secara eksplisit pandangan tersebut sebagai berikut.
Penganut teori keterampilan, memandang membaca sebagai suatu proses atau kegiatan menerapkan seperangkat keterampilan dalam mengolah tuturan tertulis yang dibacanya untuk menangkap maknanya. Perangkat keterampilan ini antara lain dimaksudkan keterampilan mengenal atau merekognisi kata, keterampilan menangkap makna kalimat, keterampilan menangkap isi pokok bacaan, isi bagian, dan isi penjelas.
Penganut persepsi memandang membaca adalah kegiatan mempersepsi, yaitu memberikan respon bermakna kepada symbol-simbol grafis yang telah dikenal. Dengan demikian dapat dikatakan membaca adalah suatu proses kegiatan secara aktif kreatif untuk mengenal, mengolah, dan memahami symbol-simbol bunyi yang terdapat di dalam bahan bacaan.
Penganut teori psikolinguistik memandang membaca adalah proses merekonstruksi pesan yang telah dituangkan pengarang ke dalam tuturan tertulis (Ngurah Oka, 1983:12)
Selanjutnya, dikatakan bahwa membaca adalah proses pengolahan bacaan secara kritis kreatif yang dilakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman yang bersifat menyeluruh tentang bacaan itu, dan penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi, dan dampak bacaan itu.
Membaca merupakan suatu proses untuk memahami suatu bahan tertulis, sebagamana Ram dan Moorman (dalam Soenjono Dardjowidjojo,2003:303) menyatakan bahwa membaca sebagai proses untuk menganalisis input yang berupa bahan tertulis dan menghasilkan output yang berupa pemahaman atas bahan tersebut.
Hal senada juga diungkapkan oleh Hodgson (1960:43) membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis.
Pendapat dari beberapa ahli tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa membaca adalah suatu proses yang dilakukan untuk memahami suatu bahan tertulis untuk menangkap pesan yang dimaksudkan.
Davies (1995: xi-1) menyatakan, “Reading is a complex which, since the turne of the century, has been extensively studied across a wide range of different diciplines. Lebih jauh dikatakan, “Reading is private. It is mental, or cognitive, process whicen involves a reader in trying to follow and respond to a massage from a writer who is dstant in space and time”.
Hal tersebut dapat dipahami bahwa membaca pada dasarnya adalah suatu proses yang kompleks, yang sejak permulaan abad ini telah banyak dilakukan studi dan penelitian dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda. Membaca merupakan proses mental atau kognitif yang membawa seorang pembaca untuk mencoba mengikuti dan merespons pesan dari penulis yang berada jauh dan waktu yang berbeda.
Membaca merupakan suatu proses yang rumit, sebagaimana De Boer Dallman (dalam Sujoko,1999) menyatakan bahwa membaca yang efektif melibatkan proses mental yang lebih tinggi. Membaca melibatkan pengingatan kembali, penalaran, penilaian, pembayangan, pengorganisasian, penerapan dan pemecahan masalah.
Hornby (1995: 699) mengemukakan, “Reading is a look at and understanding written or printed”. Pendapat senada juga diungkapkan oleh Harris (1971: 13), “Reading is a meaningfull interpretation of printed or written verbal symbol”.
Berdasarkan pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa membaca adalah melihat kemudian memahami sesuatu yang berupa tulisan atau cetakan. Membaca adalah suatu penafsiran arti yang bermakna dari suatu simbol-simbol verbal yang berupa cetakan atau tulisan. Membaca adalah memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung di dalam bahan tertulis atau bacaan. Hal ini dikuatkan pula dengan pendapat Wallace (1996: 4) yang menyatakan, “Reading as interpreting means reacting to a written text as a piece of communication: in other words, we assume some purpose in attempting to understanding”. Membaca merupakan aktivitas untuk menafsirkan. Maksudnya memberi reaksi terhadap sebuah teks tertulis sebagai bagian dari komunikasi. Dengan kata lain, pembaca mengasumsikan beberapa maksud komunikatif dari penulis, dalam hal ini pembaca mempunyai beberapa tujuan dalam memahami teks tersebut.
Lebih lanjut, Wallace (1965:5) mengatakan, “Effective reading means a flexible and appropriate response to the material in hand, and this is always guide by the reader’s purpose”. Membaca efektif berarti pembaca secara fleksibel dapat memberikan tanggapan atau reaksi terhadap materi dan hal ini selalu didasarkan pada tujuan si pembaca itu sendiri.
Berkaitan dengan tujuan membaca, Wallace (1996:6-7) membagi tujuan membaca menjadi tiga, yaitu: (1) Reading for Survival;(2) Reading for learning; (3) Reading for pleasure“. Tujuan seseorang dalam membaca didasarkan pada tiga tujuan, yaitu: (1) membaca untuk keselamatan diri; (2) membaca menambah pengetahuan; dan (3) membaca untuk kesenangan.
Membaca bagi pembaca bertujuan untuk menambah pengetahuan. Dijelaskannya bahwa membaca untuk menambah pengetahuan adalah membaca untuk belajar. Tujuan untuk memperluas pengetahuan. Hasil yang penting dari belajar untuk kesenangan adalah untuk kelancaran.. Jika membaca tidak memiliki kelancaran, yaitu kecepatan dan kesenangan membaca, membaca materi apapun untuk tujuan apapun mungkin dapat membosankan. Hal ini dapat disikapi bahwa untuk mencapai tujuan yang diinginkan, seorang membaca harus mempunyai rasa seang terhadap bacaan atau teks yang dibaca.
As Alderson and Urquhart (dalam Wallace, 1996:39) berpandangan bahwa membaca sebagai produk berhubungan hanya dengan apa yang sudah didapatkan oleh pembaca melalui teks, sedangkan pandangan membaca sebagai proses adalah meneliti teks, sedangkan pandangan membaca sebagai proses adalah meneliti bagaimana pembaca dapat sampai pada sebuah penafsiran atau pemahaman tertentu. Hal itu sesuai dengan pernyataannya,”Point out. A product view relates only to what the reader has got out of the text while a process view investigates how the reader may arrive at a particular interpretation’.
Harjasudjana dan Tulalessy (dalam Fathur rohman, 2005:1) menjelaskan bahwa prinsip-prinsip dasar membaca: (1) membaca adalah satu peristiwa psikologis dan fisiologis yang bersifat individual, (2) pendidikan dibangun di atas keterampilan membaca, dan (3) diagnose kemampuan dan daya baca seseorang sejak dini akan menolong perkembangan membaca orang itu.
Terdapat beberapa aspek mendasar dalam membaca sebagaimana pendapat Heilman (dalam Budhi Setiawan, 2004) yaitu: (1) membaca adalah berinteraksi dengan bahasa yang telah dituangkan dalam bahasa tulisan; (2) hasil interaksi dengan bahasa tulis berupa pemahaman (comprehention); (3) kemampuan membaca erat berkaitan dengan kemampuan berbahasa lisan; (4) membaca merupakan proses yang aktif dan berkelanjutan secara langsung dipengaruhi interaksi antara individu dengan lingkungannya.
Lebih lanjut, Fathur Rohman (2005: 1-2) menjelaskan bahwa membaca merupakan proses psikologis. Proses psikologi tentang peristiwa membaca, yaitu dengan cahaya, bacaan masuk ke mata dan oleh saraf sensorik sebagai reseptor diteruskan ke pusat bahasa yaitu pusat pembentukan kalimat dan langsung ke pusat organisasi berpikir. Setelah diolah melalui proses transtendensi dikembalikan melalui reseptor di mulut dan alat-alat ucap maka terjadilah peristiwa membaca. Dalam proses ini tidak hanya terjadi proses psikologis, yaitu berpikir, tetapi sekaligus peristiwa psikologis, yaitu pekerjaannya alat-alat ucap sewaktu mernbaca Selain alat-alat produksi suara, hal-hal grafis juga berperan, yaitu besar, bentuk, dan jenis huruf, gambar atau kertas. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah membaca merupakan peristiwa individual. Apabila perkembangan berpikir atau mata seseorang dalam hal ini adalah siswa, terganggu, maka perkembangan mernbaca siswa itu juga terganggu
Menyikapi pemahaman terhadap bacaan. Brown (2001:306) mengatakan,
"Strategies for reading comprehension: (1 ) Identify the purpose in reading; (2) Use grophemic rules and patterns to aid in bottom-up decoding (especially for beginning level learners); (3) Use efficient silent reading techniques for relatifelly rapid comprehension (for intermediate to advanced levels); (4) Skim the text for main ideas; (5) Scan the text for specific information; (6) Use Semantic mapping or cluster; (7) Guess when you aren't certain, (8) Afailyze vocabulary; (9) distinguish between literal and implied meanings; (!0) Capitalize on discourse markers to process relationships".
Bertolak dari pernyataan tersebut di atas, dapat dipahami bahwa strategi untuk memahami bacaan adalah: (1) mengidentifikasi tujuan membaca; (2) menggunakan aturan dan pola-pola bentuk tertulis untuk membantu pengkodean (bagi pelajar pemula); (3) menggunakan teknik membaca dalam hati untuk pemahaman bacaan yang cepat dan efisien (bagi pelajar menengah dan lanjutan); (4) membaca cepat (skimming) untuk menemukan ide utama; (5) menyecan (scanning) teks untuk informasi-informasi khusus; (6) menggunakan Pemetaan semantik; (7) menebak saat anda tidak yakin; (8) menganalisis kosa kata;(9) membedakan makna; tersurat (literal) dengan makna tersirat (implied) ; (10 mengkapasitasikan penanda wacanana Untuk pemrosesan hubungan.
Selain itu, membaca juga sebagai salah satu alat untuk belajar berbagai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Membaca itu sendiri adalah satu dari empat kemampuan bahasa pokok, dan merupakan satu bagian atau komponen dari komunikasi tulisan (Tampubolon, 2008: 5).
Seorang pembaca dapat dikatakan berhasil dalam membaca, apabila memiliki kemampuan. Yang dimaksudkan kemampuan dalam hal ini adalah kemampuan untuk; (1) menggunakan kata-kata sesuai dengan arti leksiklalnya; (2) menggunakan pengetahuan gramatikalnya untuk menangkap makna, misalnya menafsirkan anak kalimat yang tak terbatas ;(3) menggunakan teknik-teknik; berbeda untuk tujuan yang berbeda pula, misalnya membaca melompat dan sekilas untuk kata atau sebuah informasi; (4) menghubungkan isi teks dengan latar belakang pengetahuannya terhadap objek yang dibacanya;dan (5) mengidentikasi makna retorika atau fungsi dari kalimat atau segmen teks misalnya dengan memahami kapan penulis memberikan suatu definisi atau ringkasan walaupun tidak diberi frasa-frasa penanda (David Nunan 1999: 32).
Ahmad Slamet Harja Sujana (2003:2) mengungkapkan bahwa membaca adalah sebagai kegiatan yang meliputi pengenalan lambang-lambang tertulis atau lambang tercetak yang berperan sebagai stimuli untuk mengingat makna yang dibangun berdasar pada pengalaman yang lalu dan penyusunan makna-makna baru dengan jalan memanipulasi konsep-konsep yang telah dimiliki oleh pembaca.
Berdasarkan beberapa konsep membaca seperti yang telah dipaparkan di atas, disimpulkan bahwa membaca bukan sekadar mengenal simbol bunyi yang tercetak tetapi membaca merupakan proses pengolahan bacaan secara kritis - kreatif yang dilakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman yang bersifat menyeluruh tentang bacaan itu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa membaca adalah suatu proses kegiatan secara aktif kreatif untuk mengenal, mengolah, dan mernaharni simbol-simbol bunyi (grafis) yang terdapat di dalam bahan bacaan..
Membaca adalah proses pengolahan bacaan secara kritis kreatif yang dilakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman yang bersifat menyeluruh tentang bacaan itu, dan penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi dan dampak bacaan itu (I Gusti Ngurah Oka, 1983:17).
Menurut Tinker Mils dan Me Cullough Caonstance (dalam Prana Dwija Iswara dan Ahmat Slamet Harja Sujana,1996:2) membaca adalah sebagai kegiatan yang meliputi pengenalan lambang-lambang tertulis atau lambang tercetak yang berperan sebagai stimuli untuk mengingat makna yang dibangun berdasar pada pengalaman yang lalu dan penyusunan makna-makna baru dengan jalan memanipulasi konsep-konsep yang telah dimiliki oleh pembaca.
Mansoer Pateda (1989:92) membaca adalah suatu interprestasi simbol-simbol tertulis atau membaca adalah menangkap makna dari rangkaian huruf tertentu.
Para ahli memberikan definisi yang berbeda tentang kegiatan membaca, tetapi pada dasarnya mereka mempunya persamaan persepsi berkembang (a Developmen process). Pada tahap awal membaca sebagai suatu pengenalan simbol-simbol huruf cetak (word recognition) yang terdapat sebuah wacana. Dari rnembaca per huruf, per kata, per kalimat, kemudian berlanjut dengan membaca per paragraf dan esai pendek. 2) rnenyimpulkan pengertian membaca adalah suatu kombinasi dari pengenalan huruf intellect, emosi yang dihubungkan dengan pengetahuan si pembaca (background knowledge) untuk memahami suatu pesan yang tertulis. 3) untuk seorang pemula membaca berarti mengenal simbol (printed symbol) dari sebuah bahasa. Pemahaman bahasa secara bertahap akan dikuasai setelah word recognition ini dikuasai, tentunya setelah mengadopsi strategi-strategi membaca yang sesuai dengan tujuannya.
Berpijak dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca adalah proses pengolahan bacaan secara kritis - kreatif yang dilakukan dengan tujuan memperoleh pernahaman yang bersifat menyeluruh tentang bacaan itu. Jadi, membaca adalah suatu proses kegiatan secara aktif kreatif untuk mengenal, mengolah, dan memahami simbol-simbol bunyi (gratis) yang terdapat di dalam bahan bacaan.
c. Jenis Membaca Pemahaman
Jenis-jenis membaca dan karakteristik membaca ditinjau dari segi terdengar atau tidaknya suara pembaca suara, maka membaca pemahaman adalah membaca dengan penuh penghayatan untuk menyerap apa yang seharusnya dikuasai (David Haryokusumo, 2009:7). Membaca pemahaman terbagi menjadi dua yaitu membaca telaah isi (content study reading) dan membaca telaah bahasa ( linguistic reading study). Membaca telaah isi dibagi lagi menjadi membaca teliti (close reading), membaca pemahaman (reading for understanding), membaca kritis (critical reading) dan membaca ide (reading for ideas). Adapun membaca telaah bahasa dibagi lagi menjadi membaca bahasa asing (foreign language reading) dan membaca sastra (literary reading).
Menurut Farr, 1969 dalam Soenardi Djiwandono (2008: 117) ada berbagai tingkatan dalam kemampuan membaca pemahaman:
1) Tingkat kemampuan dasar meliputi (1) memahami arti kata-kata sesuai penggunaan dalam wacana, (2) mengenali susunan organisasi wacana dan antar hubungan bagian-bagiannya, (3) mengenali pokok-pokok pikiran yang terungkap dalam wacana, (4) mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya secara eksplisit terdapat dalam wacana.
2) Tingkat kemampuan menengah meliputi (1) memahami arti kata-kata sesuai penggunaan dalam wacana, (2) mengenali susunan organisasi wacana dan antar hubungan bagian-bagiannya, (3) mengenali pokok-pokok pikiran yang terungkap dalam wacana, (4) mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya secara eksplisit terdapat dalam wacana, (5) mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya terdapat dalam wacana meskipun diungkapkan dengan kata-kata yang berbeda, (6) mampu menarik inferensi tentang isi wacana.
3) Tingkat kemampuan membaca lanjut (1) memahami arti kata-kata sesuai penggunaan dalam wacana, (2) mengenali susunan organisasi wacana dan antar hubungan bagian-bagiannya, (3) mengenali pokok-pokok pikiran yang terungkap dalam wacana, (4) mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya secara eksplisit terdapat dalam wacana, (5) mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya terdapat dalam wacana meskipun diungkapkan dengan kata-kata yang berbeda, (6) mampu menarik inferensi tentang isi wacana, (7) mampu mengenali dan memahami kata dan ungkapan-ungkapan untuk memahami nuansa sastra, (8) mampu mengenali dan memahami maksud dan pesan penulis sebagai bagian dari pemahaman tentang penulis.
Membaca pemahaman pada hakikatnya adalah suatu proses membangun pemahaman terhadap wacana tulis. Proses ini terjadi dengan menjodohkan atau menghubungkan skemata pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya dengan isi informasi dalam wacana sehingga terbentuk pemahaman terhadap wacana yang dibaca.
Dalam proses membaca seperti ini, pembaca menggunakan beberapa jenis pemahaman, yaitu pemahaman literal, pemahaman interpretatif, pemahaman kritis, dan pemahaman kreatif (Samsu Somadoya 2011:19).
a) Pemahaman Literal
Menurut Syafi’ie (1994:34) pemahaman literal adalah pemahaman terhadap apa yang dikatakan atau disebutkan penulis dalam teks bacaan. Pemahaman ini diperoleh dengan memahami arti kata, kalimat, paragraf dalam konteks bacaan ini seperti apa adanya.
b) Pemahaman Interpretasi
Menurut Syafi’ie (1994:34), pemahaman interpretasi adalah pemahaman terhadap apa yang dimaksudkan oleh penulis dalam teks bacaan. Pemahaman ini lebih mendalam dibandingkan dengan pemahaman literal. Apabila dalam pemahaman literal pembaca hanya mengenal, dan mengingat apa yang tertulis dalam bacaan, dalam pemahaman interpretasi ini pembaca berusaha mengetahui apa yang dimaksudkan oleh penulis yang tidak secara langsung dinyatakan dalam teks bacaan.
c) Pemahaman Kritis
Menurut Syafi’ie (1994:36) pemahaman kritis adalah pemahaman bacaan yang lebih tinggi tingkatannya dibandingkan dengan pemahaman interpretative. Proses pemahaman kritis melampaui pemahaman interpretatif. Artinya, dalam pemahaman interpretatif, penalaran yang dilakukan pembaca masih berada pada lingkup memahami apa yang dikemukakan oleh penulis, sedangkan dalam pemahaman kritis, disamping pemahaman apa yang dikatakan oleh penulis, pembaca juga memberikan reaksi secara personal.

d) Pemahaman Kreatif
Menurut Syafi’ie (1994:36), pemahaman kreatif adalah pemahaman yang paling tinggi tingkatannya dalam proses membaca. Dalam proses pemahaman kreatif ini, pertama membaca memahami bacaaan secara literal apa yang dikatakan oleh penulis. Kemudian ia mencoba menginterpretasikannya dan memberikan reaksinya berupa penilaian terhadap apa yang dikatakan penulis. Selanjutnya, ia mengembangkan pemikiran-pemikirannya sendiri untuk membentuk gagasan baru, mengembangkan wawasan baru, pendekatan baru, serta pola-pola pikirnya sendiri.
Henry Guntur Tarigan(2008:58) berpendapat bawa membaca pemahaman (reading for understanding) adalah sejenis membaca yang bertujuan untuk memahami :
1) Standar-standar atau norma-norma kesastraan (literary standards);
2) Resensi kritis ( critical review);
3) Drama tulis (printed drama);
4) Pola-pola fiksi ( patterns of fiction).
Menurut I Gusti Ngurah Oka (1983:71-73) macam-macam pengajaran membaca mencakup :
1) Pengajaran membaca permulaan
Pengajaran rnembaca ini disajikan kepada siswa tingkat-tingkat permulaan Sekolah Dasar. Tujuannya adalah membinakan dasar-dasar mekanisme membaca, seperti misalnya kemampuan mengasosiasikan huruf dengan bunyi-bunyi bahasa yang diwakilinya, membina gerak mata memhaca dari kiri ke kanan, membaca kata-kata, dan kalimat-kalimat sederhana dan lainnya.
2) Pengajaran membaca nyaring
Pengajaran membaca nyaring ini di satu pihak dianggap merupakan bagian atau lanjutan dari pengajaran membaca permulaan, dan di pihak lain dipandang.juga sebagai pengajaran membaca tersendiri yang sudah tergolong tingkat lanjut, misalnya membaca sebuah kutipan dengan suara nyaring.
3) Pengajaran membaca dalam hati
Pengajaran membaca ini membina siswa agar mereka mampu membaca tanpa suara dan mampu memahami isi tuturan tertulis yang dibacanya, baik isi pokoknya maupun isi bagiannya. Termasuk pula isi yang tersurat dan tersirat.
4) Pengajaran membaca pemahaman
Dalam praktiknya, pengajaran membaca pemahaman hampir tak berbeda dari pengajaran membaca dalam hati.
5) Pengajaran membaca bahasa
Pengajaran membaca ini pada dasarnya merupakan alat dari pengajaran bahasa. Guru-guru memanfaatkannya untuk membina kemampuan bahasa siswa.
6) Pengajaran Membaca Teknik
Pengajaran membaca teknik memusatkan perhatiannya kepada pembinaan-pembinaan siswa menguasai teknik--teknik membaca yang dipandang patut pelaksanaannya, pengajaran membaca teknik sering kali berimpit dengan pengajaran membaca nyaring, dan dengan pengajaran membaca permulaan. Di pihak lain, pengajaran membaca banyak pula terlibat dengan cara-cara membaca atau tuturan tertulis yang tergolong rumit. Lebih lanjut, dikatakan bahwa selain dari keenam macam membaca di atas, secara sistematis ada pula lembaga pendidikan yang dilaksanakan pengajaran membaca cepat yang membina kecepatan membaca.
Menurut Imam Syafi’ie (1993: 49-52) strategi dan teknik pengajaran keterampilan membaca adalah keterampilan membaca akan dapat dikuasai oleh siswa dengan baik apabila mereka banyak berlatih membaca. Untuk itu, perlu dipikirkan strategi yang tepat. Salah satunya ialah memastikan kegiatan siswa dalam belajar membaca tidak hanya dilakukan di dalam kelas dan jam pelajaran membaca saja, melainkan juga dilakukan dalam berbagai kesempatan, baik di sekolah maupun di rumah. Guru Bahasa Indonesia dapat menyusun perencanaan kegiatan membaca untuk para siswa, bekerjasama dengan guru-guru bidang studi yang lain. Untuk menunjang pelaksanaan pengajaran membaca tentunya diperlukan perpustakaan sekolah yang memadai, tersedianya buku-buku bacaan, baik buku sastra ataupun pengetahuan umum sangat diperlukan.
Berdasarkan hal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa membaca itu memerlukan beberapa strategi adan teknik berlatih sehingga proses membaca dapat berjalan dengan baik.
d. Pengertian Membaca Pemahaman
Ditinjau dari pelaksanaannya, membaca pemahaman lebih cenderung tidak disuarakan, sehingga semua alat ucap tidak dipakai agar dapat memahami informasi atau pesan yang disampaikan dalam bacaan bisa lebih cermat tentunya dengan kecepatan yang wajar. Sebagaimana yang diungkapkan Henry Guntur Tarigan (2008: 30) menyatakan bahwa kegiatan membaca dalam hati hanya mempergunakan pengaktifan mata dan ingatan. Dari segi keintensifannya, kegiatan membaca dalam hati lebih cepat daripada membaca yang disuarakan, karena membaca dalam hati lebih cepat daripada membaca yang disuarakan, sehingga proses penangkapan idea atau gagasan lebih cepat daripada membaca yang disuarakan.
Kualitas pemahaman juga dipengaruhi oleh skemata pembaca masing-masing. Aminudin (1997: 104) menyatakan bahwa membaca pemahaman merupakan proses memahami paparan dalam bacaan dan menghubungkan gambaran dalam bacaan dengan skemata pembaca untuk memperoleh informasi secara menyeluruh. Pendapat serupa dikemukakan oleh Gillet (1994: 35) bahwa pemahaman merupakan perpaduan informasi baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Pemahaman sesuatu yang baru dengan melibatkan pengetahuan yang tersimpan dalam memori yang disebut skemata.
Membaca pemahaman berkaitan erat dengan usaha memahami hal-hal penting dari apa yang dibacanya. Yang dimaksud membaca pemahaman atau Reading Comprehention adalah kemampuan membaca untuk mengerti ide pokok, detail, penting, dan seluruh pengertian (Agustinus Suyoto, 2009). Pemahaman ini berkaitan erat dengan kemampuan mengingat bahan yang dibacanya. Usaha efektif untuk memahami dan mengingat lebih lama dapat dilakukan dengan: a) mengorganisasikan bahan yang dibacanya dalam kaitan yang mudah dipahami; dan b) mengaitkan fakta yang satu dengan fakta yang lain atau menghubungkannya dengan fakta dan konteks.
Menurut Rubin (1982:106), membaca pemahaman adalah proses intelektual yang kompleks yang mencakup dua kemampuan utama, yaitu penguasaan makna kata dan kemampuan berpikir tentang konsep verbal
Senada dengan itu, Syafii (1999:35) menyatakan bahwa membaca pada hakikatnya adalah suatu proses membangun pemahaman wacana tulis. Proses ini terjadi dengan cara menjodohkan atau menghubungkan skemata pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya dengan isi informasi dalam wacana sehingga membentuk pemahaman terhadap wacana yang dibaca.
Smith (1982:45) menyatakan bahwa membaca pemahaman adalah suatu kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh pembaca untuk menghubungkan informasi baru dengan informasi lama dengan maksud untuk mendapat pengetahuan baru.
Menurut Gillet (1994:34) membaca pemahaman melibatkan pengetahuan latar, pengetahuan tentang struktur teks, dan suatu pencarian informasi dalam teks secara aktif. Agak berbeda dengan Henry Guntur Tarigan (2008: 58) memberikan batasan membaca pemahaman sebagai kegiatan membaca yang bertujuan untuk memahami standar-standar atau norma-norma kesastraan (literary standars), resensi kritis (critical review), drama tulis (printed drama), dan pola-pola fiksi (pattern of fiction). Membaca kritis menurut Albert sebagaimana yang dikutip H.G. Tarigan (2008:89) membaca kritis adalah sejenis kegiatan membaca yang dilakukan secara bijaksana, penuh tenggang hati, mendalam evaluatif, serta analitis dan bukan hanya mencari kesalahan. Membaca ide masih menurut H.G. Tarigan (2008: 11) membaca yang bertujuan untuk mencari, memperoleh serta memanfaatkan ide-ide yang terdapat dalam bacaan.
Kemudian menurut Anderson (1972) dalam H.G. Tarigan (2008: 117) menyatakan bahwa membaca ide merupakan kegiatan membaca ide merupakan kegiatan membaca yang bertujuan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dari suatu bacaan; mengapa hal itu merupakan judul atau topik yang baik; masalah apa yang dikupas atau dibentangkan dalam bacaan tersebut ; hal - hal apa yang dipelajari dan dilakukan oleh si tokoh.
Kegiatan membaca ini menuntut pembaca untuk membaca dengan kritis. Membaca kritis dapat dilakukan dengan membaca sekilas isi bacaan, kemudian mengajukan pertanyaan seputar isi bacaan tentang informasi yang terkandung dalam bacaan. Setelah itu dilanjutkan membaca kembali secara teliti setelah mengetahui informasi penting yang terdapat dalam wacana. Tahap berikutnya meringkas isi bacaan dan diakhiri dengan menguji diri sendiri tentang apa-apa yang sudah dibaca.
Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa membaca pemahaman adalah proses memahami bacaan pada hal-hal yang penting dengan cermat dan teliti tanpa disuarakan sesuai dengan apa yang dibacanya.
Berkaitan dengan aspek mekanis membaca pemahaman, Burmeister (1978: 45), seorang pakar pendidikan bahasa Universitas Texas di El Paso, dalam Improving Speed of Comprehension in Reading mengawali uraiannya dengan melontarkan beberapa pertanyaan. Bagaimana mata seseorang bergerak ketika mereka membaca? Apakah mata tersebut bergerak dengan lembut, seperti ketika mengawasi seekor burung yang sedang terbang atau menyaksikan pesawat terbang yang sedang mendarat? Atau apakah mata bergerak, berhenti, bercorak, berhenti lagi, bergerak lagi dan berhenti lagi?
Penelitian dalam ranah ini jelas menarik bagi para ilmuwan pendidikan yang banyak berhubungan dengan masalah penelitian akademis, sedangkan hasilnya diperkirakan banyak menarik minat para instruktur pengajaran bahasa yang lebih banyak berkiprah dalam ranah yang jauh lebih bersifat praktikal.
Salah satu metodologi yang, digunakan untuk meneliti pergerakan mata. yang menurut penggagasnya dapat dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja dalam kelas pengajaran bahasa, adalah dengan meminta salah seorang memperhatikan mata seseorang ketika dia sedang membaca. Apakah mata si pembaca bergerak dengan lembut? Jika mata tersebut bergerak dengan lembut, maka dapat dipastikan bahwa dia tidak sedang membaca.
Lebih jauh pakar pendidikan ini mengatakan bahwa dalam kenyataannya, tentu saja berdasarkan hasil penelitiannya selama bertahun-¬tahun, kata (atau kata-kata) hanya dapat dibaca apabila mata tidak bergerak. Hanya apabila mata berhenti bergerak, atau terpusat pada satu bagian dari kata, pada satu kata, atau pada satu frasa, maka barulah si pembaca mendapatkan apa yang dinamakan citra visual. Berikutnya, jika memang dikehendaki mata akan bergerak untuk kemudian berhenti lagi jika si pembaca ingin mendapatkan citra visual yang lain. Atau dengan kata lain, dalam ,membaca, mata sesorang pembaca haruslah berhenti, bergerak, berhenti lagi, bergerak lagi, dan seterusnya, jika dia menginginkan memahami apa yang dibacanya.
Dalam keadaan sebenarnya, khususnya lanjutan dan bukannya hanya satu kata saja, proses berhenti ketika seseorang membaca secara berkelanjutan dan bukannya hanya satu kata saja, proses berhenti dan bergerak ini mungkin memerlukan waktu tidak lebih dari seperenam detik. Spache (1962: 23) dalam ls This A Breakthrough in Reading? menyatakan bahwa lebar rentang jarak yang diperlukan sepasang mata dalam membaca tidak dapat melebihi tiga kata, atau dengan kata lain seorang pembaca yang paling cepat sekali pun, berdasarkan hasil penelitian ini, tidak akan mampu membaca lebih banyak dan tiga kata dalam satu periode tertentu sebelum dia menggerakkan kembali matanya menuju ke kelompok kata yang lain.
Mata pembaca harus bergerak pada kumpulan tiga kata berikutnya, setelah membaca tiga kata, pergerakan inilah yang oleh para pakar pendidikan bahasa dinamakan saccadic sweep, sebuah pergerakan yang membutuhkan waktu paling cepat sekitar 1/30 detik. Waktu ini hanya dapat dilakukan oleh seorang pembaca yang baik dan tentunya waktu ini akan bertambah jika dilakukan oleh pembaca yang kurang baik.
Jadi, jika hasil kedua penelitian ini digabungkan akan didapatkan bahwa jumlah waktu total yang dibutuhkan oleh seorang pembaca yang baik untuk membaca tiga buah kata dan kemudian berpindah pada kelompok tiga kata berikutnya adalah seperenam detik ditambah sepertiga puluh detik atau sama dengan seperlima detik. Atau dengan kata lain, dalam satu detik, seorang pembaca yang baik diperkirakan mampu membaca sekitar 15 kata, atau sekitar 900 kata dalam satu menitnya. Tentunya dengan pemahaman yang baik pula.
Dari uraian pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa membaca pemahaman adalah suatu kombinasi dari pengetahuan huruf, intellect, emosi yang dihubungkan dengan pengetahuan si pembaca (background knowledge) untuk memahami suatu pesan yang tertulis.
Turner (1988: 159) mengungkapkan bahwa seorang pembaca dikatakan memahami bahan bacaan secara baik apabila pembaca dapat:
(1) Mengenal kata-kata atau kalimat yang ada dalam bacaan dan mengetahui maknanya,
(2) Menghubungkan makna dari pengalaman yang dimiliki dengan makna yang ada dalam bacaan,
(3) Memahami seluruh makna secara kontekstual, dan
(4) Membuat pertimbangan nilai isi bacaan berdasarkan pengalaman membaca.
Pearson dan Jhonson dalam Burns, Roe da Ross,(1996:207) menyatakan bahwa aktivitas membaca pemahaman merupakan suatu kesatuan proses dan serangkaian proses yang mempunyai ciri tersendiri . Membaca pemahaman juga merupakan rekonstruksi pesan yang terdapat dalam teks yang dibaca sehingga dalam proses membaca terjadi interaksi bahasa dan pikiran.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa membaca pemahaman merupakan suatu proses pemerolehan makna yang secara aktif melibatkan pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki oleh pembaca serta dihubungkan dengan isi bacaan. Dengan demikian, terdapat tiga hal pokok dalam membaca pemahaman, yaitu (1) pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki tentang topik, (2) menghubungkan pengetahuan dan pengalaman dengan teks yang akan dibaca, dan (3) proses memperoleh makna secara aktif sesuai dengan pandangan yang dimiliki.

e. Tujuan Membaca Pemahaman
Menurut Rivers dan Temperly (1978) dalam Samsu Somadayo (2011:11) tujuan utama dalam membaca pemahaman adalah memperoleh pemahaman. Membaca pemahaman adalah kegiatan membaca yang berusaha memahami isi bacaan/teks secara menyeluruh. Seorang dikatakan memahami bacaan secara baik apabila memiliki kemampuan sebagai berikut.
(1) Kemampuan menangkap arti kata dan ungkapan yang digunakan penulis,
(2) Kemampuan menangkap makna tersurat dan makna tersirat, dan
(3) Kemampuan membuat simpulan. Semua aspek-aspek kemampuan membaca tersebut dapat dimiliki oleh seorang pembaca yang telah memiliki tingkat kemampuan membaca tinggi. Namun, tingkat pemahamannya tentu saja terbatas. Artinya, mereka belum dapat menangkap maksud persis sama dengan yang dimaksud oleh penulis.
Senada dengan itu, Nutall (1982:167) menyatakan bahwa tujuan membaca merupakan bagian dari proses membaca pemahaman, pembaca memperoleh pesan atau makna dari teks yang dibaca, pesan atau makna tersebut dapat berupa informasi, pengetahuan, dan bahkan ungkapan pesan senang atau sedih.
Selain itu, Anderson (1972:208) menyatakan bahwa membaca pemahaman memiliki tujuan untuk memahami isi bacaan dalam teks. Tujuan tersebut antara lain:
(1) Membaca untuk memperoleh rincian-rincian dan fakta-fakta
(2) Membaca untuk mendapatkan ide pokok,
(3) Membaca untuk mendekatkan urutan organisasi teks,
(4) Membaca untuk mendapatkan kesimpulan,
(5) Membaca untuk mendapatkan klasifikasi, dan
(6) Membaca untuk membuat perbandingan atau pertentangan.
Keterampilan membaca bukanlah sekadar kemampuan mengartikan sintaksis dan leksikal sebuah teks melainkan juga kemampum menyadari kebermaknaan dan tujuan informasi. Berbicara tentang tujuan informasi, Morrow (dalam Sri Utari Subyakto-Nabahan, 1993: 164-165) menyatakan bahwa tujuan membaca adalah mencari informasi yang: 1) kognitif dan intelektual, yaitu yang digunakan seseorang untuk menambah keilmuannya sendiri, (2) referensi dan faktual, yaitu yang digunakan seseorang untuk mengetahui fakta-fakta yang nyata di dunia ini, (3) afektif dan emosional, yaitu yang digunakan seseorang untuk mencari kenikmatan dalam membaca.
Berbicara tentang tujuan membaca Burn, 1996 (dalam Farida Rahim 2008:11) mengungkapkan bahwa tujuan membaca mencakup 1) kesenangan; 2) menyempurnakan membaca nyaring; 3) menggunakan strategi tertentu; 4) memperbaharui pengetahuannnya tentang suatu topik; 5) mengaitkan informasi baru dengan informasi yang telah diketahuinya; 6) memperoleh informasi untuk laporan lisan atau tertulis; 7) mengkonfirmasikan atau menolak prediksi; 8) menampilkan suatu eksperimen; dan 9) menjawab pertanyaan yang spesifik.
Suyatno (2004: 107) mengungkapkan bahwa tujuan membaca pemahaman yaitu siswa dapat memahami bacaan secara intensif, tanpa bersuara, dan tuntas. Siswa memahami bacaan tertentu tanpa harus berkomat-kamit, sangat rukun, sangat tekun, dan analitis. Kemudian siswa dapat menjawab pertanyaan bacaan sesulit apapun.
Secara terperinci Anderson yang dikutip oleh Henry Guntur, (2008:9-10) mengemukakan tujuan utama dalam membaca yaitu untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Maka, arti (meaning) erat sekali berhubungan dengan maksud tujuan, atau intensif kata dalam membaca. Berikut ini beberapa tujuan yang penting dalam kegiatan membaca pemahaman.
a ) Membaca untuk menemukan atau mengetahui penemuan-penemuan yang telah dilakukan oleh si tokoh; apa-apa yang telah dibuat oleh sang tokoh; apa yang telah terjadi pada tokoh khusus, atau untuk memecahkan masalah-masalah yang dibuat oleh sang tokoh.
b) Membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang baik dan menarik, masalah yang terdapat dalam cerita, apa-apa yang dipelajari atau yang dialami sang tokoh, dan merangkum hal-hal yang dilakukan oleh sang tokoh untuk mencapai tujuan
c) Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada setiap bagian cerita. apa yang terjadi mula-mula pertama, kedua, dan ketiga/seterusnya, setiap tahap dibuat untuk memecahkan suatu masalah, adegan-adegan dan kejadian-kejadian buat dramatis.
d) Membaca untuk menemukan serta mengetahui mengapa para tokoh merasakan seperti cara mereka itu, apa yang hendak diperlihatkan oleh sang pengarang kepada para pembaca mengapa para tokoh berubah, kualitas yang dimiliki para tokoh yang membuat mereka berhasil atau gagal.
e) Membaca untuk menemukan serta mengetahui apa-apa yang tidak bisa, tidak wajar, mengenai seseorang tokoh, apa yang lucu dalam cerita atau apakah cerita itu benar atau tidak benar.
f) Membaca untuk menemukan apakah sang tokoh berhasil atau hidup dengan ukuran-ukuran tertentu, apakah kita ingin berbuat seperti yang diperbuat oleh sang tokoh. atau bekerja seperti cara sang tokoh bekerja dalam cerita itu.
g) Membaca untuk menemukan bagaimana caranya sang tokoh berubah, bagaimana hidupnya berbeda dari kehidupan yang kita kenal, bagairnana dua cerita mempunyai perasaan, bagaimana sang tokoh menyerupai pembaca.
Bertolak dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan membaca pemahaman adalah menemukan, memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan, dan mengetahui topik yang baik dan menarik yang ada dalam cerita.
f. Prinsip-prinsip Membaca Pemahaman
Mc Laughlin dan Allen (2002) dalam Samsu Somadayo (2011: 16), prinsip-prinsip membaca pemahaman yang didadasarkan pada penelitian yang paling mempengaruhi pemahaman membaca yakni:
(1) Pemahaman merupakan proses konstruksi sosial,
(2) Keseimbangan kemahiraksaraan,
(3) Guru membaca yang profesional (unggul) memengaruhi belajar siswa,
(4) Pembaca yang baik memegang peranan yang strategis dan berperan aktif dalam proses membaca,
(5) Membaca hendaknya terjadi dalam konteks yang bermakna,
(6) Siswa menemukan manfaat membaca yang berasal dari berbagai bahan bacaan pada berbagai tingkat kelas,
(7) Perkembangan kosa kata dan pembelajaran memengaruhi pemahaman pembaca,
(8) Pengikutsertaan adalah suatu faktor kunci pada proses pemahaman,
(9) Strategi dan keterampilan membaca bisa diajarkan, dan
(10)Asesmen yang dinamis yang menginformasikan pembelajaran membaca
pemahaman.
Brown (1984: 54) menyatakan bahwa prinsip utama pembaca yang baik ialah pembaca yang berpartisipasi aktif dalam proses membaca. Mereka mempunyai tujuan yang jelas serta memonitor tujuan membaca mereka dari teks bacaan yang mereka baca. Pembaca yang baik menggunakan strategi pemahaman untuk mempermudah membangun makna. Strategi ini mencakup tinjauan, membuat pertanyaan sendiri, membuat hubungan, memvisualisasikan, mengetahui bagaimana membentuk makna, memonitor, meringkas, dan mengevaluasi.
Anderson dalam Burns,dkk (1996: 43), pembaca yang baik bisa mengintergrasikan informasi dengan terampil dalam teks dengan pengetahuan sebelumnya tentang topik. Sebaliknya, pembaca yang tidak baik mungkin terlampau menekankan simbol-simbol dalam teks atau terlampau menekankan pengetahuan sebelumnya tentang topik.
Bertolak dari beberapa ahli tersebut di atas, dari beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa membaca pemahaman adalah berpartisipasi aktif dalam proses memahami sebuah topik dalam konteks. Prinsip-prinsip yakni pemahaman terhadap proses kontruktivitis sosial, keseimbangan kemahiraksaraan, serta strategi dan keterampilan yang bisa diajarkan guru dalam pembelajaran membaca pemahaman.
g. Manfaat Membaca Pemahaman
Membaca pemahaman memiliki banyak manfaat. DeBoer dan Dallmann (1966: 7) menjelaskan bahwa “Reading is an important means of introducing the child to the surrounding; world. In this fact, we find opportunity as well as our Challenge. Through reading the child can view ever-widening horizons and explore ever-new areas in the world of things, people, and events". Dengan kata lain, membaca sebagai alat untuk memperkenalkan anak kepada dunia. Melalui kegiatan membaca, siswa akan memperoleh manfaat tentang pengetahuan dan perkembangan yang ada di dunia (membuka cakrawala dunia).
Secara lebih lengkap, DR. Aidh bin Abdullah al-Qarni (dalam Dwi Putri (2006 ) menambahkan bahwa manfaat membaca yaitu:
1) Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan.
2) Ketika sibuk membaca, seseorang terhalang masuk ke dalam kebodohan.
3) Kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang-orang malas dan tidak mau bekerja.
4) Dengan sering membaca, orang bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata.
5) Membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir.
6) Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman.
7) Dengan membaca, orang mengambil manfaat dari pengalaman orang lain, kearifan orang bijaksana dan pemahaman para sarjana.
8) Dengan sering membaca, orang mengembangkan kemampuannya; baik untuk mendapat dan memproses ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dan aplikasinya dalam hidup.
9) Membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pemikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia-sia.
10) Dengan sering membaca, orang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai tipe dan model kalimat; lebih lanjut lagi ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan untuk memahami apa yang tertulis "diantara baris demi baris" (memahami apa yang tersirat).
Berpijak dari hal di atas di atas, dapat disimpulkan bahwa manfaat membaca adalah dapat mengembangkan kemampuannya baik untuk mendapat dan memproses ilmu pengetahuan maupun mempelajari berbagai disiplin ilmu dan aplikasinya dalam hidup.
h. Aspek-aspek Penilaian Keterampilan Membaca Pemahaman
Keterampilan seseorang dapat diukur melalui tes. baik tes yang bersifat subjektif maupun objektif. Soenardi Djiwandono (1996: 64-65) menyatakan bahwa tujuan pokok penyelenggaraan tes membaca adalah mengetahui dan mengukur tingkat keterampilan memahami makna tersurat, tersirat maupun implikasi dari isi suatu bacaan. oleh karenanya dapat dipilih tes bentuk subjektif maupun objektif`. Tes bentuk subjektif dapat dibuat dalam bentuk pertanyaan yang dijawab melalui jawaban panjang dan lengkap atau sekadar jawaban pendek. Berbeda dengan tes objektif dapat disusun dalam bentuk tes melengkapi, menjodohkan, pilihan ganda, atau bentuk-bentuk gabungan.
Burhan Nurgiyantoro (2001: 253) mengungkapkan bahwa pengukuran kegiatan membaca dapat mencakup dua segi yaitu keterampilan dan kemauan. Keterampilan membaca lebih berkaitan dengan aspek kognitif yang mencakup enam tingkatan, yaitu (1) tes keterampilan membaca tingkat ringan, (2) tes keterampilan membaca tingkat pemahaman, (3) tes keterampilan membaca tingkat penerapan, (4) tes keterampilan membaca tingkat analisis, (5) tes keterampilan membaca tingkat sintesis, (6) tes keterampilan membaca tingkat evaluasi, Faktor kemauan berkaitan dengan aspek afektif. Jadi, membaca pemahaman pada siswa SMA/MA ada pada tes membaca tingkat ketiga yaitu tes keterampilan membaca tingkat pemahaman lanjut.
Sebagaimana halnya tes untuk keterampilan berbahasa, tes untuk mengetahui tingkat keterampilan memahami isi bacaan dapat diselenggarakan dengan menggunakan berbagai format tes yang tersedia. Tes membaca dapat disajikan dalam bentuk tes subjektif dengan pertanyaan-pertanyaan yang wajib melalui jawaban panjang dan lengkap, atau sekadar jawaban-jawaban pendek. Tes membaca juga dapat disajikan dalam bentuk objektif, setelah melengkapi, menjodohkan, pilihan ganda, atau bentuk-bentuk gabungan.
Menurut Rockhan dan Martutik (1991: 42-43) tes membaca dimaksudkan untuk mengukur keterampilan tes dalam memahami suatu bacaan. Untuk mengukur keterampilan memahami bacaan diperlukan bahan tes yang berupa bacaan. Tes membaca merupakan tes bahasa untuk mengukur keterampilan seseorang dalarn memahami suatu bacaan yang di dalamnya melibatkan aspek: pemahaman bahasa dan lambang tertulis, gagaasan, serta nada dan gaya bahasa.
Sikap dan kemauan membaca yang bagian afektif itu akan sangat mempengaruhi dua aspek yang lain, kognitif dan psikomotorik. Dalam kaitannya dengan penngajaran membaca di sekolah, kita juga perlu "mengukur" sikap dan kemauan membaca siswa. Penilaian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan masalah sikap tidak mempergunakan teknik tes, melainkan teknik nontes.
Pelaksanakan tes membaca pemahaman di atas, diperlukan indikator keterampilan membaca pemahaman. Berkaitan dengan indikator tersebut, David Russel dalam Ahmad Slamet Harja Sujana, (1985: 65-66) menyatakan bahwa kompetensi membaca adalah kemampuan memberi respons yang tepat dan akurat terhadap tuturan tertulis yang dibaca, termasuk di dalamnya adalah: (1) keterampilan memberi respons komunikatif terhadap kata-kata urutan kalimat yang diamati pada permukaan bacaan atau yang sering disebut kemampuan membaca yang tersurat, (2) keterampilan memberikan interpretatif terhadap hal-hal yang tersimpan di sela-sela atau dibalik permukaan bacaan atau yang sering disebut dengan kemampuan membaca tersorot, dan (3) keterampilan memberikan respons evaluatif imajinatif terhadap keseluruhan bacaan.
Sementara itu, Smith (2006) dalam massofa (2008) mengelompokkan tingkat keterampilan membaca pemahaman menjadi 4 kategori, yaitu 1) pemahaman literal, 2) interpretasi, 3) membaca kritis. dan 4) membaca kreatif.
Berbeda dengan Smith, Anderson (1972: 106) membedakan tingkat pemahaman atas tiga tingkatan yaitu: (1) membaca barisan, (2) membaca antarbarisan, dan (3) membaca di luar barisan. Membaca barisan diartikan sebagai memahami arti harfiah, membaca antarbarisan diartikan menginterpretasikan maksud tulisan, dan membaca di luar barisan diartikan menarik kesimpulan dari generalisasi. Selanjutnya, Anderson menyatakan bahwa ada tujuh kemampuan yang terkandung di dalamnya, yaitu: (1) kemampuan mengetahui makna kata, (2) kemampuan mengetahui fakta, (3) kemampuan menentukan tema pokok, (4) kemampuan memahami hubungan timbal-balik, (5) kemampuan menganalisis (6) kemampuan menyimpulkan, dan (7) kemampuan melihat tujuan pengarang.
Sehubungan dengan kompetensi yang dituntut dalam membaca, Munby dalam Grellet, (1986:4-5) menyatakan bahwa ada sembilan belas kompetensi yang dituntut agar seseorang dapat membaca dengan baik. Selanjutnya, dia menjelaskan bahwa indikator keterampilan membaca tersebut dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam (1) menetapkan ide pokok, (2) memilih butir-butir penting, (3) mengikuti petunjuk-petunjuk, (4) menentukan organisasi bahan bacaan, (5) menentukan citra visual dan citra lainnya dalam bacaan, (6) menarik kesimpulan-kesimpulan, (7) menduga dan meramalkan dampak dari kesimpulan, (8) merangkum bacaan, (9) membaca fakta dari pendapat, (10) memperoleh informasi dari aneka sarana khusus, seperti ensiklopedia.
Berbeda dengan pendapat di atas, Davies dan Widdowson (1974: 167¬) menyatakan bahwa indikator-indikator untuk mengukur kemampuan membaca pemahaman terdiri atas: (1) acuan langsung yang dirinci dalam kemampuan memahami makna kata, istilah, ungkapan, kemampuan menangkap informasi dalam kalirnat dan kemampuan menjelaskan istilah; (2) penyimpulan yang dirinci dalam kemampuan menemukan sifat hubungan suatu ide dan kemampuan menangkap isi bacaan baik tersurat maupun tersirat; (3) dugaan yang dirinci dalam kemampuan menduga pesan yang terkandung dalam bacaan clan kemampuan menghubungkan teks dengan situasi komunikasi, (4) penilaian, yang dirinci dalam kemampuan menilai isi teks, kemampuan menilai ketepatan organisasi bacaan, dan kemampuan menilai ketepatan pengungkapan informal.
Aktivitas membaca melibatkan proses mental (berpikir) seperti penilaian, penalaran, pertimbangan, pengkhayalan, dan pemecahan masalah. Dalam kegiatan membaca, pembaca akan melibatkan dirinya secara aktif dalam bacaan, mengolah inf'ormasi visual clan nonvisual, serta merekonstruksikan isi tersurat dan tersirat apa-apa yang terkandung dalam bacaan. Pembaca melibatkan beberapa kemampuan seperti kemampuan linguistik, psikologis, dan perseptual. Dalam kaitannya dengan kajian penelitian ini, pemahaman yang dinilai mencakup : (1) pemahaman literal ; (2) pemahaman interpretatif; (3) pemahaman kritis, dan (4) pemahaman kreatif. Sementara itu, aspek yang diukur dari masing-masing pemahaman di atas dikembangkan peneliti dengan bersumber pada teori atau konsep-konsep yang telah dipaparkan.
Bertolak dari paparan tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa kompetensi membaca siswa dikatakan baik atau tidak, dapat ditentukan melalui kecekatan mereka dalam: (a) mengingat dan mengenali kembali apa yang tertulis dalam teks bacaan, (b) memahami informasi yang dinyatakan secara tersurat (eksplisit) dalam bacaan, (c) memahami informasi yang dinyatakan secara tersirat (implisit). (d) membuat kesimpulan berdasarkan bahan bacaan, (e) menganalisis beberapa informasi yang diperoleh dari bahan bacaan. (f) mengorganisasi informasi yang diperoleh dari bacaan, (g) menilai bahan bacaan yang telah dibaca (h) mengapresiasi bahan bacaan yang telah dibaca.
Berpijak pemaparan konsep teoretik di atas, dapat disimpulkan bahwa sebagai suatu kecekatan pembaca (dalam hal ini siswa) dalam mendayagunakan seluruh fungsi kognitif mentahnya untuk mernahami lambang/simbol bahasa tertulis seperti kata, frasa, kalimat yang terdapat dalam bacaan, baik secara tersirat (pemahaman literal) maupun tersirat (pemahaman interpretasi, kritis, kreatif) dengan tepat. Jadi, kompetensi membaca pemahaman merupakan aktivitas dari seluruh potensi fisik maupun psikologis.
Tes subjektif digunakan untuk mengetes kompetensi membaca dalam penelitian ini, yang berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaiatan dengan teks bacaan. Responden diminta membaca teks bacaan yang berbeda-beda (teks bacaan tidak harus utuh ada yang berupa penggalan dari sebuah wacana) yang telah ditetapkan penulis. Setiap teks bacaan yang berbeda diikuti beberapa nomor pernyataan.
Tingkatan kognitif dari hasil belajar membaca ini ditentukan dengan berdasarkan pada acuan tingkatan hasil belajar kognitif menurut Taksonomi Bloom, yaitu: (1) ingatan, (2) pemahaman, (3) penerapan, (4) analisis, (5) sintesis, dan (6) evaluasi. Sementara itu indikator yang diukur menurut tingkatan hasil belajar tersebut dapat dijelaskan berikut ini.
Indikator untuk mengukur aspek ingatan responden pada teks bacaan yang telah dibaca adalah mereka harus mampu menyebutkan kembali fakta, definisi, atau konsep yang terdapat dalam teks bacaan; sedangkan, untuk mengukur aspek pemahaman terhadap teks bacaan yang telah dibaca adalah mereka harus mampu memahami bacaan, mencari hubungan antarhal, sebab¬ akibat, dan persamaan antarhal.
Aspek penerapan diukur atau diindikator melalui kemampuan pembaca dalam menerapkan atau memberi contoh. Sementara itu, untuk mengukur aspek analisis teks bacaan, responden harus mampu menganalisis, atau mengidentifikasi informasi.
Kemampuan pembaca dalam menghubungkan konsep atau masalah yang terdapat dalam teks bacaan merupakan indikator untuk mengukur aspek sintesis, dan aspek evaluasi diukur melalui kemampuan pembaca dalam memberikan penilaian terhadap isi wacana.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek penilaian keterampilan membaca pemahaman adalah keterampilan memberi respons yang tepat dan akurat terhadap tuturan tertulis yang dibaca, yang kedalamannya termasuk: (1) keterampilan memberi respons komunikatif terhadap kata-kata urutan kalimat yang diamati pada permukaan bacaan, (2) keterampilan memberikan interpretatif terhadap hal-hal yang tersimpan di sela-sela atau dibalik permukaan bacaan, (3) keterampilan memberikan respons evaluatif-imajinatif terhadap keseluruhan bacaan.
2. Hakikat Pendekatan Quantum Learning
a. Pengertian Pendekatan
Pendekatan adalah seperangkat asumsi korelasi yang menangani hakikat pengajaran dan pembelajaran bahasa. Pendekatan memerikan hakikat pokok bahasan yang diajarkan (Depdiknas, 2007:70).
Iskandar Wasid dan Dadang Sunendar (2009:40) mengungkapkan bahwa pendekatan merupakan sikap atau pandangan tentang sesuatu, yang biasanya berupa asumsi yang saling berkaitan.
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach), dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach) (Abin Syamsuddin Makmun, 2003: 26)
Imam Syafi’i (1993:16) menjelaskan bahwa istilah pendekatan dalam pengajaran bahasa mengacu pada teori-teori tentang hakikat bahasa dan pembelajaran yang berfungsi sebagai landasan dan prinsip pengajaran bahasa. Setiap pendekatan dalam pengajaran bahasa mempunyai karakteristik tertentu.
Pendekatan berada pada tingkat yang tertinggi, yang kemudian diturunkan atau dijabarkan dalam bentuk metode. Selanjutnya metode dituangkan atau diwujudkan dalam sebuah teknik.
Metode merupakan rencana keseluruhan bagi penyajian bahan bahasa secara rapi dan tertib, yang tidak ada bagian-bagiannya yang dikontradiksi, dan kesemuanya itu didasarkan pada pendekatan yang dipilih. Pendekatan bersifat aksiomatis sedangkan metode bersifat prosedural. Di dalam satu pendekatan mungkin terdapat banyak metode.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan adalah sudut pandang terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.
b. Jenis-jenis Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran yang dilaksanakan guru di dalam kelas ada bermacam-macam (Andayani, 2009: 2) antara lain:
1) Pendekatan Kontekstual
Pendekatan kontekstual adalah sebuah konsep pembelajaran yang membantu guru menghubungkan kegiatan dan bahan ajar mata pelajarannya dengan situasi nyata. Situasi nyata yang disajikan dalam pembelajaran adalah situasi nyata yang benar-benar dialami dalam kehidupan siswa. Penerapan pendekatan ini dapat memotivasi siswa untuk dapat menghubungkan pengetahuan dan terapannya dengan kehidupan sehari-hari siswa sebagai anggota keluarga dan bahkan sebagai anggota masyarakat.
2) Pendekatan Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran koopertif adalah adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang saling silih asuh untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan permusuhan, sebagai latihan hidup di masyarakat.
3) Pendekatan Pembelajaran Quantum Learning
Dalam pembelajaran, Quantum Learning merupakan interaksi yang mengubah energi menjadi "cahaya". Sebagai pelajar tujuannya adalah meraih sebanyak mungkin cahaya, interaksi, hubungan, inspirasi agar menghasilkan energi cahaya.
4) Pendekatan Pembelajaran Terpadu
Pembelajaran terpadu memiliki satu tema aktual, dekat dengan dunia siswa, dan ada kaitannya dengan dunia siswa, dan ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Tema ini menjadi alat pemersatu materi yang beragam dari berbagai materi pelajaran.
Berdasarkan jenis pendekatan tersebut di atas, maka dapat ditarik simpulan bahwa dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar mempunyai beberapa cara yaitu: pendekatan kontekstual, pembelajaran kooperatif, pembelajaran quantum learning, dan pembelajaran tepadu
c. Pengertian Quantum Learning
Istilah quantum berasal dari ilmu fisika yang berarti energi cahaya. Dalam quantum learning merupakan interaksi yang mengubah energi menjadi "cahaya". Sebagai pelajar tujuannya adalah meraih sebanyak mungkin cahaya, interaksi, hubungan, inspirasi agar menghasilkan energi cahaya (Bobbi De Porter dan Henacki,2005:16).
Selanjutnya, Hernowo (2005:29) mengartikan quantum learning sebagai interaksi yang terjadi dalam prosess belajar sehingga mampu mengubah potensi yang ada pada diri manusia menjadi pancaran dalam memperoleh hal-hal baru untuk ditularkan kepada orang lain.
Quantum Learning merupakan kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta. membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat (Akhmad Sudrajad : 2008).
Berdasarkan pengertian quantum learning, maka quantum learning untuk menggerakkan energi potensial pelajar agar berfungsi dalam interaksi proses pembelajaran sehingga pembelajar menjadi mampu melakukan hal-hal seperti menulis laporan IPA (sains) dan khususnya membaca pemahaman.
Berkaitan dengan pendekatan quantum learning, Suyatno (2004:31) mengungkapkan bahwa pendekatan quantum learning mencakup petunjuk spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, merancang kurikulum, menyampaikan isi, dan memudahkan proses belajar. Pendekatan quantum learning adalah pengubahan bermacam-macam, interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar dengan menyingkirkan hambatan yang menghalangi proses belajar alamiah denmagn secara sengaja menggunakan musik, mewarnai lingkungan sekeliling, dan keterlibatan aktif siswa dan guru. Asas yang digunakan adalah bawalah dunia mereka ke dunia kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka.
Kelahiran quantum learning sebagai pendekatan pembelajaran di Indonesia, diawali dengan adanya praanggapan bahwa manusia Indonesia terjangkit virus keseragaman. Keseragaman ini meliputi sentralistik dan uniformistik yang mewarnai pengemasan dunia pembelajaran (Nyoman S. Degeng, 2005:2-4). Keseragaman yang menjangkiti dunia pembelajaran ini mengakibatkan kegagalan dalam pembelajaran itu sendiri, karena berlawanan dengan hakikat murid yang sebenarnya memiliki keberanekaragaman.Terlebih lagi, pemaksaan melalui tindakan keseragaman dalam pembelajaran terhadap murid akan menjauhkan dari keberhasilan belajar.
Berkenaan dengan hal itu Nyoman S. Degeng (2005:4) menjelaskan bahwa quantum learning ini sebagai "orkestra pembelajaran yang penuh dengan suasana bebas, santai, menakjubkan, menyenangkan, dan menggairahkan”. Penciptaan suasana seperti itu, dapat: (1) dibangun motivasi; (2) ditumbuhkan simpati dan saling pengertian; (3) dibangun sikap takjub kepada pembelajaran; dibangun perasaan saling memiliki; dan (5) dapat memberikan keteladanan.
Quantum learning dalam pembelajaran antara guru dan siswa “ Show teacher how to orchestrate their student’s success by taking into account “everything” in the classroom along whit the environment, the design of thecurriculum, and how it’spresented. The result; a highly-effective way to teach anything to anybody” (Akhmad Sudrajad, 2006)
Pembelajaran dengan menggunakan quantum learning, guru harus membawa pikiran siswa ke dalam pikiran guru dan sebaliknya pemikiran guru menjadi pemikiran siswa. Dengan demikian. ada kedekatan secara psikologis antara guru dengan siswa. Guru juga harus mengenali gaya belajar siswa, apakah gaya belajarnya visual (mementingkan segala sesuatu yang dilihat), apakah auditif (mementingkan pendengaran), apakah kinestetik (memerlukan gerakan).
Hal-hal yang perlu dilatih dalam quantum learning ini menurut Bobbi de Potter dan Mike Hernacki (2005:24) adalah (1) cara siswa memusatkan perhatian (konsentrasi), (2) cara mencatat yang benar, (3) cara belajar menyiapkan ujian, (4) cara membaca cepat, dan (5) cara menumbuhkan ingatan jangka panjang (long time memory).
Dalam pelaksanaannya quantum learning memiliki petunjuk yang bersifat spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, merancang bahan ajar, menyampaikan isi pembelajaran, dan memudahkan proses belajar (De Porter,2005:4-5). Dalam hal tersebut diuraikan cara-cara efektif pelasanaaan quantum learning sebagai berikut: (1) partisipasi dengan cara mengubah kelas dari kelas yang biasa menjadi kelas yang menarik;(2) memotivasi dan menumbuhkan minat dengan menerangkan kerangka rancangan yang dikenal dengan singkatan TANDUR (Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan); (3) membangun rasa kebersamaan: (4) menumbuhkan dan mempertahankan daya ingat; dan (5) merangsang daya dengar anak didik. Semua itu pada hakikatnya akan menempatkan guru dan murid pada jalur cepat menuju kesuksesan belajar.
“Quantum learning sesungguhnya merupakan ramuan atau rakitan dari berbagai teori atau pandangan psikologi kognitif dan pemrograman neurologi/ neurolinguistik yang jauh sebelumnya sudah ada. Quantum Learning menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar dan NPL dengan teori, keyakinan, dan metode” (Massofa,2006).
Kegiatan pelaksanaan quantum lerning mempunyai dua ciri. Ciri quantum learning yang pertama adalah penciptaan lingkungan belajar yang perantaranya bisa diibaratkan dengan tugas kru panggung (Bobbi De Potter, 2005:66). Kru panggung untuk pementasan mempersiapkan dengan cara menata ruang pentas mulai dari pencahayaan, tata suara, setiap nuansa warna, dan bentuk yang akan menentukan dan membantu penyampaian pesan kepada penonton. Demikian pula terkait dengan penataan lingkungan belajar, dimulai dengan penataan lingkungan belajarjar. Quantum Learning menekankan pada penciptaan ruangan belajar yang sama dengan kru panggung, yaitu penciptaan lingkungan menyenangkan mulai dari penataan perabotan, bantuan visual (alat peraga) baik yang digunakan selama pembelajaran maupun yang tergantung di dinding kelas, tampilan guru "pleasant to look it", bila perlu didengarkan musik, semuanya merupakan kunci yang dapat mcnciptakan lingkungan belajar yang optimal. Oleh sebab itu, dalam proses pembelajaran guru haruslah "pleasant to look at" (sedap dipandang) karena berpengaruh positif terhadap siswa untuk betah di kelas.
Ciri quantum learning yang kedua adalah menerapkan falsafah belajar sugestologi atau sugestopedia, yaitu pada dasarnya sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil belajar siswa (Bobbi De Potter dan Henacki,2005:14). Wujud sugesti dalam interaksi belajar disarankan oleh (Bobbi De Potter dan Henacki, 2005:24) adalah komentar positif. Komentar positif akan membentuk kepercayaan pada diri siswa ketika belajar. Hal ini berarti bahwa quantum learning menghindari komentar negatif: misalnya guru mengatakan “Tidak jawaban itu salah, saya heran melihatmu.” Komentar positif akan membentuk kepercayaan pada diri siswa ketika belajar. Hal ini berarti bahwa quantum learning menghindari komentar negatif; misalnya guru mengatakan "Tidak jawaban itu salah,saya heran melihatmu". Komentar negatif ini akan menyebabkan (1) siswa terguncang, sehingga benih-benih keraguan akan tertanam pada diri siswa, (2) dapat menjadikan siswa berhenti belajar dan secara tidak sadar akan menutupi atau menghalangi pengalaman siswa dalam belajar, dan (3) akan membuat perasaan siswa dalam belajar menjadi.terasa tegang dan terbebani. Istilah lain yang dapat dipertukarkan dalam sugestologi adalah percepatan belajar (accelerant learning). Percepatan belajar didefinisikan sebagai memungkinkan siswa untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan dengan upaya yang normal.
Sehubungan dengan pembelajaran yang dipercepat, Aqib, (2002: 177) mengartikan istilah quantum learning menjadi quick and quality (cepat dan berkualitas), bahwasanya proses pembalajaran itu berlangsung cepat sesuai alokasi waktu yang ditetapkan, namun tetap menjadi sasaran dan tujuan.
Berdasarkan kedua ciri dari quantum learning di atas, maka pelaksanaan quantum learning dalam kegiatan pembelajaran diarahkan pada (1) suasana belajar yang menenangkan (peralatan, perabotan, bantuan visual/alat peraga yang digunakan selama pembelajaran ataupun yang tergantung di dinding kelas, tampilan guru yang pleasant to look at, dan (2) menekankan sugasti (pemberian komentar positif) dan pembelajaran yang dipercepat, maksudnya siswa cepat dapat belajar dalam memperoleh kemampuan tertentu misalnya membaca pemahaman.
Bertolak dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa quantum learning merupakan interaksi yang mengubah energi menjadi "cahaya" sehingga dapat meraih sebanyak mungkin cahaya, interaksi, hubungan, inspirasi agar menghasilkan energi cahaya dalam pembelajaran.
d. Pendekatan Quantum Learning dalam Meningkatkan Kualitas Hasil Keterampilan Membaca Pemahaman di Kelas XI
Pembelajaran membaca pemahaman di SMA/MA termuat dalam standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas XI. Secara tersurat siswa diharapkan mampu menemukan gagasan utama tiap paragraf, perbedan, ciri-ciri, identifikasi paragraf induktif dan deduktif pada teks bacaan. Membaca pemahaman merupakan salah satu keterampilan berbahasa. Keberhasilan dari keterampilan membaca ini sangat bergantung pada sikap, tingkat keseriusan, dan kesiapan dalam menerapkan model pembelajaran. Maksud pembelajaran yang dimaksud di sini adalah pendekatan quantum learning dengan metode TANDUR.
Pendekatan Quantum Learning sangat cocok diterapkan untuk siswa kelas XI SMA/MA, hal ini dikarenakan ada kecenderungan bahwa anak seusia kelas XI SMA/MA sangat menyenangkan dengan pembelajaran quantum learning yang diterapkan secara ekstensif atas dasar hal-hal tersebut akan membantu siswa mencapai tujuan belajarnya dalam proses KBM .
Dengan menerapkan pendekatan quantum learning dengan metode TANDUR, siswa (khususnya kelas XI) akan dilatih pemahamannya dan dipupuk rasa senangnya serta sikap positif dalam pekerjaannya maupun terhadap dirinya sendiri (Nurhadi dan Agus G.S.,2003:60). Agar semua siswa dapat mengambil manfaat dari aktivitas kerja siswa, mereka hendaknya diberi kesempatan untuk mengembangkan berbagai keterampilan. Misalnya, siswa perempuan diberi pengalaman sebagai presenter dan siswa laki-laki diberi pengalaman sebagai notulis. Semua siswa hendaknya mengembangkan keterampilan berbicara dan mendengar di hadapan orang lain.
Penerapan pendekatan quantum learning agar mampu meningkatan kualitas pembelajaran, De Porter, Reardon, dan Singer-Nourie (2001:335) menyatakan bahwa para pelajar quantum dapat belajar secara menyenangkan dengan mengikuti petunjuk sebagai berikut. (1) sebelum membaca, lihat materi bacaan secara sekilas sebelumnya; (2) manfaatkanlah setiap waktu; (3) belajarlah di tempat dan waktu yang teratur; (4) gunakan musik untuk mengendorkan pikiran; (5) setiap setengah jam lakukan istirahat selama lima menit; (6) umpan balik adalah diperlukan untuk mendapatkan keberhasilan dan memberikan arah.
Kelebihan quantum learning adalah (1) siswa dapat lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar; (2) belajar siswa lebih efektif; (3) latar belakang dalam proses pembelajaran berupa musik. Kelemahan dari pendekatan quantum learning adalah diperlukan biaya yang tinggi karena diperlukan media pembelajaran seperti tape recorder atau laptop. (Aqib,2002:190)
Badan standar Nasional Pendidikan (2006:260) menyatakan bahwa pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dilaksanakan untuk membantu peserta didik dalam mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ditetapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tersebut. Agar tujuan pembelajaran tersebut dapat tercapai diperlukan strategi pembelajaran membaca pemahaman. Metode pembelajaran yang digunakan oleh guru harus dinamis, demokratis, berorientasi pada siswa, dan tidak membosankan juga mampu merangsang siswa kreatif dan inovatif sehingga siswa merasa memiliki kemampuan dan timbul ketertarikannya pada pelajaran membaca pemahaman.
Proses pembelajaran memerlukan keterampilan guru dalam mengelola kelas, menyampaikan bahan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran tertentu yang melibatkan sebanyak mungkin kemampuan peserta didik selama berlangsungnya proses pembelajaran (student centered) dan pembelajaran tuntas (mastery learning). Jadi, pendekatan quantum learning dengan metode TANDUR merupakan pendekatan yang tersusun dari berbagai latar belakang, yang sangat cocok dan menyenangkan untuk pembelajaran membaca pemahaman untuk siswa kelas XI SMA/MA.
Bertolak dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan quantum learning adalah pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh guru harus dinamis, demokratis, berorientasi pada siswa, dan tidak membosankan juga mampu merangsang siswa kreatif dan inovatif sehingga siswa merasa memiliki kemampuan dan timbul ketertarikannya pada pelajaran membaca pemahaman.
e. Prinsip-prinsip Pembelajaran Quantum Learning
Prinsip dapat berarti (1) aturan aksi atau perbuatan yang diterima atau dikenal dan (2) sebuah hukum, aksioma, atau doktrin fundamental. Quantum leraning juga dibangun di atas aturan aksi, hukum, aksioma, dan atau doktrin fundamental mengenai dengan pembelajaran dan pembelajar. Setidak-tidaknya ada tiga macam prinsip utama yang membangun sosok quantum learning (Sugiyanto,2011:78). Ketiga prinsip utama yang dimaksud sebagai berikut.
1. Prinsip utama quantum learning berbunyi: Bawalah Dunia Mereka (Pembelajar) ke dalam Dunia Kita (Pengajar), dan Antarkan Dunia Kita (Pengajar) ke dalam Dunia Mereka (Pembelajar). Setiap bentuk interaksi dengan pembelajar, setiap rancangan kurikulum, dan setiap metode pembelajaran harus dibangun di atas prinsip utama tersebut. Prinsip tersebut menuntut pengajar untuk memasuki dunia pembelajar sebagai langkah pertama pembelajaran selain juga mengharuskan pengajar untuk membangun jembatan otentik memasuki kehidupan pembelajar. Untuk itu, pengajar dapat memanfaatkan pengalaman-pengalaman yang dimiliki pembelajar sebagai titik tolaknya. Dengan jalan ini pengajar akan mudah membelajarkan pembelajar baik dalam bentuk memimpin, mendampingi, dan memudahkan pembelajar menuju kesadaran dan ilmu yang lebih luas. Jika hal tersebut dapat dilaksanakan, maka baik pembelajar maupun pengajar akan memperoleh pemahaman baru. Di samping itu berarti dunia pembelajar dan dunia pengajar diperluas. Di sinilah Dunia Kita menjadi dunia bersama pengajar dan pembelajar. Inilah dinamika pembelajaran manusia selaku pembelajar.
2. Dalam quantum learning juga berlaku prinsip bahwa proses pembelajaran merupakan permainan orkestra simfoni. Selain memiliki lagu atau partitur, permainan simfoni ini memiliki struktur dasar chord. Struktur dasar chord ini dapat disebut prinsip-prinsip dasar quantum learning.
3. Dalam quantum learning juga berlaku prinsip bahwa pembelajaran harus berdampak bagi terbentuknya keunggulan. Oleh karena itu, keunggulan ini bahkan telah dipandang sebagai jantung fondasi quantum learning.
Ada Tujuh prinsip keunggulan yang juga disebut delapan kunci keunggulan yang diyakini dalam pembelajaran kuantum. Tujuh kunci keunggulan itu sebagai berikut.
(1) Terapkanlah Hidup dalam Integritas
Dalam pembelajaran, bersikaplah apa adanya, tulus, dan menyeluruh yang lahir ketika nilai-nilai dan perilaku kita menyatu. Hal ini dapat meningkatkan motivasi belajar yang pada gilirannya mencapai tujuan belajar. Dengan kata lain, integritas dapat membuka pintu jalan menuju prestasi puncak.
(2) Akuilah Kegagalan dapat Membawa Kesuksesan
Dalam pembelajaran, kita harus mengerti dan mengakui bahwa kesalahan atau kegagalan dapat memberikan informasi kepada kita yang diperlukan untuk belajar lebih lanjut sehingga kita dapat berhasil. Kegagalan janganlah membuat cemas terus menerus dan diberi hukuman karena kegagalan merupakan tanda bahwa seseorang telah belajar.
(3) Berbicaralah dengan Niat Baik
Dalam pembelajaran, perlu dikembangkan keterampilan berbicara dalam arti positif dan bertanggung jawab atas komunikasi yang jujur dan langsung. Niat baik berbicara dapat meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi belajar pembelajar.
(4) Tegaskanlah Komitmen
Dalam pembelajaran, baik pengajar maupun pembelajar harus mengikuti visi-misi tanpa ragu-ragu, tetap pada rel yang telah ditetapkan. Untuk itu, mereka perlu melakukan apa saja untuk menyelesaikan pekerjaan. Di sinilah perlu dikembangkan slogan: Saya harus menyelesaikan pekerjaan yang memang harus saya selesaikan, bukan yang hanya saya senangi.
(5) Jadilah Pemilik
Dalam pembelajaran harus ada tanggung jawab. Tanpa tanggung jawab tidak mungkin terjadi pembelajaran yang bermakna dan bermutu. Karena itu, pengajar dan pembelajar harus bertanggung jawab atas apa yang menjadi tugas mereka. Mereka hendaklah menjadi manusia yang dapat diandalkan, seseorang yang bertanggung jawab.
(6) Tetaplah Lentur
Dalam pembelajaran, pertahankan kemampuan untuk mengubah yang sedang dilakukan untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Pembelajar, lebih-lebih pengajar, harus pandai-pandai membaca lingkungan dan suasana, dan harus pandai-pandai mengubah lingkungan dan suasana bilamana diperlukan. Misalnya, di kelas guru dapat saja mengubah rencana pembelajaran bilamana diperlukan demi keberhasilan siswa-siswanya; jangan mati-matian mempertahankan rencana pembelajaran yang telah dibuat.
(7) Pertahankanlah Keseimbangan
Dalam pembelajaran, pertahankan jiwa, tubuh, emosi, dan semangat dalam satu kesatuan dan kesejajaran agar proses dan hasil pembelajaran efektif dan optimal. Tetap dalam keseimbangan merupakan proses berjalan yang membutuhkan penyesuaian terus-menerus sehingga diperlukan sikap dan tindakan cermat dari pembelajar dan pengajar
Bobbi De Potter dan Henacki (2005:14), menyatakan beberapa prinsip yang harus diterapkan dalam pembelajaran quantum learning, yaitu.
(1) Segalanya Bicara
Maksudnya dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh guru, dari kertas yang dibagikan guru hingga rancangan pengajaran guru, keseluruhannya mengirim pesan tentang belajar.
(2) Memiliki Tujuan
Semua yang terjadi karena guru mempunyai tujuan seperti seorang guru yang harus secara hati-hati menyusun pelajaran.
(3) Pengalaman Sebelum Pemberian Nama
Otak kiri berkembang pesat dengan adanya rangsangan kompleks, yang akan menggerakkan rasa ingin tahu. Oleh karena itu, proses belajar paling baik terjadi ketika siswa mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari. Pembelajaran berjalan sukses ketika murid mengalami informasi pada awal pembelajaran.
(4) Mengakui Setiap Usaha
Dalam belajar mengandung risiko, keluar dan rasa nyaman. Pada langkah ini, murid berhak atas pengukuran dari kecakapan dan rasa percaya diri mereka.
(5) Layak Dipelajari maka Layak Dirayakan (diberi reward)
Perayaan atau memberikan sesuatu reward adalah suatu umpan balik mengenal kemajuan murid dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan belajar.
Berdasarkan prinsip-prinsip quantum learning di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran, segalanya bicara, memiliki tujuan, pengalaman sebelum pemberian nama, mengakui setiap usaha, dan layak dirayakan.
f. Langkah-langkah Pendekatan Quantum Learning dalam Pembelajaran Membaca Pemahaman
Pendekatan pembelajaran adalah cara untuk melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan dan metode yang tepat sehingga diperoleh hasil belajar yang akurat dan dipercaya. Dengan demikian, dapat dipilih pendekatan yang tepat demi tercapainya hasil melalui proses membaca pemahaman yang sesuai dengan tujuan atau standar kompetensi. De Porter (2005:45) menyatakan bahwa salah satu pendekatan yang digunakan adalah Quantum Learning dan metode yang tepat digunakan adalah TANDUR (Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan). Unsur-unsur ini membentuk basis struktural keseluruhan yang melandasi quantum learning.
Jika metode TANDUR ini digunakan dengan baik maka akan diperoleh pembelajaran yang membuat siswa aktif (dan guru) aktif, dengan begitu berkembanglah inovatif, dengan inovatif siswa termotivasi bertindak ke hal-hal yang belum dilakukan oleh temannya. Kreativitas siswa maupun guru berjalan dengan efektif dan akhirnya menyenangkan bagi semua.
Quantum learning menguraikan cara-cara baru yang memudahkan proses belajar guru lewat pemaduan seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah, apapun mata pelajaran yang diajarkan. Dengan menggunakan pendekatan quantum learning, guru akan menggabungkan keistimewaan belajar menuju bentuk perencanaan pengajaran yang akan melejitkan prestasi siswa.
Quantum Learning adalah pengubahan belajar yang meriah, dengan segala nuansanya. Quantum Learning menyertakan segala kaitan, interaksi, dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar. Quantum Learning berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka belajar. Untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa dan agar membuat siswa menjadi lebih tertarik dalam pembelajaran di kelas, siswa mendengarkan musik instrumentalia dalam pembelajaran membaca pemahaman.
Langkah-langkah pembelajaran quantum learning dengan metode TANDUR yang disebutkan oleh De Porter dan Henacki (2005 : 54) adalah sebagai berikut.
a) Tumbuhkan
Tumbuhkan minat belajar siswa dengan memuaskan rasa ingin tahu dalam bentuk; apakah manfaatnya bagiku (AMBAK) jika aku mengikuti topik pelajaran ini dengan guruku? Tumbuhkan suasana yang menyenangkan di hati siswa, dalam suasana relaks, tumbuhkan interaksi dengan siswa, masuklah ke dalam pikiran mereka dan bawalah alam pikiran mereka ke dalam pikiran anda, yakinkan siswa mengapa harus mempelajari ini dan itu, belajar adalah suatu kebutuhan siswa, bukan suatu keharusan. Tumbuhkan niat yang kuat pada diri Anda bahwa anda akan menjadi guru dan pendidik yang hebat.
b) Alami
Unsur ini mendorong hasrat alami otak untuk “menjelajah”. Cara apa yang terbaik agar siswa memahami informasi? Kegiatan apa yang dapat diberikan agar pengetahuan dan keterampilan yang sudah dimiliki siswa bertambah.
c) Namai
Setelah siswa melalui pengalaman belajar pada topik tertentu, ajak mereka untuk menulis di kertas, menamai apa saja yang telah mereka peroleh, apakah itu informasi, rumus, pemikiran, tempat dan sebagainya. Ajak mereka untuk menempelkan nama-nama tersebut di dinding kelas dan dinding kamar tidurnya.
d) Demonstrasikan
Melalui pengalaman belajar siswa mengerti dan mengetahui bahwa dia memiliki kemampuan (kompetensi) dan infomasi (nama) yang cukup, sudah saatnya dia mendemonstrasikan dihadapan guru, teman, maupun saudara.
e) Ulangi
Pengulangan memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan rasa “aku tahu bahwa aku tahu ini”
f) Rayakan
Perayaan adalah ekspresi kelompok atau seseorang yang telah berhasil mengerjakan sesuatu tugas atau kewajiban dengan baik. Jadi, jika siswa sudah mengerjakan tugas dan kewajibannya dengan baik, layak untuk dirayakan lewat: bertepuk tangan, bernyanyi bersama-sama, atau secara bersama-sama mengucapkan: “Aku berhasil”.
Langkah-langkah Pokok pembelajaran membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning sebagai berikut.
a) Pendahuluan
Guru memulai pembelajaran dengan mengucapkan salam. Setelah itu, guru memeriksa kehadiran siswa, kebersihan kelas dan kerapian siswa sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan.
b) Kegiatan Inti
Materi : Paragraf yang berpola deduktif dan induktif
Metode yang digunakan : TANDUR
Pendekatan yang digunakan : Quantum Learning
Langkah-langkah pembelajaran:
1. Tumbuhkan
Guru mengingatkan siswa tentang macam-macam paragraf dengan memutarkan sebuah gambar-gambar lewat media yang diiringi musik dan berkaitan dengan paragraf yang disuguhkan serta memberikan soal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari,. bacaannya sebagai berikut.
Pagi itu langit cerah. Angin bertiup lembut. Matahari dengan malu-malu menampakkan dirinya dari timur. Sinarnya yang hangat dan menyegarkan mencuci kaki langit, membias ke awan-awan. Kicauan burung-burung menambah pesona alam. . . . . alangkah indahnya.
Musim kemarau yang panjang menyebabkan halaman MAN 2 Madiun penuh dengan debu ketika murid-murid bermain dihalaman. Mereka bermain dengan riang gembira, masing-masing sibuk dengan permainannya sendiri. Anak-anak cowok ada yang bermain sepak bola,basket, dan ada juga yang bermain bola voli. Sementara anak-anak cewek banyak yang duduk diteras sekolah dan ada juga anak yang lagi mempelajari pelajaran yang akan disampaikan. Mereka sama-sama bermain dengan ceria penuh canda dan tawa.
Tiba-tiba sedang asyiknya mereka bermain terdengar suara bel berbunyi tanda masuk. Mereka segera menghentikan permainannya.
“ Masuk….masuk….,” teriak anak-anak sambil menuju ke kelasnya masing-masing.
Suasana didepan kelas menjadigaduh, karena itu sudah kebiasaan bila masuk ke kelas. Sesaat kemudian Bapak dan Ibu Guru masuk ke kelas, siap untuk memberikan materi yang akan dipelajari. Mereka diam tak bersuara, lebih-lebh murid kelas X. Disalah satu kelas dikelas X ada seorang anak yang rajin dan pandai tetapi dia termasuk anak orang miskin, dia bernama Arman dia menjadiketua kelas dikelas tersebut, kemudian Arman menyiapkan untuk berdoa.
“Teman-teman sekalian, marilah kita bersama-sama membaca surat Al-Fatihah sebagai doa pembukaan pelajaran kita hari ini, berdoa dimulai!”....
Dari paragraf tersebut, sebutkan jenis paragraf berdasarkan kalimat utamanya dan kalimat penjelasnya. Kemungkinan jawaban yang dilontarkan siswa yaitu: paragraf deduktif, induktif, ineratif, dan campuran.
Selain itu, guru juga mengingatkan siswa tentang penentuan gagasan utama masing-masing paragraf,perbedaan paragraf induktifdan deduktif dan lain-lain. Dalam hal ini, siswa diminta untuk menyatakan idenya ke dalam bahasa Indonesia. Dengan pemberian soal tersebut, siswa diharapkan mengembangkan kemampuan komunikasi berbahasa Indonesia, khususnya dalam menyatakan peristiwa sehari-hari ke dalam bahasa Indonesia. Selain itu, siswa juga diharapkan dapat termotivasi dan lebih siap untuk mengikuti pembelajaran.
2. Alami
Guru menayangkan gambar-gambar yang berkaitan dengan tema pembelajaran hari itu di media LCD. Masing-masing memberikan tanggapan terhadap gambar seperti yang dialami dalam kehidupan sehari-hari . Setelah guru memberikan bacaan, siswa dapat menentukan jenis paragraf induktif dan deduktif, gagasan utama, ciri-ciri, perbedaan, dan identifikasi paragraf induktif dan deduktif. Guru membimbing siswa dalam berdiskusi. Dengan pemberian bacaan tersebut, siswa diharapkan dapat mengembangkan kemampuan komunikasi bahasa Indonesia mereka, khususnya dalam menyatakan peristiwa sehari-hari ke dalam bahasa Indonesia, serta menjelaskan pengertian paragraf, jenis/pola paragraf secara lisan atau tulisan. Setelah diskusi, beberapa kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka, sedangkan kelompok lain menyimak dan boleh bertanya jika ada yang kurang dimengerti.
3. Namai
Guru menayangkan contoh paragraf, siswa menyebutkan paragraf yang ditayangkan guru tersebut
4. Demonstrasikan dan Ulangi
Guru memberikan latihan soal untuk menguatkan pemahaman siswa mengenai jenis paragraf. Setelah itu, siswa diminta untuk mengerjakan dan menjelaskannya di depan kelas.
5. Rayakan
Guru bersama siswa mengevaluasi pembelajaran yang telah berlangsung, kemudian merayakannya (misalnya dengan tos lima jari, tepuk tangan yel-yel, atau berteriak kemenangan, baik sesama siswa maupun siswa dengan guru).
c) Penutup
Guru memberikan tugas kepada siswa sebagai pekerjaan rumah (PR) untuk dikumpulkan pada pertemuan berikutnya.

B. Penelitian yang Relevan
Beberapa penelitian yang relevan dan dipandang sebagai penelitian mengenai pembelajaran membaca pemahaman pada sekolah/ Madrasah yang dilakukan di MAN 2 Madiun. Adapun yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian Bambang Subiyanto (2002) yang menyimpulkan bahwa (1) kemampuan membaca pemahaman dan sikap terhadap sastra berkoleratif positif dengan kemampuan apresiasi cerpen dan (2) kemampuan membaca pemahaman memiliki sumbangan yang paling besar terhadap kemampuan apresiasi cerpen dibanding variabel yang lain. Persamaan dengan penelitian ini pada penekanan kemampuan membaca pemahaman yang menjadi variabel. Perbedaan dengan penelitian ini pada sumbangan yang diberikan lebih menekankan pada kemampuan apresiasi cerpen kalau penelitian ini pada metode yang digunakan yaitu quantum learning. Selain itu jenis penelitian ini cenderung ke Penelitian Tindakan Kelas ( penelitian kualitatif) sedangkan Bambang Subiyanto pada penelitian kuantitatif.
Penelitian yang lain dilakukan oleh Andang Muhammad Indro Birowo (2002;116) yang berjudul “Hubungan Antara Kemampuan Membaca Pemahaman dan Sikap Bahasa dengan kemampuan Berbicara Siswa SLTP Negeri 3 Jatipura”. Hasil penelitiannya membuktikan adanya hubungan positif antara kemampuan membaca pemahaman dan sikap bahasa secara bersama-sama dengan kemampuan berbicara. Persamaannya pada penelitian membaca pemahaman, perbedaannya pada variabel kedua membaca pemahaman dikaitkan dengan sikap berbahasa dengan kemampuan berbicara. Pada penelitian ini variabel kedua pada metode yang digunakan yang berbeda yaitu metode quantum learning dan subjek serta setting penelitiannnya.
Michel Pressley Handbook of Reading Research: Volume III ( Pressley 2000) mengungkapkan bahwa ada berbagai cara divalidasi dengan baik untuk meningkatkan membaca pemahaman pada siswa melalui interuksi yang dirangkum dalam sebuah artikel. Selain itu, hipotesis baru tentang intruksi membaca pemahaman yang efektif muncul dan ini juga diringkas. Kalau dalam penelitian ini persamaannya menggambarkan tentang membaca pemahaman yang diterapkan di sebuah sekolah. Perbedaanya pada pendekatan yang digunakan peneliti menggunakan pendekatan quantum learning.
Berdasarkan berbagai penelitian yang diuraikan di atas, relevansinya dengan penelitian ini mengenai pembahasan membaca pemahaman dan Quantum Learning.
C. Kerangka Berpikir
Membaca adalah proses pengolahan bacaan secara kritis-kreatif yang dilakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman terhadap isi bacaan. Membaca mengarah kepada pemahaman yang memerlukan otak. Otak diperlukan dalam proses penalaran. Dengan proses penalaran, pembaca berusaha menemukan dan memahami informasi yang dikomunikasikan oleh pengarang melalui karangan yang bersangkutan. Di samping melibatkan kemampuan otak kegiatan membaca juga melibatkan faktor-faktor psikologis, khususnya berkaitan dengan motivasi. Oleh karena itu pembaca perlu mengoptimalkan potensi otak dan meningkatkan motivasi.
Keterampilan membaca pemahaman di MAN 2 Madiun masih rendah. Hal ini dapat diketahui dari nilai ulangan bahasa Indonesia khususnya kompetensi dasar membaca. Siswa yang mencapai batas ketuntasan pada KD membaca ini hanya 40% sedangkan selebihnya mencapai batas ketuntasan yaitu 60%.
Penyebab rendahnya keterampilan membaca pemahaman siswa di atas dapat diindikasikan dari beberapa faktor antara lain: 1) Motivasi baca siswa yang masih rendah; 2) Guru kurang tepat dalam menerapkan pendekatan pembelajaran. Oleh karena itu untuk mencapai tujuan pembelajaran membaca pemahaman yang diharapkan dalam penelitian ini diterapkan pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan membaca pemahamn. Salah satu pendekatan pembelajaran yang diduga dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menerapkan pendekatan quantum learning.
Setelah diterapkan pendekatan pembelajaran tersebut, diharapkan motivasi baca siswa meningkat yang pada akhirnya sasaran utama meningkatnya proses dan hasil pembelajaran keterampilan membaca pemahaman siswa akan terwujud.
Bertolak pada uraian di atas dapat disusun kerangka berpikir dalam penelitian ini sebagai berikut.




















Gambar 1. Kerangka Berpikir
D. Hipotesis Tindakan
Pendekatan Quantum Learning akan membantu mengembangkan keterampilan membaca pemahaman siswa, sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran keterampilan membaca pemahaman pada siswa kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun tahun ajaran 2011/2012. Dengan demikian dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut.
1. Pendekatan Quantum Learning dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran keterampilan membaca pemahaman siswa kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun tahun ajaran 2011/2012.
2. Pendekatan Quantum Learning dapat meningkatkan kualitas hasil pembelajaran keterampilan membaca pemahaman siswa kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun tahun ajaran 2011/2012.







BAB III
METODOLOGI PENELITAN
Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan untuk memperbaiki proses dan hasil pembelajaran membaca pemahaman yang kurang berhasil. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini berusaha untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran membaca pemaharnan siswa kelas XI IPS2 MAN 2 Madiun. Untuk itu bab ini akan dibahas: (A) setting penelitian, (B) subjek penelitian, (C) sumber data, (D) teknik pengumpulan data, (E) validitas data , (F) teknik analisis data, (G) indikator keberhasilan kinerja. (H) prosedur penelitian.
A. Setting Penelitian
1 . Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI IPS2 MAN 2 Madiun, Kelurahan Mojorejo, Kecamatan Taman Kota Madiun, dengan alasan sebagai berikut.
1) Pemilihan lokasi penelitian ini berdasarkan beberapa pertimbangan, antara lain: keterampilan siswa dalam memahami isi bacaan masih rendah. hal tersebut dikarenakan belum mendapatkan pendekatan pembelajaran membaca pemahaman yang tepat.
2) Sebagian besar guru masih mengandalkan ceramah sebagai metode dalam pembelajaran.
3) Sekolah ini belum pernah digunakan sebagai objek penelitian sejenis, sehingga terhindar dari kemungkinan penelitian.
4) Peneliti adalah salah satu guru di MAN 2 Madiun.
2. Waktu Penelitian
Penelitian tindakan kelas dilaksanakan selama kurang lebih enam bulan, pada semester ganjil tahun pelajaran 2011/ 2012. Penelitian ini dimulai bulan Juni sampai dengan November 2011. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka penelitian tersebut meliputi: pengenalan lapangan (sekolah yang akan diteliti), penyusunan usulan penelitian, pelaksanaan penelitian, dan penyusunan laporan kegiatan dengan jadwal sebagai berikut.
Tabel 3.1 Jadwal Kegiatan Penelitian

NO
Kegiatan Bulan
Juni Juli Agustus Sept Okt Nov
1. Survei awal sampai penyusunan proposal
xx

3. Pelaksanaan Siklus I xx
4. Pelaksanaan Siklus II xx
5. Pelaksanaan Siklus III xx
6. Penyelesaian dan penyusunan laporan
xx
xx
7. Ujian xx
8. Revisi xx

B. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun tahun pelajaran 2011/2012 yang berjumlah 31 anak, dan guru yang mengajar di kelas XI IPS 2 , yaitu Ibu Rita Purbawanti,S.Pd. Penelitian ini bersifat kolaboratif. Selain peneliti juga melibatkan guru dan siswa dengan pertimbangan mereka mewakili ciri umum kelas yang diteliti .
C. Sumber Data
a. Sumber data dalam penelitian ini adalah :
1. Peristiwa atau kegiatan, yaitu proses pembelajaran membaca pemahaman menggunakan pendekatan quantum learning.
2. Pelaku peristiwa, yaitu informan atau nara sumber dari guru kelas XI IPS 2 yang berinisial RP (Rita Purbawanti), dan siswa kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun tahun ajaran 2011/2012.
3. Tempat berlangsungnya pembelajaran, tepatnya di kelas XI IPS 2, ruang multimedia, dan lingkungan sekolah.
4. Dokumen berupa kurikulum, silabus pembelajaran yang dibuat guru, dan hasil kerja siswa.
b. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa:
1) Hasil keterampilan membaca pemahaman terdiri dari dua unsur, yaitu (1) paragraf deduktif dan induktif; (2) pemahaman isi bacaan. Adapun pemahaman isi dihitung dari jumlah skor jawaban benar dibagi ideal dibagi 100%.
2) Proses pembelajaran membaca pemahaman dengan pendekatan pembelajaran quantum learning untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran membaca pemahaman.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan untuk pengumpulan data di atas meliputi: pengamatan, wawancara, tes, dan analisis dokumen. Masing- masing teknik akan diuraikan secara singkat sebagai berikut.

1. Pengamatan
Pengamatan dalam penelitian ini dilakukan dengan berperan serta secara pasif. Dalam kegiatan pcngamatan tersebut peneliti tidak terlibat dalam kegiatan pembelajaran (peneliti tidak berinteraksi dengan guru maupun siswa), tetapi peneliti hanya membuat catatan untuk memperoleh informasi. Sementara guru mengajar dengan memberi pelatihan membaca pemahaman sesuai RPP yang telah disusun bersama antara peneliti dan guru, peneliti mengamati proses pelatihan membaca pemahaman dengan mengambil tempat duduk di bagian belakang seraya melaksanakan pengamatan terhadap proses dan kondisi pelatihan quantum learning
serta praktik membaca pemahaman suatu wacana. Dengan demikian peneliti akan leluasa melakukan pengamatan.
Pengamatan ditujukan pula kepada pelaku proses, yakni guru kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun. Pengamatan terhadap guru difokuskan pada kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup (akhir) dalam proses pembelajaran membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning . Hasil pengamatan tersebut kemudian dibuat menjadi catatan lapangan dan perlu didiskusikan dengan guru maupun teman sejawat.
2. Wawancara
Wawancara dilakukan dengan guru kelas XI IPS 2 dan para siswa. Kegiatan wawancara terhadap guru kelas XI IPS2 dan siswa dilakukan secara mendalam di luar kelas setelah setiap proses pembelajaran selesai dan untuk menambah data yang mendukung lainnya. Pertanyaan yang diajukan meliputi ha1-hal yang berkaitan dengan pembelajaran membaca serta pelaksanaan pelatihan-pelatihan pendekatan quantum learning seperti, 1) pelatihan persepsi 2) pelatihan identifikasi kata-kata sukar 3) pelatihan konsentrasi, dan 4) pembelajaran praktik membaca pemahaman.
Wawancara pada dasarnya ada dua yaitu wawancara terstruktur dan tidak terstruktur . Wawancara dalam penelitian ini dilakukan tidak terstruktur yaitu dengan pertanyaan yang bersifat terbuka "open ended" dan bersifat lentur untuk menggali pandangan subjek penelitian tentang hal-hal yang bermanfaat bagi penelitian. Kelenturan wawancara ini diharapkan akan mampu menggali kejujuran informan, sehingga informasi yang diberikan itu benar seperti yang diungkapan oleh (Sutopo, 2002: 59).
3. Tes
Tes yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tes awal (praktik membaca wacana) untuk mengetahui kondisi awal keterampilan membaca pemahaman dan tes pada akhir siklus (praktik membaca wacana) untuk mengetahui perkembangan keterampilan membaca pemahaman.
4. Dokumen
Dokumen yang dapat dikaji berupa rencana pembelajaran yang disusun guru, jurnal mengajar, kurikulum, hasil belajar atau buku penilaian. Dengan tujuan untuk melengkapi kombinasi yang telah ditemukan melalui wawancara dan pengamatan.

E. Validitas Data
Informasi yang dijadikan data penelitian perlu diuji validitasnya sehingga data tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan dapat dipergunakan sebagai dasar yang kuat dalam menarik simpulan. Teknik yang digunakan untuk validitas data ini adalah triangulasi dan review informan kunci. Triangulasi digunakan sumber data dan triangulasi metode pengumpulan data. Penerapan triangulasi ini misalnya untuk mengetahui kesulitan-kesulitan dalam menerapkan pendekatan pembelajaran quantum learning dan mengadakan pengamatan saat pembelajaran berlangsung.
Review informan kunci adalah mengkonfirmasikan data atau interpretasi temuan kepada informan pokok, sehingga diperoleh kesepakatan antara peneliti dan informan tentang data atau interpretasi teman tersebut. Hal ini dilakukan rnelalui diskusi antara peneliti dan guru setelah kegiatan atau kajian dokumen. Transkrip hasil pengamatan dan wawancara perlu dicek kembali keabsahanya. Oleh karena itu semua catatan lapangan hasil pengamatan dan wawancara ditandatangani oleh informan. Data yang diperoleh diuji validitasnya melalui praktik di lapangan.
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis diskriptif komparatif dan teknik analisis kritis. Teknik deskriptif komparatif digunakan untuk data kuantitatif, yakni dengan membandingkan nilai tes antar siklus. Data yang berupa nilai tes antar siklus tersebut dibandingkan sehingga dapat mencapai batas ketercapaian yang telah ditetapkan dalam indikator kinerja. Teknik analisis kritis berkaitan dengan data kualitatif, mencakup kegiatan untuk mengungkap kelemahan dan kelebihan siswa dan guru dalam proses beiajar, mengajar berdasarkan kriteria normatif yang diturunkan dari kajian teoritis Maupun dari ketentuan yang ada (Sarwiji Suwandi, 2010: 61). Hasil analisis dijadikan dasar dalam penyusunan perencanaan tindakan untuk tahap berikutnya sesuai dengan siklus yang ada. Berkaitan dengan keterampilan membaca analisis deskriptif komparatif mencakup hasil membaca siswa yang dilakukan pada saat survei. Hal itu untuk mengetahui kondisi awal siswa mengenai keterampilan membaca
Setelah kondisi awal siswa diketahui, selanjutnya direncanakan siklus diadakan untuk menangani masalah. Setiap siklus berakhir dianalisis kekurangan dan kelebihannya sehingga diketahui peningkatan keterampilan membaca analisis deskriptif komparatif terhadap keterampilan membaca mencakup indikator yang telah ditentukan dalam setiap rencana pembelajaran.
G. Indikator Keberhasilan Kinerja
Untuk mengetahui ketercapain tujuan penelitian di atas, dapat dilihat dari indikator keberhasilan penelitian berikut ini.
Tabel 3.2 Indikator Keberhasilan Kinerja

Aspek yang Diukur Persentase Target Capaian
Cara Mengukur
Siklus III
Keaktifan siswa selama apersepsi
75% Diamati saat pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi dan dihitung dari jumlah siswa yang menampakkan kesungguhan
Keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran
75% Diamati saat pembelajaran dengan lembar observasi dan dihitung dari jumlah siswa yang menampakkan kesungguhan
Mekanisme kerja masing-masing siswa
75% Diamati saat pembelajaran keterampilan membaca pemahaman dengan menggunakan lembar observasi dan angket yang diberikan kepada siswa.
Ketuntasan hasil belajar (keterampilan membaca pemahaman)
75% Dihitung dari jumlah siswa yang memperoleh nilai 75 ke atas berdasarkan tes yang dilakukan oleh guru.

H. Prosedur Penelitian
Kegiatan penelitian ini diawali dengan persiapan dan pengenalan awal keterampilan membaca pemahaman dengan pendekatan, yang kemudian dilaksanakan melalui beberapa langkah, sebagai berikut (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) analisis dan refleksi. Keempat langkah tersebut dapat divisualisasikan dalam siklus sebagai berikut.


Siklus I




Siklus II




Siklus III







Gambar 03. Alur Penelitian Tindakan Kelas
Keempat langkah tersebut membentuk siklus yang dilakukan berulang-ulang sesuai dengan tingkat kebutuhan dalarn penelitian. Siklus akan berakhir jika penelitian telah berhasil memecahkan masalah penelitian sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Uraian masing-masing kegiatan secara garis besarnya sebagai berikut.
a. Awal Kegiatan
1. Persiapan
Pemberitahuan dan permohonan kepada kepala sekolah untuk: melakukan kegiatan penelitian, di sekolah yang menjadi wewenangnya. Selanjutnya, peneliti menemui dan meminta guru kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun untuk menjadi kolaborator dalam penelitian ini. Pada tahap ini antara peneliti dan guru perlu adanya persamaan persepsi mengenai tujuan penelitian, karakteristik penelitian, langkah penelitian, dan pelaksanaan penelitian
2. Pengenalan Awal Keterampilan Membaca Pemahaman dengan Pendekatan Quantum Learning
Peneliti memberikan pretes pada siswa pada siswa sebelum mendapat tindakan apapun. Selain itu, mengamati pelaksanaan pembelajaran membaca pemahaman dalam beberapa pertemuan. Melalui kegiatan ini diusahakan dapat mengukur tingkat keterampilan membaca pemahaman serta kesulitan yang dialami siswa.
b. Langkah-langkah Tindakan
1. Perencanaan Tindakan
Perencanaan tindakan dilakukan berdasarkan hasil pengamatan dan pre-tes dengan guru kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun. Rencana tindakan meliputi perbaikan dalam bentuk kegiatan pembelajaran. Perencanaan tindakan juga mempertimbangkan teori yang relevan dan hasil pengumpulan data yang diperoleh dari instrumen lain. Rencana tindakan ini da1am bentuk siklus-siklus. Dalam penelitian ini terdapat tiga siklus dan pelaksanaan setiap siklusnya kurang lebih selama dua minggu. Setiap siklus memuat beberapa langkah dengan memberikan pelatihan membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning tiga siklus mampu menyelesaikan masalah dan keterampilan membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning.
2. Pelaksanaan Tindakan
Tindakan dilakukan berdasarkan rencana yang telah disusun. Saat pelaksanaan pembelajaran melalui pelatihan membaca pemahaman guru harus benar-benar melaksanakan rencana pembelajaran yang telah disusun. Dalam rencana pembelajaran tersebut telah tersusun pendekatan quantum learning tersebut antara lain : (1) latihan identifikasi paragraf induktif dan deduktif. (2)latihan menentukan gagasan utama (3) latihan menemukan kalimat utama dan kalimat penjelas (4) latihan membedakan paragraf induktif dan deduktif (5)latihan menentukan ciri-ciri paragraf induktif dan deduktif (6) latihan konsentrasi.

3. Pengamatan
Pengamatan dilakukan dengan memfokuskan pada kegiatan siswa dalam membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning. Peneliti dalam hal ini harus dengan cermat mengamati agar dapat menemukan kekurangan dalam setiap langkah untuk dapat diperbaiki pada setiap siklusnya dengan lembar pengamatan yang tersedia. Selain penerapan pelatihan dalam membaca pemahaman, peneliti juga mengukur perkembangan kecepatan membaca siswa sesuai rumusan indikator dalarn rencana pembelajaran .
4. Analisis dan Refleksi
Analisis adalah kegiatan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan pelaksanaan pembelajaran membaca pemahaman dan hasil belajar siswa yang ditunjukan dengan meningkatnya proses dan hasil pembelajaran siswa sesuai dengan rumusan indikator. Hasil evaluasi itu selanjutnya dijadikan masukan untuk merefleksi atas kegiatan yang telah dilaksanakan. Dalarn tahap ini peneliti merenungkan perbaikan yang akan direncanakan guna mengatasi kekurangan yang dijumpai pada siklus terdahulu, selanjutnya bersama guru kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun menyusun rencana pembelajaran pada siklus berikutnya untuk mengatasi masalah yang ada. Dalam penelitian ini, direncanakan dalam tiga siklus.




BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini mengenai hasil penelitian yang terdiri atas pendahuluan, deskripsi hasil penelitian, dan pembahasan.
A. Pendahuluan
Siswa mengalami kesulitan apabila harus membaca dengan memahami wacana secara mendetail. Hal ini hanya ada beberapa saja yang mampu membaca pemahaman dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan membaca siswa kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun tahun ajaran 2011/2012, Desa Mojorejo Kecamatan Taman Kota Madiun masih belum memadai. Keterampilan membaca yang belum memadai tersebut disebabkan oleh pelaksanaan pembelajaran membaca yang selama ini masih kurang kreatif dan variatif. Maka dari itu, dalam menyampaikan pembelajaran keterampilan membaca menumbuhkan minat dan semangat belajar siswa terhadap pembelajaran membaca sehingga prestasi atau hasil belajar siswa juga dapat meningkat.
Sebagai salah satu alternatif pembelajaran inovatif yang dapat mengembangkan keterampilan membaca yang dapat digunakan sebagai sarana interaksi sosial dan sekaligus menjawab masalah yang ada di sekolah. Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini apakah penggunaan pendekatan quantum learning dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran keterampilan membaca pemahaman siswa kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun tahun ajaran 2011/2012 Kecamatan Taman Kota Madiun.
Menurut hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan guru yang bersangkutan, kurang optimalnya kualitas pembelajaran keterampilan membaca pemahaman pada siswa kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun tahun ajaran 2011/2012, disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: (1) Siswa kurang antusias dalam mengikuti pelajaran. Hal tersebut terlihat saat mengikuti pelajaran membaca, siswa menunjukkan sikap acuh tak acuh dan tidak memperhatikan pelajaran dengan sepenuhnya, (2) Siswa kesulitan dalam memahami materi pelajaran bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan karena menganggap pelajaran membaca itu sulit dan membosankan, (3) Siswa merasa jenuh pada mata pelajaran bahasa Indonesia yang bersifat monoton dan kurang menarik, (4) Guru merasa kesulitan dalam membangkitkan minat siswa selama pembelajaran membaca dilaksanakan, siswa menunjukkan sikap yang kurang berminat dan kurang antusias, (5) Guru merasa kesulitan menemukan model yang tepat dalam mengajarkan materi membaca pemahaman. Selama ini dalam mengajarkan materi membaca pemahaman pada siswa guru menggunakan metode ceramah dan tugas sehingga sifatnya masih konvensional.
Adapun penyebab permasalahan yang telah dikemukakan di depan dari segi siswa antara lain: (1) siswa kurang tertarik terhadap pembelajaran bahasa Indonesia, (2) keterampilan membaca belum dapat menjadi budaya/ kebiasaan sehingga tidak bisa memaknai isi bacaan, (3) motivasi siswa masih sangat kurang (4) merasa kesulitan memahami bacaan, (5) merasa ragu-ragu saat menjawab pertanyaan pada wacana.
Kelebihan dari pendekatan quantum learning adalah: (1) menciptakan lingkungan belajar yang efektif; (2) memotivasi dan minat menumbuhkan minat dengan menerangkan kerangka yang dikenal dengan singkatan TANDUR (Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasi, Ulangi, dan Rayakan); (3) menerapkan falsafah belajar sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil belajar; (4) membangun rasa kebersamaan; (5) menumbuhkan dan mempertahankan daya ingat; (6) merangsang daya dengar anak didik; (7) tujuan pendekatan quantum learning adalah: menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dengan bantuan visual/alat peraga yang digunakan selama pembelajaran; (8) tampilan guru yang pleasant to look at.
Adapun target yang diharapkan oleh peneliti adalah keaktifan siswa selama apersepsi yang dilakukan oleh guru semakin meningkat jika pada siklus 1 diprediksikan sekitar 45% siswa yang aktif, diharapkan pada siklus 2 dapat meningkat menjadi 60% dan pada siklus 3 lebih meningkat lagi menjadi 75% atau bahkan lebih siswa yang aktif. Selanjutnya diikuti dengan keaktifan siswa selama mengikuti pembelajaran membaca dapat semakin meningkat pula . Jika pada siklus I hanya 60% siswa yang aktif, diharapkan pada siklus 2 meningkat menjadi 75% siswa yang aktif, dan pada siklus 3 menjadi 80% siswa yang aktif.
Pada penelitian ini lebih memfokuskan pada keaktifan siswa untuk dapat membaca dengan baik, percaya diri, tidak ragu-ragu, kreatif dalam mengembangkan gagasannya. Sebelum siswa membaca terlebih dahulu dipertunjukkan objek/gambar yang dipersiapkan. Berdasarkan hasil tes membaca tersebut, guru dapat mengetahui kemampuan siswa dalam membaca pemahaman. Oleh sebab itu, dalam hal ini guru mengadakan penetapan target bersama dengan peneliti untuk dapat mengetahui sejauh mana siswa dapat menangkap penjelsan yang diberikan oleh guru. Adapun target yang diterapkan oleh guru dan peneliti adalah pada siklus I diprediksikan hanya 60% siswa yang dapat menangkap penjelasan yang diberikan oleh guru, sebab pembelajaran yang diberikan oleh guru adalah pembelajaran yang inovatif yang kemungkinan besar sebelumnya siswa belum pernah mendapatkan pola mengajar seperti yang dilakukan oleh guru bersama dengan peneliti. Pada siklus 2 diprediksikan sekitar 65% siswa sudah dapat menangkap keterangan yang diberikan oleh guru. Harapan guru pada sikus 3 terdapat 75% siswa yang dapat aktif dalam menerima penjelasan yang diberikan oleh guru dan melaksanakan tugas yang telah diberikan oleh guru.
Salah satu hal yang tidak kalah pentingnya dalam penelitian ini mampu menjadikan siswa lebih paham dan terampil membaca pemahaman seta dapat memahami bacaan dengan baik. Maka dari itu guru, guru bersama dengan peneliti menetapkan target terhadap pemahaman dalam membaca. Pada siklus I ini diprediksikan target masih berada pada kondisi yang belum maksimal. Kemudian pada siklus 2 guru bersama dengan peneliti menargetkan sudah 60% siswa yang bersedia aktif dan paham dalam membaca dengan baik, selanjutnya pada siklus 3 diharapkan ada 75% siswa yang aktif dan lebih paham, serta tidak ragu-ragu dalam menjawab tes.
B. Deskripsi Hasil Penelitian
Proses penelitian dilaksanakan dalam tiga siklus yang masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan, yakni : 1) perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) observasi dan, 4) analisis dan refleksi.
1. Deskripsi Siklus I
a. Perencanaan Tindakan
Berdasarkan pada survei awal yang dilakukan dari kegiatan pratindakan, diketahui bahwa ada dua permasalahan utama yang menyebabkan siswa tidak mencapai batas minimal ketuntasan belajar. Permasalahan pertama adalah proses pembelajaran yang konvensional, sehingga menyebabkan siswa tidak aktif dalam pembelajaran. Permasalahan kedua adalah keterampilan membaca yang masih rendah.
Bertolak dari analisis itulah, peneliti berasumsi bahwa tindakan perlu dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Tahap I dari siklus I adalah perencanaan tindakan. Kegiatan perencanaan tindakan I dilaksanakan pada hari Sabtu, 10 September 2011 di ruang guru MAN 2 Madiun. Peneliti dan guru kelas XI IPS2 mendiskusikan rencana tindakan yang akan dilakukan dalam proses penelitian ini. Kemudian, disepakati bahwa pelaksanaan tindakan pada siklus I akan dilaksanakan dalam waktu dua kali pertemuan. Adapun pelaksanaannya dilakukan pada hari Senin, 19 September 2011 dan Rabu, 21 September 2011 sesuai dengan jadwal pelajaran bahasa Indonesia.
Pada kesempatan tersebut peneliti berdiskusi dengan guru sebagai kolaborator. Hal-hal yang didiskusikan antara lain: (1) peneliti menyamakan persepsi dengan guru mengenai penelitian yang dilakukan, (2) peneliti mengusulkan penerapan pendekatan quantum learning dengan penerapan metode TANDUR yaitu, tumbuhkan (T), alami (A), namai (N), demonstrasikan (D), ulangi (U), dan rayakan (R) dalam pembelajaran membaca pemahaman serta menjelaskan cara penerapannya, (3) peneliti dan guru bersama-sama menyusun RPP untuk siklus I, (4) peneliti dan guru bersama-sama merumuskan indikator pencapaian tujuan, dan (5) guru dan peneliti bersama-sama membuat lembar penilaian siswa yaitu instrument penelitian berupa tes dan nontes. Instrumen nontes digunakan untuk menilai membaca pemahaman yang dilaksanakan siswa. Instrumen nontes digunakan untuk menilai sikap siswa dalam pembelajaran membaca. Instrumen nontes ini berbentuk observasi, dan (6) menentukan jadwal pelaksanaan tindakan.
Tahap perencanaan tindakan I peneliti bersama guru merancang skenario pembelajaran membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning, yakni dengan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut.
1) Peneliti dan guru menyusun perangkat pembelajaran, berupa penentuan kompetensi dasar yang akan dicapai, perangkat pembelajaran, penentuan tema pembelajaran, menyiapkan artikel pendek, dan menyiapkan tes penilaian keterampilan membaca pemahaman.
2) Guru dan peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk materi membaca pemahaman berdasarkan silabus dari sekolah.
3) Peneliti dan guru menyusun pengembangan materi, hal ini dilakukan karena materi dalam buku pelajaran belum sesuai dengan kebutuhan anak.
4) Peneliti dan guru menyusun instrumen penilaian kinerja guru dan siswa .
5) Peneliti dan guru menyusun instrumen observasi untuk mengamati keaktifan dan sikap siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
6) Peneliti dan guru menentukan media pembelajaran yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
7) Peneliti dan guru mengadakan diskusi bersama untuk mengatasi permasalahan yang ada.
8) Peneliti bersama guru merencanakan skenario pembelajaran keterampilan membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning dengan metode TANDUR ( Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, Rayakan) yang akan digunakan dalam pembelajaran.
9) Peneliti dan guru menyusun instrumen penilaian, yakni berupa tes dan nontes.
Instrumen tes dinilai dari hasil pekerjaan siswa dalam membaca pemahaman dan beberapa soal pendukung. Sedangakan instrumen nontes dinilai berdasarkan pedoman observasi yang dilakukan oleh peneliti dengan mengamati sikap siswa selama pembelajaran berlangsung.
10) Peneliti memberi pelatihan langkah-langkah pembelajaran quantum learning di kelas.
Dari kegiatan diskusi disepakati pula bahwa tindakan dalam siklus I dilaksanakan dalam dua kali pertemuan yaitu pada hari Senin, 19 September 2011 dan Rabu 21 September 2011.
b. Pelaksanaan Tindakan Siklus I
Tindakan pertemuan pada siklus I dilaksanakan pada hari Senin 19 September (pukul 07.45 -09.15 WIB) selama dua jam pelajaran (2X45 menit) di ruang kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun. Dalam pelaksanaan tindakan I pertemuan pertama ini, guru bertindak sebagai sebagai pemimpin jalannya kegiatan belajar mengajar, sedangkan peneliti melakukan observasi terhadap proses pembelajaran dan melakukan wawancara kepada beberapa siswa setelah pembelajaran berakhir. Peneliti bertindak sebagai partisipan pasif dengan duduk di kursi paling belakang untuk mengamati jalannya pembelajaran.
Adapun urutan pelaksanaan tindakan tersebut adalah berikut ini.
a. Pada awal pembelajaran guru memulai dengan salam “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh” Siswa menjawab dengan serempak “Wa’alaikum Salam Warohmatullahi wabarokatuh”. Sebelum kita memulai pelajaran hari ini, ibu absen dulu. Hari ini siapa yang tidak masuk sekolah? Siswa menjawab Afian Ismail sama Cita Mukti sakit, Bu.”Selain itu guru melihat kebersihan kelas, kerapian dan kedisiplinan siswa pada hari itu sebagai wujud dari kepedulian guru terhadap lingkungan.
b. Selanjutnya guru memulai pembelajaran dengan kegiatan tanya jawab atau apersepsi, guru menanyakan tentang materi pembelajaran paragraf induktif dan deduktif . Berikut petikan tanya jawab yang dilakukan oleh guru dan siswa. Guru bertanya, “Siapa yang suka membaca artikel di rumah?” Guru melanjutkan pertanyaan dengan menanyakan “Siapa yang bisa menyebutkan pengertian dan ciri- ciri paragraf induktif dan deduktif ?”. Kemudian siswa diminta untuk berpendapat, dari sini guru sudah dapat mengetahui kemampuan awal siswa tentang paragraf induktif dan deduktif. Pada awalnya siswa masih malu-malu berpendapat, tapi guru terus melemparkan pertanyaan kepada siswa. Akhirnya ada Ada dua siswa yang mengangkat tangan dan bersedia berpendapat, siswa tersebut bernama Mutohar “Paragraf induktif adalah paragraf yang kalimat utamanya di akhir sedangkan paragraf deduktif adalah paragraf yang kalimat utamanya di awal.” Kemudian Meyta Aryanti berpendapat “paragraf induktif adalah dari khusus ke umum dan paragraf deduktif adalah dari umum ke khusus”
c. Guru memberikan penjelasan sekilas mengenai pengertian dan ciri-ciri paragraf induktif dan deduktif. Kemudian guru mengajak bernyanyi lagu wajib Halo-Halo Bandung.
d. Guru kemudian guru mengajak siswa untuk melihat gambar video yang bertemakan tentang pasar pasar yang ada di Indonesia dan contoh sebuah artikel pendek dari media massa. Setelah selesai penayangan, siswa disuruh menemukan dan mengungkapkan hal hal yang berkaitan dengan pasar tersebut dan jenis paragraf pada bacaan tersebut. Guru menanyakan sesuatu tentang suasana yang ada di pasar dan yang pernah mereka alami dengan pasar tersebut.
e. Guru menyuruh siswa untuk menyebutkan jenis paragraf induktif dan deduktif dari artikel bacaan yang ditayangkan tadi. Banyak siswa yang menyeletuk mengenai jenis paragraf induktif dan deduktif. Kemudian guru membagikan lembaran soal dan menyuruh siswa untuk mengerjakannya. Soal-soal tersebut tentang mengidentifikasi paragraf induktif dan deduktif dalam bacaan.
f. Setelah selesai mengerjakan soal, guru menunjuk beberapa siswa untuk membacakan hasil pekerjaannya di depan kelas. “Siapa yang berani membacakan hasil pekerjaannya di depan kelas? Beberapa siswa tunjuk jari sambil mengatakan. Saya Bu, sahut Ika Ayu. “Ya silakan! kamu ke depan!” Jawab Bu Guru.
g. Guru menyuruh siswa untuk memberikan tanggapan hasil pekerjaan yangtelah dibaca di depan tadi. Petikan ucapan guru. Siapa yang akan memberi masukkan dari hasil pekerjaan temanmu tadi. Ada satu orang yang mengangkat tangan dan bersedia berpendapat, Siswa tersebut bernama Maulida. Ya silakan! Jawab Bu Guru. Masukan Maulida diantaranya jawaban Ika Ayu tentang penemuan gagasan utama kurang, Bu. Gagasan utama itu bisa juga ditemukan pada kalimat utama, Bu. Kemudian Guru bertanya kepada siswa tentang materi yang baru saja disampaikan dengan beberapa pertanyaan. “Baik, setelah memahami materi paragraf induktif dan deduktif serta mengidentifikasi ciri- ciri paragraf induktif dan deduktif dalam bacaan, coba temukan dan berikan contoh!” Beberapa siswa megacungkan jari dan guru menunjuk siswa tersebut untuk berpendapat.
h. Guru memberikan simpulan dari hasil pembelajaran hari itu. Berikut petikan kata-kata guru. Diantaranya adalah: “Hasil pekerjaan kalian sudah bagus, tetapi kalian kurang cepatdan tepat dalam memahami sebuah bacaan, maka kalian harus banyak berlatih membaca pemahaman sehingga kalian terlatih untuk memahami sebuah bacaan dan dapat menjawab pertanyaan dengan baik dan benar! “Untuk itu kalian harus belajar di rumah!” Siswa menjawab dengan serentak, “Ya, Bu!”
i. Pada akhir pembelajaran guru bersama siswa memberikan applause kepada siswa yang mampu berpendapat dengan baik dan benar melalui yel-yel kelas secara serentak.
j. Guru mengakhiri pembelajaran dengan mengucapkan terima kasih dan salam. Petikan kata-kata Guru, “Terima kasih atas perhatian kalian dan sampai bertemu pada pertemuan berikutnya, Insya Allah. “Wassalamu’alaikum Wr.Wb” Siswa menjawab dengan serentak “Wa’alaikum salam Wr.Wb”.
Tindakan pertemuan kedua pada siklus I dilaksanakan pada hari Rabu, 21 September 2011 (Pukul 07.45-08.30) selama satu jam pelajaran (1X45 menit) di ruang kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun. Di ruangan tersebut telah dipersiapkan instrumen yang akan digunakan sebagai pembelajaran membaca pemahaman yang akan dilaksanakan pada siswa kelas XI. Media tersebut berupa laptop, speaker, LCD.
Adapun urutan pelaksanaan tindakan tersebut sebagai berikut.
a. Pada awal pembelajaran guru memberi salam kepada siswa. Petikan kata-kata guru sebagai berikut, “Assalamualaikum Wr. Wb. Siswa serentak menjawab Waalaikum salam. Guru menanyakan keadaan siswa pada hari itu. Petikan Guru sebagai berikut, Bagaimana keadaan kalian hari ini sehat dan baik –baik saja? Siswa serentak menjawab “Alhamdulillah sehat dan baik-baik saja, Bu. Bu, kita melanjutkan pelajaran membaca pemahamn lagi, Bu?” Tanya siswa spontan, “Ya” jawab guru.
b. Selanjutnya guru memulai pelajaran dengan kegiatan tanya jawab atau apersepsi, guru menanyakan tentang materi pelajaran pada pertemuan kemarin. Petikan pertanyaan guru, Siapa yang bisa menyebutkan hal hal yang menarik dari gambar yang ibu tunjukkan tersebut? Ada dua orang siswa yang mengangkat tangan, siswa itu bernama Eka Erbhaena dan Aulia Mu’tashim. Eka menjawab, itu gambar suasana Ibu Kota Jakarta. Sedangkan Aulia menjawab itu gambaran kehidupan kesibukan orang-orang Jakarta, Bu.”
c. “Mari anak-anak, kalian masih ingat lagu yang ada kaitannya dengan gambar ibu kota Jakarta?” Siswa menjawab dengan serentak, Masih Bu! Lagu apa, coba sebutkan judulnya!” Lagu “ Abang Jakarta “ jawab salah seorang siswa yang bernama Ella Resika Putri. “Ya, mari kita bernyanyi bersama-sama.” Siswa dengan riang gembira menyanyikan lagu “Abang Jakarta.” Setelah selesai menyanyikan lagu lagu, guru bertanya. Petikan pertanyaan guru,”Sebutkan hal-hal yang menarik dari gambar tersebut!”
d. Selanjutnya guru bertanya kepada siswa. Petikan pertanyaan guru “Bagaimana tugas kalian tentang membaca pemahaman bacaan artikel pertemuan kemarin, apakah sudah selesai? Siswa menjawab dengan serentak belum?” Petikan kata-kata siswa”Belum,Bu!” “ Baiklah, pertemuan hari ini nanti akan kita gunakan untuk melanjutkan memabaca pemahaman.” Guru menyuruh siswa untuk menyebutkan kembali ciri-ciri paragraf, kalimat utama dan kalimat penjelas, gagasan utama dalam paragraf, serta perbedaan paragraf induktif dan deduktif dari bacaan artikel.
e. Setelah selesai, menyuruh siswa untuk membacakan hasil pekerjaan di depan kelas “Nah silakan yang belum tampil segera mempersiapkan diri untuk tampil, dan seperti pelajaran kemarin siswa yang lainnya ikut menilai bagaimana hasil pekerjaan dari temanmu”, kata Bu Guru. Apabila ada yang memberi masukan bisa disampaikan nanti setelah temanmu selesai membacakan di depan kelas, “Paham, anak-anak?: “Paham Bu,” jawab anak-anak dengan serentak.
f. “Baik, sekarang silakan kita memulai kegiatan membacakan hasil pekerjaan ke depan” Siapa yang ingin lebih dahulu?” “Saya Bu,” jawab Elsinta Meina. Setelah Elsinta, siapa lagi?” Sambil mengacungkan jari, Binti Nur menjawab, “Saya Bu!”
g. Guru mengamati kegiatan yang dilaksanakan oleh siswa sambil memberikan pengarahan apabila ada yang kurang tepat, siswa diminta untuk memberi masukan. Pada kegiatan menumbuhkan kembali rasa kepercayaan diri siswa, tetapi juga untuk menumbuhkan keberanian siswa dalam berbicara, supaya perasaan takut, malu, ragu-ragu yang dulunya sering menjadi alasan bagi siswa menjadi hilang dan siswa menjadi lebih berani.
h. Pada akhir pembelajaran guru memberikan reward kepada siswa berupa pujian dengan kata-kata:”Bagus kamu Eka Erbhaena “ Kalian sudah bisa membaca pemahaman dengan baik, bisa menemukan gagasan utama, kalimat utama dan kalimat penjelas serta membedakan paragraf induktif dan deduktif dalam bacaan artikel.” Siswa dengan serentak memberikan applause kepada Elsinta Meina.
i. Pada akhir pelajaran guru bersama siswa memberikan applause kepada siswa yangmemperoleh nilai paling baik. Guru mengakhiri pembelajaran dengan mengingatkan kepada siswa bahwa membaca bukanlah hal yang sulit dan membosankan tetapi diperlukan keinginan untuk mau berlatih. Kemudian diakhiri dengan ucapan salam “Wassalamualaikum Wr. Wb.” Siswa menjawab dengan
serentak “Waalaikum salam Wr. Wb.”

a. Observasi dan Interpretasi
Peneliti mengamati proses pembelajaran membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning di kelas XI IPS2 MAN 2 Madiun. Pada pelaksanaan proses pembelajaran membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning penerapan metode TANDUR, guru mengajarkan materi membaca pemahaman dengan tema “Ekonomi Kuat Rakyat Sejahtera.” Pada awal pembelajaran, guru melakukan apersepsi dengan menerangkan mengenai tema pembelajaran. Kemudian, guru menjelaskan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran yang akan dicapai dan memberi motivasi kepada siswa agar rajin belajar. Setelah itu, siswa mulai mengerjakan sesuai dengan tugasnya.
Setelah siswa tertata dengan baik guru menerangkan mekanisme kerja dan menjelaskan materi membaca pemahaman secara garis besar. Guru meminta siswa membuka teks bacaan dengan judul Barang Impor Menjelajah Negeri Ini yang ada di buku paket. Guru menugasi masing-masing siswa untuk mengidentifikasi paragraf induktif dan deduktif, kalimat utama dan penjelas, gagasan utama, selanjutnya berani mengungkapkan secara ringkas isi bacaan tersebut. (Guru memandu siswa untuk menemukan paragraf induktif dan deduktif, beberapa kalimat utama dan penjelas yang merupakan gagasan utama bacaan tersebut dan membuat ringkasannya).
Setelah menugasi siswa untuk berdiskusi, guru menunjuk siswa tersebut untuk mempresentasikan hasil diskusinya tersebut di depan teman-temannya. Mereka dapat membaca pemahaman secara bergantian dan saling melengkapi isinya. Setelah siswa tampil, guru memberikan tugas mengerjakan soal yang sudah disiapkan oleh guru (tugas ini sebagai proses membaca pemahaman). Setelah semua siswa mengerjakan tes membaca pemahaman, guru dan siswa menyimpulkan terhadap hasil pembelajaran dan guru memberi tahu tiga siswa yang memperoleh nilai terbaik. Dan memberikan tepuk tangan sebagai ungkapan penghargaan.
Dari kegiatan tersebut, diperoleh deskripsi tentang jalannya proses belajar mengajar membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning penerapan metode TANDUR. Sebagai berikut.
1) Sebelum mengajar guru telah membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan dijadikan sebagai pedoman dalam mengajar. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tersebut sesuai dengan kurikulum yang berlaku di sekolah tersebut yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
2) Untuk meningkatkan motivasi dan minat, guru melaksanakan kegiatan pembelajaran membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning dengan benar, yakni dengan cara mengajar secara konseptual. Artinya, guru mengajar dengan arah dan tujuan yang jelas dan terencana. Pada awal pembelajaran, guru dengan jelas menggunakan apa yang akan diajarkan pada hari itu kepada siswa, yaitu membaca pemahaman. Sebelum menugasi siswa membaca, guru terlebih dahulu menjelaskan mengenai pengertian paragraf induktif dan deduktif. Sebelum menutup pelajaran untuk pertemuan berikutnya siswa disuruh membawa gambar mengenai kehidupan pasar pasar di Indonesia.
3) Setelah menyampaikan materi pelajaran, pada pertemuan selanjutnya guru mengajak siswa untuk mengamati gambar yang telah dipersiapkan yakni gambar macam- macam jenis pasar di Indonesia. Siswa diminta untuk mencermati dan mengingat kembali hal-hal yang penting sesuai dengan gambar tersebut. Usai mengamati dan mengumpulkan ingatan, kembali guru menugasi siswa untuk menjawab pertanyaan terkait dengan gambar dan contoh paragraf yang mereka amati.
4) Guru memotivasi beberapa siswa agar mau membaca bahan bacaan dengan pendekatan quantum learning. Namun, tidak ada siswa yang mau, kemudian guru menunjuk beberapa siswa dan meminta siswa yang lain untuk mencermati dan memberikan komentar serta masukan. Guru menjelaskan mengenai penilaian yang dilakukan.
5) Beberapa kelemahan yang dimiliki oleh guru terlibat dalam kegiatan pembelajaran, yaitu:
a) Posisi guru lebih banyak di depan kelas dan duduk di kursi pada waktu mengajar menyebabkan ia kurang berinteraksi dengan siswa, sehingga ia tidak dapat memonitor siswa yang duduk di bagian belakang saat mengerjakan tugas.
b) Guru kurang memahami dalam menerapkan pendekatan quantum learning dengan metode TANDUR dalam KBM.
c) Guru tidak memberikan umpan balik kepadasiswa, tentang seberapa jauh tingkat pemulihan siswa setelah materi tersebut disampaikan
d) Guru masih belum bisa membangkitkan semangat siswa untuk membaca pemahaman.
Selanjutnya, kelemahan dari sisi siswa dapat diidentifikasi beberapa kelemahan, yaitu:
a) Pada awal pembelajaran membaca pemahaman, keaktifan proses pembelajaran yang menyenangkan belum tampak dan masih rendah, siswa terlihat belum sepenuhnya aktif dalam pembelajaran. Mereka lebih banyak bercanda dengan guru dan teman sebangkunya.
b) Siswa belum mampu membaca pemahaman dengan baik;
c) Siswa lain yang sedang tidak tampil presentasi mengganggu temannya yang sedang tampil, bahkan ada yang berbicara dengan temanya yang lain dan membuat gaduh;
d) Siswa yang belum mencapai batas ketuntasan sebesar 45,16%;
e) Mayoritas siswa presentasi dengan suara pelan sehingga siswa bagian belakang tidak bisa mendengarnya.
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap kegiatan proses belajar mengajar membaca pemahaman, diperoleh gambaran tentang motivasi dan aktivitas siswa selama kegiatan belajar Sedangkan dari penerapan pendekatan quantum learning dengan metode TANDUR ditemukan kelemahan yang berupa;
a) Pendekatan quantum learning belum sama sekali diterapkan di MAN 2 Madiun, sehingga guru belum siap dalam menjalankannya.
b) Dalam penerapan metode TANDUR siswa masih terlihat pasif, belum banyak yang aktif.
6) Berdasarkan hasil; observasi terhadap proses pembelajaran tersebut diperoleh gambaran tentang keaktifan dan aktivitas siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung , yaitu sebagai berikut ini.
(1) Siswa yang aktif selama pemberian apersepsi sebanyak (17 siswa) 54,84% dan keaktifan selama proses pembelajaran sebesar (16 siswa) 51,61%, sedangkan (15 siswa) 48,39% lainnya tampak berbicara dengan temannya, melamun, dan menelungkupkan kepalanya di atas meja, memainkan benda-benda tertentu pulpen, penggaris, buku, dan sebagainya), melihat gambar milik teman. Dari hasil wawancara dengan siswa yang kurang aktif selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, diperoleh penjelasan bahwa diantara mereka ada yang tidak berminat dengan kegiatan membaca, mengantuk, dan malas.
(2) Siswa yang melaksanakan proses pembelajaran dengan baik dan menyenangkan sebanyak 16 (51,61%) anak, sedangkan yang lain belum melaksanakan proses pembelajaran dengan baik dan menyenangkan sebanyak 15 (48,39%) anak lainya kurang memperhatikan penjelasan dari guru. Siswa tersebut kebanyakan berada pada posisi tengah hingga belakang, sedangkan posisi guru lebih banyak berada di depan.
(3) Siswa yang antusias dan tuntas menjawab soal-soal (lisan maupun tulis) sebanyak 17 (54,84%) anak, sedangkan 14 (45,16%) anak lainya diam saja saat diberi pertanyaaan lisan dan mengerjakan tidak sungguh-sungguh saat diminta mengerjakan pertanyaan tertulis.
(4) Hasil pembelajaran membaca pemahaman pada siklus I disajikan dalam tabel berikut.




Tabel 4.1. Nilai Keterampilan Membaca Pemahaman Siklus I
No. Nilai Membaca Pemahaman Frekuensi Frekuensi (%) Keterangan
1. 65-69 6 19,35% Kurang sekali
2. 70-74 8 25,80% kurang
3. 75-79 10 32,25% Cukup baik
4. 80-84 7 22,59% Baik
5. 85-89 0 0% Baik sekali
Jumlah 31 100%
.Dari data tabel di atas dapat disajikan berupa grafik sebagai berikut.

Gambar 4.1. Grafik Nilai Keterampilan Membaca Pemahaman
Siswa kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun
Hasil tes membaca pemahaman yang disajikan pada tabel dan grafik di atas menunjukkan siswa yang sudah mencapai batas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan 75 didapat 17 siswa (54,84%) sudah mampu membaca pemahaman dengan cukup baik, sedangkan 14 siswa (45,16%) masih perlu perbaikan. Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa proses pembelajaran pada silkus berjalan dengan baik.
c. Analisis dan Refleksi
Berdasarkan hasil observasi tersebut, dilakukan analisis dan refleksi sebagai berikut.
(1) Guru belum mampu menerapkan pendekatan quantum learning dengan sempurna, masih banyak kekurangan yang dilakukan oleh guru terkait kesiapan media dan topik pembelajaran dalam pelaksanaan metode TANDUR.
(2) Guru tidak hanya berada di depan kelas dan duduk di kursi saat memberikan penjelasan kepada siswa. Guru juga harus berkeliling memonitor siswa yang berada di kursi bagian belakang dan memberi pertanyaan kepada siswa yang ramai agar mereka juga ikut aktif dalam kegiatan belajar mengajar dan merasa diperhatikan guru.
(3) Untuk mendorong siswa agar secara sukarela mau mengemukakan pendapat, menjawab pertanyaan, dan mau membaca pemahaman dengan tepat sebaiknya guru memberikan reward dan feedback kepada siswa, misalnya berupa pujian seperti; bagus sekali, baik sekali, bagus, dan sebagainya atau pun dengan memberi nilai tambahan kepada siswa yang tampil bagus.
(4) Masalah keberhasilan proses pembelajaran yang menyenangkan, dapat diatasi guru dengan memberikan penjelasan kepada siswa tentang kualitas proses dan keberhasilan tujuan belajar. Penjelasan ini dapat dilakukan dengan cara meminta siswa berdiskusi dan presentasi secara serius tapi menyenangkan untuk mencapai tujuan belajar.
(5) Untuk masalah kurang cermat dalam menemukan paragraf induktif dan deduktif, gagasan utama, kalimat utama dan kalimat penjelas pada bacaan, dapat diatasi dengan guru memberi penjelasan kepada siswa bahwa gagasan utama dapat diambil dari kalimat utamanya serta tentang pengertian paragraf induktif dan deduktif. Untuk itu, siswa harus memahami dengan baik teks bacaan yang ada agar mampu meringkas isi bacaan tersebut.
(6) Untuk mengatasi siswa yang mengganggu siswa lain yang sedang tampil atau membuat gaduh kelas, siswa diberi motivasi yang lebih untuk memperhatikan siswa lain yang sedang tampil. Setelah itu, siswa akan diajak guru untuk mengevaluasi penampilan siswa yang baru saja tampil.
(7) Berdasarkan hasil analisis dan refleksi, tindakan padasiklus I dikatakan berhasil akan tetapi belum mencapai hasil yang maksimal. Peningkatan memang terjadi pada beberapa indikator yang telah ditentukan pada survei awal. Akan tetapi, nilai rata-rata membaca pemahaman siswa masih jauh dari batas Kriteria Ketuntasan Minimal hasil belajar (KKM=75) dibandingkan dengan nilai pre-tes membaca pemahaman, nilai rata-rata kelas meningkat sebesar 8,6 point dari 74,5 menjadi 65,50. Nilai tertinggi yang diraih siswa adalah 83. Adapun nilai terendah siswa adalah 66.
(8) Guru memotivasi siswa untuk bersuara jelas dan memberitahu siswa bahwa suara mereka direkam agar mereka lebih termotivasi untuk memperjelas suaranya.

2. Deskripsi Siklus II
a. Perencaaan Tindakan II
Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 1 Oktober 2011 di ruang guru, peneliti dan guru kelas XI mengadakan diskusi. Peneliti dan guru sepakat bahwa pelaksanaan tindakan selanjutnya, pada siklus II akan dilaksanakan pada hari Senin, 3 Oktober 2011 (pertemuan I) dan Rabu, 5 Oktober 2011 (pertemuan II). Kemudian peneliti dan guru mendiskusikan rancangan tindakan yang akan dilaksanakan dalam proses penelitian selanjutnya. Dalam kesempatan kali ini, penelitian disampaikan dengan analisis hasil observasi terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus I. Penelitian ini disampaikan dengan segala kelebihan dan kelemahan selama berlangsungnya proses pembelajaran membaca pemahaman pada siklus I.
Kelebihan yang sudah mulai tampak selama berlangsungnya proses pembelajaran keterampilan membaca pemahaman:
(1) Siswa sudah mulai diberi tindakan (treatment) guru memberi stimulan berupa gambar. Guru mengajak siswa berpikir dan menemukan hal-hal yang menarik dari gambar tersebut dikaitkan dengan tema membaca paragraf induktif dan deduktif. Kemudian siswa baru diarahkan untuk membaca wacana yang disediakan.
(2) Siswa mulai tertarik dengan teknik mengajar guru melalui pendekatan quantum learning yang dikemas secara aktif, kreatif, dan menyenangkan diiringi instrumentalia.
(3) Siswa yang sudah membaca bacaan dan menemukan paragraf induktif dan deduktif secara individu untuk menyampaikan hasilnya di depan kelas.
(4) Setidaknya pada tahap ini sudah dapat mencairkan ketegangan, kecanggungan, dan ketidakbiasaan yang selama ini menjadi alasan bagi siswa ketika harus tampil di depan teman-teman maupun gurunya.
(5) Pada tahap ini siswa sudah bersedia tampil bercerita tanpa diminta oleh guru, mereka sudah mempunyai kesadaran untuk bersedia unjuk kemampuan tanpa disuruh oleh guru, bahkan siswa yang tadinya masih malu-malu bisa lebih berani untuk tampil tanpa disuruh oleh guru.
(6) Ekspresi siswa ketika melihat penampilan temannya saat membacakan hasil karyanya di depan, ada hal-hal yang lucu yang membuat siswa yang lainnya tertawa, ada pula yang beberapa kata yang membuat siswa yang lainya tidak mempercayai (berlebih-lebihan) dan ada pula siswa yang terlalu polos dan lugu dalam menyampaikan hasilnya.
Untuk mengatasi masalah berbagai kekurangan yang ada, akhirnya peneliti dan guru mengambil keputusan sebagai berikut.
(1) Guru tidak hanya berada di depan kelas dan duduk di kursi saat memberikan penjelasan kepada siswa. Guru juga harus memonitor siswa yang berada di kursi bagian belakang dan memberi pertanyaan kepada siswa yang ramai agar mereka juga ikut aktif dalam kegiatan belajar mengajar dan merasa diperhatikan guru.
(2) Untuk mendorong siswa agar secara sukarela mau mengemukakan pendapat, menjawab pertanyaan, dan mau membaca pemahaman, sebaiknya guru memberikan reward dan feedback kepada siswa, misalnya berupa pujian seperti : bagus sekali, baik sekali, tepat sekali, bagus, dan sebagainya atau pun dengan memberikan nilai tambahan siswa yang tampil bagus.
(3) Masalah proses pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa dapat diatasi dengan guru memberikan penjelasan kepada siswa tujuan pembelajaran pendekatan quantum learning metode TANDUR dan keharusan bersemangat dalam pembelajaran di kelas. Penjelasan ini dapat dilakukan dengan cara meminta kepada siswa dalam berdiskusi dan presentasi secara tepat dan sesuai untuk mencapai tujuan belajar yang menyenangkan.
(4) Untuk masalah kurang terampil dalam mengidentifikasi gagasan utama, kalimat utama dan kalimat penjelas , paragraf deduktif dan induktif serta meringkas bacaaan, dapat diatasi dengan guru memberi penjelasan kepada siswa bahwa gagasan utama dapat diambil dari kalimat utamanya, penjelasan perbedaan paragraf induktif dan deduktif, dan siswa diharapkan lebih memperhatikan teks bacaan yang ada agar mampu meringkas dan menyimpulkan isi bacaan tersebut.
(5) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat lebih aktif dari sebelumnya, dengan cara memupuk keberanian siswa untuk mengemukakan pendapat di depan kelas.
(6) Untuk mengatasi siswa yang mengganggu siswa lain yang sedang tampil atau membuat gaduh kelas, siswa diberi motivasi yang lebih mengena untuk memperhatikan siswa lain yang sedang tampil. Setelah itu, siswa akan diajak guru untuk mengevaluasi penampilan temannya yang baru saja tampil.
(7) Guru memotivasi siswa untuk bersuara jelas dan memberitahu siswa lain bahwa suara mereka direkam agar mereka lebih termotivasi untuk memperjelas suaranya.
Selain itu, yang sangat ditekankan dalan siklus II ini peneliti juga akan menambah pengetahuan siswa tentang langkah-langkah membaca pemahaman, teknik dan strategi membaca pemahaman. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan setelah dianalisis hasil tes membaca pemahaman siswa masih belum bisa membedakan paragraf induktif dan deduktif dalam bacaan, menemukan kalimat utama dan kalimat penjelas dengan tepat, mengenali pokok-pokok pikiran yang terungkapkan dalam wacana, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya secara eksplisit dalam wacana, mampu menarik inferensi tentang isi wacana, mampu mengenali dan memahami maksud dan pesan penulis sebagai bagian dari pemahaman tentang penulis. Kemudian hasil tes membaca mereka pada siklus sebelumnya akan dibacakan dan bersama guru akan menganalisis salah satu pekerjaan siswa untuk diperbaiki dan dijadikan contoh.
Sebagai upaya mengatasi kelemahan dan teratasinya satu masalah pendekatan quantum learning tersebut diharapkan mampu menutupi kekurangan dari masalah yang lainya. peneliti dan guru kemudian menyusun rencana pembelajaran membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning. Berdasarkan pertimbangan bersama, peneliti dan guru kembali memberikan pembelajaran membaca pemahaman sesuai dengan silabus KTSP kelas IX. Pada siklus pertama guru menerapkan pendekatan quantum learning dengan media gambar jenis- jenis pasar-pasar di Indonesia untuk mengingat kembali memori ingatanya. Pada kesempatan ini guru juga akan kembali menggunakan media pembelajaran untuk membantu kelengkapan komponen quantum learning, diantaranya media gambar dan tayangan melalui LCD dengan menerapakan metode TANDUR bermediakan gambar Tanaman Obat-obatan dan menyanyikan lagu “Indonesia Tanah Airku”
Tahap perencanaan tindakan II meliputi kegiatan sebagai berikut.
(1) Peneliti dan guru merancang skenario pembelajaran membaca pemahaman, penentuan tema pembelajaran, menyiapkan artikel pendek, dan menyiapkan tes penilaian keterampilan membaca pemahaman untuk pertemuan pertama (Senin,3 Oktober 2011).
(2) Peneliti menyusun pedoman observasi untuk mengamati keaktifan, dan sikap siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
(3) Peneliti bersama guru merencanakan skenario pembelajaran keterampilan membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning, yakni dengan langkah –langkah sebagai berikut.
a) Guru memberikan salam dan mengecek kehadiran siswa, kebersihan kelas dan kerapian siswa sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan dan kedisiplinan.
b) Guru memberikan apersepsi, yakni menggali pengetahuan awal siswa berkenaan dengan perbedaan paragraf induktif dan deduktif secara komunikatif, serta menyegarkan kembali ingatan siswa terhadap membaca quantum learning padapertemuan yang lalu, misalnya anak-anak perhatikan gambar berikut ini! Cermati apa saja yang tampak pada gambar tersebut! Kemudian sebutkan ciri-ciri gambar yang kalian amati.
c) Guru menjelaskan siswa tentang mengidentifikasi kalimat utama, gagasan utama, perbedaan , ciri-ciri paragraf induktif dan deduktif pada tiap-tiap paragraf pada bacaan artikel berdasarkan hasil paparan siswa.
d) Guru memberi kepada kesempatan siswa untuk membacakan hasil pekerjaannya di depan kelas..
e) Dari hasil pekerjaan siswa ternyata mereka masih kurang tepat dalam menentukan gagasan utama pada masing –masing paragraf dalam bacaan artikel tersebut.
f) Siswa kemudian diajak untuk mengidentifikasi salah satu hasil pekerjaan mereka, ternyata hasil yang diperoleh kurang memuaskan.
g) Guru menerangkan kepada siswa materi membaca pemahaman paragraf induktif dan deduktif dengan metode TANDUR dalam pendekatan quantum learning.
h) Guru dan siswa melakukan refleksi terhadap proses belajar mengajar yang telah dilakukan.
(4) Guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk materi membaca Pemahaman.
(5) Peneliti dan guru mempersiapkan media pembelajaran berupa gambar tampilan LCD terkait dengan topik “ Tanaman Obat-obatan.”
(6) Peneliti dan guru menyusun instrument penelitian, yaitu berupa tes dan nontes. Instrumen tes dinilai dari hasil pekerjaan siswa dalam membaca pemahamandan beberapasoal pendukung. Sedangkan instrument nontes dinilai berdasarkan pedoman observasi yang dilakukan oleh peneliti dengan mengamati sikap siswa selama pembelajaran berlangsung.
(7) Dalam pembuatan rencana persiapan pengajaran penilaian proses untuk siswa berdasarkan lembar penilaian proses.
Dari kegiatan diskusi disepakati pula bahwa tindakan dalam siklus II dilaksanakan dalam dua kali pertemuan yaitu pada hari Senin, 3 Oktober 2011 dan Rabu 5 Oktober 2011.
b. Pelaksanaan Tindakan II
Pertemuan pertama pada siklus II dilaksanaksanan pada hari Senin, 3 Oktober 2011 selama 2 jam pelajaran, akan dilaksanakan tindakan II. Satu kali pertemuan dilaksanakan selama 2X 45. Sesuai dengan RPP pada Siklus II ini, pembelajaran dilakukan oleh guru kelas, sedang pembelajaran dan melakukan wawancara kepada beberapa siswa setelah pembelajaran berakhir sedangkan peneliti melakukan observasi terhadap proses tindakan tersebut sebagai berikut.
(a) Pada awal pembelajaran guru memulai dengan salam “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh” Siswa menjawab dengan serempak “Wa’alaikum Salam Warohmatullahi wabarokatuh”. Sebelum kita memulai pelajaran, hari ini siapa yang tidak masuk?” Siswa menjawab “Nihil Bu”
(b) Selanjutnya guru memulai pembelajaran dengan mengajak bernyanyi bersama-sama lagu “Indonesia Tanah Airku” Siswa dengan penuh riang menyanyikan lagu tersebut. Dilanjutkan dengan kegiatan tanya jawab atau apersepsi, guru menanyakan tentang materi pembelajaran menyimak puisi pada pertemuan sebelumnya. Berikut petikan tanya jawab yang dilakukan oleh guru dan siswa. Guru bertanya, “Anak-anak, masih ingat paragraf induktif dan induktif, yang pada petemuan lalu sudah kita pelajari. Kemudian siswa diminta untuk berpendapat, dari sini guru sudah dapat mengetahui kemampuan awal siswa tentang paragraf induktif dan deduktif. Hampir semua siswa serempak menjawab “masih, Bu” Kemudian guru menyuruh siswa menyebutkannya, dengan serempak mereka menjawab. “
(c) Guru membahas salah satu hasil pekerjaan siswa.
(d) Guru menjelaskan materi perbedaan paragraf induktif dan deduktif.
(e) Guru menayangkan gambar dan video mengenai tanaman obat-obatan di Indonesia. Guru menyuruh siswa mengamati gambar tersebut dengan seksama. Guru bertanya, gambar apakah ini anak-anak?” Siswa menjawab: “Kunir, jahe, daun sere.”” Siapa yang di rumah mempunyai tanaman obata-obatan seperti ini?” “Saya Bu” Jawab beberapa siswa dengan serentak.
(f) Guru mengajak siswa untuk menyanyikan lagu “Aku Cinta Indonesia” siswa menyanyikan lagu dengan penuh riang gembira.
(g) Guru membagikan lembaran soal dan menyuruh siswa untuk mengerjakannya. Soal-soal tersebut tentang perbedaan, ciri-ciri paragraf induktif dan deduktif,gagasan utama, kalimat utama dan kalimat penjelas pada masing-masing paragraf pada bacaan artikel.
(h) Setelah selesai mengerjakan siswa diminta untuk mengumpulkan hasil pekerjaannya.Kemudian guru menunjuk beberapa siswa untuk diminta membacakan hasil tulisan di depan kelas.” Siapa yang berani membacakan hasil pekerjaan kalian di depan kelas?” Beberapa anak tunjuk jari sambil mengatakan. “Saya Bu” Sahut Anang Yulianto. “Ya silakan, kamu ke depan!” Jawab Bu Guru.
(i) Guru menyuruh siswa lain untuk memberikan tanggapan hasil pekerjaan yang telah dibacakan temannya. “Siapa yang akan memberi masukan dari hasil pekerjaan temanmu?”. “Saya Bu” Sahut Binti Nur. “Ya, silahkan” jawab Bu Guru. Masukan dari Binti Nur diataranya adalah pada paragraf kedua harusnya termasuk jenis paragraf induktif bukan deduktif. Gagasan utamanya adalah itulah sekelumit sejarah pemakaian minyak jarak. Bukan kebijakan yang diterapkan Jepang.”
(j) Guru memberikan simpulan dari hasil pembelajaran hari itu, diantaranya kata-kata guru sebagai berikut. “Anak-anak hasil pekerjaan kalian sudah bagus, tetapi menentukan paraf induktif dan deduktif ,gagasan utama dalam tiap-tiap paragraf kurang tepat, maka perlu ditingkatkan belajarnya!” Untuk itu kalian kalian harus belajar di rumah ya!” siswa menjawab dengan serentak ,”Ya,Bu.!”
(k) Guru memberi penjelasan kepadasiswa mengenai hal-hal yangmasih belum dipahami oleh siswa, dari kegiatan itu sedikit banyak siswa sudah tergerak untuk mau bertanya, tanpa merasa malu lagi atau takut salah.
(l) Pada akhir pembelajaran guru bersama siswa memberikan applause kepada siswa yang mampu berpendapat dengan baik dan benar serta hasil pekerjaannnya baik, melalui yel-yel kelas secara serentak.
(m) Guru mengakhiri pembelajaran dengan mengucapkan terima kasih dan salam. Terima kasih atas perhatian kalian dan sampai bertemu pada pertemuan berikutnya , Insya Allah “Wassalamu’alaikum Wr.Wb” Siswa menjawab dengan serentak “Wa’alaikum salam Wr.Wb”.
Pada pertemuan kedua siklus II ini masih dengan tindakan yang sama yaitu melanjutkan jegiatan pada pertemuan pertama yang belum selesai. Pada pertemuan kedua ini dilaksanakan hari Rabu, 5 Oktober 2011. Adapun urutan pelaksanaan kedua adalah sebagai berikut.
(a) Pada awal pembelajaran guru memberi salam kepada siswa. Petikan kata-kata guru sebagai berikut, “Assalamualaikum Wr. Wb. Siswa serentak menjawab Waalaikum salam. Guru menanyakan keadaan siswa pada hari itu. Petikan Guru sebagai berikut, Bagaimana keadaan kalian hari ini sehat dan baik –baik saja? Siswa serentak menjawab “Alhamdulillah sehat dan baik-baik saja, Bu. Bu, kita melanjutkan pelajaran membaca pemahaman lagi, Bu?” Tanya siswa spontan, “ya” jawab guru. Dengan riang siswa menjawab yes yes yes. Guru membuka pelajaran denagn memotivasi siswa sambil membawa gambar- gambar yang akan diamati siswa. Kemudian mengajak siswa untuk menyanyikan lagu sesuai dengan gambar tersebut. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan minat belajar siswa serta belajar untuk dapat mencatat hal- hal yang penting berkaitan dengan gambar tersebut.
(b) Mari anak-anak, kalian masih ingat lagu yang ada kaitannnya dengan gambar tersebut?” Siswa menjawab dengan serentak, “Masih Bu!” Lagu apa, coba sebutkan judulnya” Indonesia Tanah Airku” Jawab salah seorang siswa. “Ya, mari kita bernyanyi bersama-sama.” Siswa dengan penuh riang gembira menyanyikan lagu Indonesia Tanah Airku.”
(c) Guru memulai pelajaran dengan kegiatan tanya jawab atau apersepsi, guru menanyakan tentang materi pelajaran pada pertemuan kemarin. Petikan pertanyaan guru, Siapa yang bisa menyebutkan hal hal yang menarik dari gambar yang ibu tunjukkan tersebut? Ada dua orang siswa yang mengangkat tangan, siswa itu bernama Eka Erbhaena dan Aulia Mu’tashim. Eka menjawab, itu gambar macam-macam bumbu dapur yang bias dipakai obat Bu. Sedangkan Aulia menjawab itu tanaman apotek hidup, Bu.”
(d) Selanjutnya guru bertanya kepada siswa. Petikan pertanyaan guru “Bagaimana tugas kalian tentang membaca pemahaman bacaan artikel pertemuan kemarin, apakah sudah selesai? Siswa menjawab dengan serentak belum?” Petikan kata-kata siswa”Belum,Bu!” “ baiklah, pertemuan hari ini nanti akan kita gunakan untuk melanjutkan memabaca pemahaman.” Guru menyuruh siswa untuk menyebutkan kembali ciri-ciri paragraf, kalimat utama dan kalimat penjelas, gagasan utama dalam paragraf, serta perbedaan paragraf induktif dan deduktif dari bacaan artikel .Siswa melaksanakan tugas guru denghan penuh antusias.
(e) Setelah selesai, menyuruh siswa untuk membacakan hasil pekerjaan di depan kelas “Nah silakan yang belum tampil segera mempersiapkan diri untuk tampil, dan seperti pelajaran kemarin siswa yang lainnya ikut menilai bagaimana hasil pekerjaan dari temanmu”, kata Bu Guru. Apabila ada yang memberi masukan bisa disampaikan nanti setelah temanmu selesai membacakan di depan kelas, “Paham, anak-anak?: “Paham Bu:, jawab anak-anak dengan serentak.
(f) “Baik, sekarang silakan kita memulai kegiatan membacakan hasil tulisan kedepan” Siapa yang ingin lebih dahulu?” “Saya Bu,” jawab Moh Fahmi Fatchur. Setelah Elsinta, siapa lagi?” Sambil Mengacungkan jari, Maulida menjawab, “Saya Bu!”
(g) Guru mengamati kegiatan yang dilaksanakan oleh siswa sambil memberikan pengarahan apabila ada yang kurang tepat, siswa diminta untuk memberi masukan.
(h) Pada kegiatan menumbuhkan kembali rasa kepercayaan diri siswa, tetapi juga untuk menumbuhkan keberanian siswa dalam berbicara, supaya perasaan takut, malu, ragu-ragu yang dulunya sering menjadi alasan bagi siswa menjadi hilang dan siswa menjadi lebih berani.
(i) Perubahan sudah cukup banyak terjadi pada siklus II ini, siswa sudah mulai dapat membaca pemahaman dengan baik sesuai dengan ketentuan yang ada. Siswa sudah bisa menentukan gagasan utama, kalimat utama dan kalimat penjelas, perbedaan paragraf induktif dan deduktif dengan tepat.
(j) Pada akhir pembelajaran guru memberikan reward kepada siswa berupa pujian dengan kata-kata:”Bagus kamu Fahmi “ kalian sudah bisa membaca pemahaman dengan baik, bisa menemukan gagasan utama, kalimat utama dan kalimat penjelas serta membedakan paragraf induktif dan deduktif dalam bacaan artikel. Siswadengan serentak memberikan applause kepada Fahmi.
(k) Pada akhir pelajaran guru bersama siswa memberikan applause kepada siswa yang memperoleh nilai paling baik. Guru mengakhiri pembelajaran dengan mengingatkan kepada siswa bahwa membaca bukanlah hal yang sulit dan membosankan tetapi diperlukan keinginan untuk mau berlatih. Kemudian diakhiri dengan ucapan salam “Wassalamualaikum Wr. Wb.” Siswa menjawab dengan serentak “Waalaikum salam Wr. Wb.”

c. Observasi dan Interpretasi
Peneliti mengamati proses pembelajaran membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning di kelas XI MAN 2 Madiun tahu ajaran 2011/2012. Peneliti mengambil posisi di ruang kelas bagian belakang agar keberadaannya tidak mengganggu jalannya proses pembelajaran. Kegiatan observasi ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan apakah kekurangan-kekurangan teknik pengajaran pada siklus I. Pada pelaksanaan proses pembelajaran membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning, guru mengajarkan materi dengan tema “Manfaat Tanaman Obat-Obatan.”
Seperti pada pelaksanaan sebelumnya pada petemuan pertama dalam siklus II di ruang kelas XI, guru akan mengajarkan keterampilan membaca pemahaman pada materi paragraf induktif dan deduktif dengan pendekatan quantum learning. Hal ini dilakukan dengan mengoreksi hasil pekerjaan siswa.
Pada pertemuan berikutnya dilanjutkan dengan menggunakan ruang multimedia yang berupa tayangan LCD yang telah dipersiapkan sebelumnya. Guru menampilkan gambar macam-macam jenis tanaman obat-obatan. Selesai melihat tampilan tersebut siswa diminta berkomentar bahkan banyak diantara mereka memiliki tanaman obat-obatan seperti itu di rumah. Setelah itu, siswa siap menerima perintah dari guru untuk mengerjakan tugas seperti pada siklus sebelumnya. Guru menerangkan mekanisme kerja dan menjelaskan materi membaca pemahaman secara garis besar. Guru meminta siswa membaca teks bacaan dengan judul “Tanaman Suruh Berfungsi Ganda” yang dibagikan oleh guru. Hal ini dilakukan karena semua siswa tidak memiliki buku tersebut.
Guru menugasi masing-masing siswa untuk menganalisis bahan bacaan tersebut. Guru memandu siswa untuk menemukan beberapa kalimat utama yang merupakan gagasan utama bacaan tersebut, menemukan perbedaaan paragraf induktif dan deduktif pada bacaan serta membuat ringkasannya. Setelah menugasi mereka untuk berdiskusi, guru menunjuk tiap-tiap siswa tersebut untuk mempresentasikan hasil diskusinya tersebut di depan teman-temannya. Mereka dapat membaca pemahaman secara bergantian dan saling melengkapi isinya. Guru memberikan pujian terhadap siswa yang tampil bagus dan merayakan dengan tepuk tangan dan yel-yel.
Setelah siswa tampil, guru memberikan tugas mengerjakan soal yang sudah disiapkan oleh guru. Tugas ini sebagai postes membaca pemahaman. Setelah semua siswa mengerjakan tes membaca pemahaman, guru dan siswa menyimpulkan terhadap hasil pembelajaran dan guru memberi tahu siswa yang memperoleh nilai terbaik.
Dari kegiatan tersebut terlihat bahwa guru sudah berupaya untuk lebih mengaktifkan siswa melalui pemberian stimulus dan waktu yang memadai untuk memahami bagaimana membaca pemahaman dengan tepat. Hasilnya, lebih banyak siswa aktif merespon secara tepat terhadap stimulus-stimulus dari guru. Selain itu guru sudah tidak terlihat lagi mendominasi kelas.
Pada pertemuan selanjutnya, Rabu 5 Oktober 2011 dilaksanakan 1 jam (1X45menit). Guru mengajak siswa untuk mengamati LCD dengan mengambil gambar macam-macam tanaman obat-obatan dengan diiringi musik instrumental. Siswa diminta untuk mengamati dan mencermati tayangan melalui LCD tersebut dengan seksama. Setelah selesai mengamati siswa banyak yang komentar mengenai gambar tersebut.
Setelah mengamati tampilan tersebut, guru meminta siswa untuk mengungkapkan komentar, pendapat, dan hal-hal yang menarik dari tayangan melalui LCD. Usai mendiskusikan tampilan tersebut, guru menugasi siswa untuk membaca pemahaman.
Guru memotivasi beberapa siswa untuk membacakan hasil analisis membaca pemahaman materi paragraf induktif dan deduktif di depan kelas setelah siswa selesai mengerjakan. Berbeda dengan siklus terdahulu, siswa mulai berani membacakan hasil analisisnya. Guru meminta siswa yang lain untuk mencermati dan memberikan komentar serta masukan.
Usaha pemberian reward, baik berwujud nilai tambahan maupun pujian bagi siswa yang dapat membaca pemahaman serta menganalisis dengan tepat, ternyata terbukti mampu membangkitkan minat siswa untuk mengungkapkan komentar mereka, serta merespon pertanyaan dari guru secara sukarela.
Suasana kelas mulai terlihat hidup ketika siswa mampu melihat guru memberikan reward berupa pujian dan nilai tambah pada siswa yang mampu memberi respon terhadap pertanyaan guru. Selanjutnya, tampak beberapa orang siswa yang mengangkat tangan untuk mengajukan diri menjawab pertanyaan dari guru. Terlihat jelas adanya interaksi dari guru dan siswa. Sedangkan, siswa yang belum mampu menjawab pertanyaan dari guru, terlihat berdiskusi dengan teman sebangkunya tentang jawaban pertanyaan yang diajukan guru.
Berdasarkan pengamatan peneliti, guru mampu menerapkan pendekatan quatum learning dalam kegiatan membaca pemahaman dengan baik. Siswa sangat tertarik dengan gaya mengajar yang dilakukan guru. Hal ini terlihat dengan raut wajah mereka yang sangat antusias melihat tampilan yang diberikan.
Sedangkan dari siswa berdasarkan hasil pengamatan terhadap proses belajar mengajar tersebut dapat dinyatakan kemampuan membaca pemahaman sudah lebih baik dibandingkan siklus sebelumnya, terkait dari segi pemahaman paragraf induktif dan deduktif, kalimat utama dan kalimat penjelas pada bacaan sudah hampir tepat.
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap proses belajar mengajar membaca pemahaman, diperoleh gambaran tentang aktivitas siswa selama kegiatan belajar berlangsung, yakni sebagai berikut.
1) Siswa yang aktif selama pemberian apersepsi sebesar 20 (64,52%) siswa, sedangkan 11 (35,48%) lainnya tampak berbicara dengan temannya, melamun, menelungkupkan kepalanya di atas meja, dan memainkan benda-benda tertentu (pulpen, penggaris, buku, dan sebagainya).. Dari hasil wawancara dengan siswa yang kurang aktif selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, diperoleh penjelasan bahwa diantara mereka ada yang tidak berminat dengan kegiatan membaca, mengantuk, dan malas.
2) Pelaksanaan siklus kedua siswa yang antusias menjawab soal-soal ( lisan maupun tulisan) sebanyak 19 (61,29%) siswa, sedangkan 12 (38,71%) lainya diam saja saat diberi pertanyaan lisan. Hal ini merupakan bentuk usaha guru memberikan reward kepada siswa, misalnya berupa pujian seperti: bagus sekali, baik sekali, tepat sekali, bisa juga berupa nilai tambahan kepada siswa, ataupun perlengkapan alat tulis sehingga terlihat antusias.
3) Siswa yang mengerjakan dengan bagus dan mencapai ketuntasan mencapai 20(64,52%) siswa, sedangkan yang lain belum bekerja dengan baik sehingga belum mencapai ketuntasan mencapai 11 (35,48%) siswa.
Hasil keterampilan membaca pemahaman pada siklus II disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut.
Tabel 4.2. Nilai Keterampilan Membaca Pemahaman Siklus II
No. Nilai Membaca Pemahaman Frekuensi Frekuensi (%) Keterangan
1. 65-69 4 12,90% Kurang sekali
2. 70-74 7 22,58% Kurang
3. 75-79 11 35,48% Cukup baik
4. 80-84 9 29,09% Baik
5. 85-89 0 0 Sangat Baik
Jumlah 31 100%
.


Gambar 4.2. Grafik Nilai Keterampilan Membaca Pemahaman Siklus II
Siswa kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun
Hasil tes yang disajikan pada tabel dan grafik di atas menunjukkan yang telah mencapai batas Kriteria Ketuntatasan Minimal (KKM) yang ditetapkan 75 di dapat 20 siswa (64,52%) siswa, sedangkan siswa yang lain belum mencapai batas ketuntasan sebanyak 11 (35,48%) siswa dan masih memerlukan perbaikan. Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa nilai ketuntatasan yang dicapai belum memenuhi indikator kinerja.
Kelemahan yang dimiliki oleh guru pada tindakan pertama sudah mampu teratasi dengan baik pada tindakan kedua. Kemudian, pada pelaksanaan tindakan kedua, guru sudah mampu mengelola kelas dengan baik sehingga relatif tidak ditemukan kelemahan guru pada pelaksanaannya.
Selanjutnya, kelemahan dari sisi siswa dapat diidentifikasi beberapa kelemahan yaitu:
1) Kemampuan dan kecepatan membaca pemahaman siswa masih rendah;
2) Siswa yang belum mencapai batas ketuntasan sebesar 35,48%;
3) Masih banyak siswa presentasi dengan suara pelan sehingga siswa bagian belakang tidak bisa mendengarnya.

d. Analisis dan Refleksi Tindakan
Proses pembelajaran membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning siklus kedua dilaksanakan di ruang kelas (pertemuan pertama) dan di ruang multimedia ( pertemuan kedua) MAN 2 Madiun yang dilaksanakan pada Senin, 3 Oktober 2011 dan Rabu 5 Oktober 2011 (pertemuan kedua) berjalan dengan lancar. Siswa merespon dengan semangat dan antusias.
Berdasarkan hasil observasi tersebut, dilakukan analisis dan refleksi sebagai berikut.
1) Guru sudah mampu menerapkan pendekatan quantum learning dalam pembelajaran membaca pemahaman. Terlihat dari penerapan media alternatif dan topik yang berbeda yang dapat digunakan untuk menunjang pengajaran membaca pemahaman paragraf induktif dan deduktif kepada siswa terutama dalam menerapkan pendekatan quantum learning dengan metode TANDUR.
2) Posisi guru tidak lagi berada di depan kelas dalam memberikan penjelasan. Guru sudah mau berotasi untuk memonitor siswa dalam pelaksanaan pembelajaran. Jadi siswa yang duduk di posisi belakang bisa terkontrol dan aktif dalam mengikuti pembelajaran.
3) Guru Memberi penjelasan ulang berkenaan paragraf induktif dan deduktif serta kalimat utama dan kalimat penjelas. Mereka juga diberi motivasi untuk tetap rajin berlatih membaca pemahaman dan kecepatan membacanya. Selain itu, guru menjelaskan perlunya pemahaman dalam membaca dan konsentrasi untuk menemukan gagasan utamanya dan mengidentifikasi paragraf induktif dan deduktif . Mereka dapat belajar bersama.
4) Guru menayangkan gambar/video pada tindakan kedua sebelum mereka tampil mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas dan memberi feedback terhadap isinya. Selain itu, guru juga selalu memotivasi siswa untuk bersuara keras dan memberitahu siswa bahwa suara mereka direkam. Dengan demikian, diharapkan siswa akan lebih termotivasi untuk mengeraskan suaranya.
5) Pelaksanaan siklus kedua siswa yang antusias menjawab soal-soal ( lisan maupun tulisan) sebanyak 19 (61,29%) siswa, sedangkan 12 (38,71%) lainya diam saja saat diberi pertanyaan lisan. Hal ini merupakan bentuk usaha guru memberikan reward kepada siswa, misalnya berupa pujian seperti: bagus sekali, baik sekali, tepat sekali, bisa juga berupa nilai tambahan kepada siswa, ataupun perlengkapan alat tulis sehingga terlihat antusias.
6) Tindakan II masih mempunyai beberapa kelemahan terutama dari segi pendekatan quantum learning dengan menerapkan multimedia.
(a) Guru masih kesulitan dalam menerapkan metode TANDUR dalam pendekatan quantum learning.
(b) Pada saat disampaikan tayangan gambar/objek yang harus dilihat siswa, banyak yang berbicara sendiri karena diantara mereka ada yang mempunyai benda sesuai dengan gambar yang ditayangkan.
(c) Berdasarkan hasil analisis dan refleksi di atas, tindakan pada siklus II dikatakan berhasil akan tetapi belum mencapai hasil yang maksimal secara keseluruhan. Peningkatan memang terjadi pada beberapa indikator yang telah ditentukan pada survei awal. Nilai rata-rata sudah mencapai Kriteria Ketuntatasan Minimal (KKM=75). Dibandingkan dengan nilai siklus I membaca pemahaman siklus II, nilai rata-rata kelas meningkat sebesar 0,8 dari 74,5 menjadi 75,3. Nilai tertinggi yang diraih siswa adalah 83 . Adapun nilai terendah diperoleh yang diperoleh siswa adalah 66.
(d) Respon siswa terhadap pembelajaran cukup memuaskan. Kekurangan yang terjadi pada siklus sebelumnya telah dapat diatasi.

3. Deskripsi Siklus III
a. Perencanaan Tindakan III
Bertolak dari hasil refleksi tindakan siklus II, peneliti bersama guru yang bersangkutan kembali mengadakan diskusi untuk mengatasi kekurangan yang ada pada siklus sebelumnya untuk diterapkan pada siklus III. Pada pelaksanaan siklus II pembelajaran dengan pendekatan quantum learning sudah mulai menampakkan keberhasilannnya dalam memberikan solusi dalam permasalahan kesulitan membaca pemahaman pada siswa kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun tahun ajaran 2011-2012.
Pada hari Sabtu, 8 Oktober 2011 di ruang guru, peneliti dan guru kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun tahun ajaran 2011-2012 mengadakan diskusi. Dalam kesempatan kali ini, peneliti perlu menyampaikan analisis hasil observasi terhadap pembelajaran membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning yang dilakukan pada sikluas II. Peneliti menyampaikan segala kelebihan dan kelemahan selama proses pembelajaran membaca pemahaman pada siklus II. Peneliti dan guru akhirnya menyepakati bahwa untuk siklus selanjutnya guru akan menerapkan teknik self correction sebagai upaya perbaikan hasil pekerjaan siswa. Peneliti dan guru juga menerapkan jadwal penelitian selanjutnya yaitu Senin, 10 Oktober 2011 dan Rabu, 12 Oktober 2011.
Tahap perencanaan tindakan pada siklus III meliputi kegiatan sebagai berikut.
1) Peneliti bersama guru merancang skenario pembelajaran membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning dan menyiapkan tes penilaian keterampilan pemahaman, yakni dengan langkah-langkah sebagai berikut.
a) Guru memberikan apersepsi dengan menggali pengalaman siswa sebagai upaya menyegarkan kembali ingatan siswa terhadap pembelajaran membaca pemahaman pada pertemuan yang lalu.
b) Guru membagikan hasil pekerjaan siswa pada siklus I dan Siklus II, pekerjaan siswa pada siklus I telah diteliti oleh guru dan peneliti dengan cara memberikan tanda koreksi pada hal-hal yang salah, sedangkan pekerjaan siswa dalam siklus II telah dikoreksi guru dan peneliti tetapi tidak diberi tanda koreksi secara detail.
c) Guru menjelaskan tentang perbedaan paragraf induktif dan deduktif dalam wacana, kalimat utama dan kalimat penjelas, ciri-ciri paragraf induktif dan deduktif berdasarkan hasil pekerjaan siswa.
d) Siswa menganalisis pekerjaan mereka dengan membandingkan hasil pekerjaan mereka pada siklus I dan siklus II.
e) Siswa memperbaiki hasil pekerjaan paragraf induktif dan deduktif mereka.
f) Guru meminta siswa mengumpulkan pekerjaan
g) Guru mengadakan refleksi pembelajaran dan menutup pelajaran dengan tepuk tangan dan siswa membacakan yel-yel.
Tahap perencanaan tindakan III pertemuan kedua (Rabu, 12 Oktober 2011) meliputi kegiatan sebagai berikut.
a) Guru mengadakan apersepsi untuk menggali ingatan siswa mengenai pembelajaran siswa lalu terkait pendekatan quantum learning.
b) Guru menampilkan gambar “ Pentingnya Kesehatan” melalui LCD diiringi musik instrumental.
c) Siswa mengamati gambar melalui tayangan LCD.
d) Guru menyuruh siswa untuk menjawab beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan kejadian yang mereka amati.
e) Guru menyuruh siswa membaca bacaan yang berkaitan dengan tema tayangan gambar yang sudah disediakan.
f) Guru menyuruh beberapa siswa untuk membacakan hasil pekerjaan di depan kelas.
g) Guru mengadakan refleksi pembelajaran hari ini.
2) Guru menyusun rencana pembelajaran untuk materi membaca pemahaman paragarf induktif dan deduktif.
3) Peneliti dan guru mempersiapkan media pembelajaran LCD dengan mengambil tema “Kebiasaan Hidup Menentukan Tingkat Kesehatan.” Pemilihan tema ini untuk menumbuhkan rasa kepedulian terhadap diri dan lingkungan.
4) Peneliti dan guru menyusun instrumen penelitian, yakni berupa tes dan nontes. Instrumen tes ini dinilai dari hasil pekerjaan siswa dalam membaca pemahaman dan beberapa soal pendukung. Sedangkan instrumen nontes dinilai berdasarkan pedoman observasi yang dilakukan peneliti denga mengamati keaktifan siswa selama pembelajaran berlangsung.
Dalam pembuatan Rencana Persiapan Pengajaran penilaian proses untuk siswa berdasarkan lembar penilaian proses yang disediakan. Dari kegiatan diskusi disepakati pula bahwa tindakan dalam siklus III dilaksanakan dalam dua kali petemuan yaitu pada hari Senin, 10 Oktober 2011 dan Rabu, 12 Oktober 2011.



b. Pelaksanaan Tindakan
Pertemuan pertama pada tindakan siklus III dilaksanakan pada hari Senin , 10 Oktober 2011 (pukul 07.45-09.15 WIB) selama dua jam pelajaran (2X45 menit) di ruang multimedia MAN 2 Madiun. Dalam pelaksanaan tindakan siklus III ini guru mengaplikasikan solusi yang telah disepakati dengan peneliti untuk mengatasi kekurangan pada proses pembelajaran membaca pemahaman pada siklus II, sedangkan peneliti melakukan observasi terhadap proses pembelajaran.
Materi pada pelaksanaan siklus III ini adalah membaca bacaan yang telah disiapkan dengan tema “Kebiasaan Hidup Menentukan Tingkat Kesehatan”, sesuai dengan Kompetensi Dasar yang ingin dicapai.
Urutan pelaksanaan tindakan tersebut adalah sebagai berikut.
(a) Pada awal pembelajaran guru memulai dengan salam “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh” Siswa menjawab dengan serempak “Wa’alaikum Salam Warohmatullahi wabarokatuh”. Sebelum kita memulai pelajaran, hari ini siapa yang tidak masuk?” Siswa menjawab “Nihil Bu”
(b) Selanjutnya guru memulai pembelajaran dengan mengajak bernyanyi bersama-sama lagu “Anak Sehat” Siswa dengan penuh riang menyanyikan lagu tersebut. Dilanjutkan dengan kegiatan tanya jawab atau apersepsi, guru menanyakan tentang materi pembelajaran menyimak puisi pada pertemuan sebelumnya. Berikut petikan tanya jawab yang dilakukan oleh guru dan siswa. Guru bertanya, “Anak-anak, masih ingat paragraf induktif dan induktif, yang pada petemuan lalu sudah kita pelajari. Kemudian siswa diminta untuk berpendapat, dari sini guru sudah dapat mengetahui kemampuan awal siswa tentang paragraf induktif dan deduktif. Hampir semua siswa serempak menjawab “masih, Bu.” Kemudian guru menyuruh siswa menyebutkannya, Widodo Wicaksono menjawab, “Saya masih ingat Bu”Kemudian Widodo Wicaksono menjawab dengan lancar mengenai ciri-ciri paragraf induktif dan deduktif.
(c) Kemudian guru menjelaskan tentang rencana untuk pertemuan hari ini.”Hari ini Ibu akan membagi hasil pekerjaan kalian padapertemuan kemarin, bahwa hasil pekerjaan nanti akan kamu koreksi lagi hal-hal yang salah.” Bagaimana sudah siap apa belum?” jawab siswa dengan serentak, “Siap , Bu!”
(d) Siswa melaksanakan tugas guru untuk mengoreksi hasil pekerjaan pada pertemuan terdahulu, dengan cara memberi tanda koreksi pada-hal yang salah terutama dalam menentukan gagasan utama pada tiap-tiap paragraf.
(e) Setelah siswa selesai mongoreksi hasil pekerjaannya,guru menunjuk beberapa siswa untuk membacakan hasil pekerjaan di depan kelas. “Siapa yang berani membacakan hasil pekerjaan kalian di depan kelas?” Beberapa anak tunjuk jari sambil mengatakan. “Saya Bu” Sahut Yuvita. “Ya silakan, kamu ke depan!” Jawab Bu Guru.
(f) Guru mengajak siswa untuk menyanyikan lagu “Aku Anak Sehat” siswa menyanyikan lagu dengan penuh riang gembira.
(g) Guru menyuruh siswa lain untuk memberikan tanggapan hasil pekerjaan yang telah dibacakan temannya. “Siapa yang akan memberi masukan dari hasil pekerjaan temanmu?”. “Saya Bu” Sahut Binti Nur. “Ya, silahkan” jawab Bu Guru.
(h) Guru memberikan simpulan dari hasil pembelajaran hari itu, diantaranya kata-kata guru sebagai berikut. “Anak-anak hasil pekerjaan kalian sudah bagus, tetapi menentukan paraf induktifdan deduktif ,gagasan utama dalam tiap-tiap paragraf kurang tepat, maka perlu ditingkatkan belajarnya!” Untuk itu kalian kalian harus belajar di rumah ya!” siswa menjawab dengan serentak ,”Ya,Bu.!”
(i) Guru memberi penjelasan kepada siswa mengenai hal-hal yang masih belum dipahami oleh siswa, dari kegiatan itu sedikit banyak siswa sudah tergerak untuk mau bertanya, tanpa merasa malu lagi atau takut salah.
(j) Pada akhir pembelajaran guru bersama siswa memberikan applause kepada siswa yang mampu berpendapat dengan baik dan benar serta hasil pekerjaannnya baik, melalui yel-yel kelas secara serentak.
(k) Guru mengakhiri pembelajaran dengan mengucapkan terima kasih dan salam. Terima kasih atas perhatian kalian dan sampai bertemu pada pertemuan berikutnya, Guru mengakhiri pembelajaran dengan mengingatkan kepada siswa bahwa membaca bukanlah pemahaman bukanlah hal yang sulit dan membosankan tetapi diperlukan keinginan untuk berlatih. “Wassalamu’alaikum Wr.Wb”. Siswa menjawab dengan serentak “Wa’alaikum salam Wr.Wb”.
Pada pertemuan kedua siklus III dilaksanakan pada hari Rabu,12 Oktober 2011 selama 1 jam pelajaran (1X45 menit). Seperti tindakan-tindakan sebelumnya di ruang multimedia telah dipersiapkan instrumen-instrumen yang akan digunakan sebagai pelengkap pembelajaran dalam pendekatan quantum learning sebagai bentuk upaya mengajak anak untuk dapat dengan tepat memahami isi sebuah bacaan yang akan dilaksanakan pada siswa kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun tahun ajaran 2011/2012.
Dalam tahap ini guru bertindak sebagai pemimpin jalannya kegiatan pembelajaran di kelas, sedangkan peneliti hanya bertindak sebagai partisipan pasif.
Adapun urutan pada pelaksanaan tindakan siklus III pada pertemuan kedua adalah sebagai berikut.
(a) Pada awal pembelajaran guru memberi salam kepada siswa. Petikan kata-kata guru sebagai berikut, “Assalamualaikum Wr. Wb. Siswa serentak menjawab Waalaikum salam. Guru menanyakan keadaan siswa pada hari itu. Petikan Guru sebagai berikut, Bagaimana keadaan kalian hari ini sehat dan baik –baik saja? Siswa serentak menjawab “Alhamdulillah sehat dan baik-baik saja, Bu. Bu, kita melanjutkan pelajaran membaca pemahaman lagi, Bu?” Tanya siswa spontan, “Ya” jawab guru. Dengan riang siswa menjawab yes yes yes. Guru membuka pelajaran dengan memotivasi siswa sambil membawa gambar- gambar yang akan diamati siswa. Kemudian mengajak siswa untuk menyanyikan lagu sesuai dengan gambar tersebut. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan minat belajar siswa serta belajar untuk dapat mencatat hal- hal yang penting berkaitan dengan gambar tersebut.
(b) Mari anak-anak, kalian masih ingat lagu yang ada kaitannnya dengan gambar tersebut?” Siswa menjawab dengan serentak, “Masih Bu!” Lagu apa, coba sebutkan judulnya “Aku Anak Sehat” Jawab salah seorang siswa. “Ya, mari kita bernyanyi bersama-sama.” Siswa dengan penuh riang gembira menyanyikan lagu “Indonesia Tanah Airku”.
(c) Guru memulai pelajaran dengan kegiatan tanya jawab atau apersepsi, guru menanyakan tentang materi pelajaran pada pertemuan kemarin. Petikan pertanyaan guru, Siapa yang bisa menyebutkan hal hal yang menarik dari gambar yang ibu tunjukkan tersebut? Ada dua orang siswa yang mengangkat tangan, siswa itu bernama Eka Erbhaena dan Aulia Mu’tashim. Eka menjawab, itu gambar orang berolah raga di lapangan, Bu. Sedangkan Aulia menjawab itu gambar orang sakit di rumah sakit, Bu.”
(d) Selanjutnya guru bertanya kepada siswa. Petikan pertanyaan guru “Bagaimana tugas kalian tentang membaca pemahaman bacaan artikel pertemuan kemarin, apakah sudah selesai? Siswa menjawab dengan serentak belum?” Petikan kata-kata siswa”Belum,Bu!” “ baiklah, pertemuan hari ini nanti akan kita gunakan untuk melanjutkan memabaca pemahaman.” Guru menyuruh siswa untuk menyebutkan kembali ciri-ciri paragraf, kalimat utama dan kalimat penjelas, gagasan utama dalam paragraf, serta perbedaan paragraf induktif dan deduktif dari bacaan artikel .Siswa melaksanakan tugas guru dengan penuh antusias.
(e) Setelah selesai, menyuruh siswa untuk membacakan hasil pekerjaan di depan kelas “Nah, silakan yang belum tampil segera mempersiapkan diri untuk tampil, dan seperti pelajaran kemarin siswa yang lainnya ikut menilai bagaimana hasil pekerjaan dari temanmu”, kata Bu Guru. Apabila ada yang memberi masukan bisa disampaikan nanti setelah temanmu selesai membacakan di depan kelas, “Paham, anak-anak?: “Paham Bu “ jawab anak-anak dengan serentak.
(f) “Baik, sekarang silakan kita memulai kegiatan membacakan hasil pekerjaan kalian ke depan” Siapa yang ingin lebih dahulu?” “Saya Bu,” jawab Moh Rizal. Setelah Rizal, siapa lagi?” Sambil Mengacungkan jari, Maulida menjawab, “Saya Bu!”
(g) Guru mengamati kegiatan yang dilaksanakan oleh siswa sambil memberikan pengarahan apabila ada yang kurang tepat, siswa diminta untuk memberi masukan.
(h) Pada kegiatan menumbuhkan kembali rasa kepercayaan diri siswa, tetapi juga untuk menumbuhkan keberanian siswa dalam berbicara, supaya perasaan takut, malu, ragu-ragu yang dulunya sering menjadi alasan bagi siswa menjadi hilang dan siswa menjadi lebih berani.
(i) Perubahan sudah cukup banyak terjadi pada siklus III ini, siswa sudah mulai dapat membaca pemahaman dengan baik sesuai dengan ketentuan yang ada. Siswa sudah bisa menentukan gagasan utama, kalimat utama dan kalimat penjelas, perbedaan paragraf induktif dan deduktif dengan tepat.
(j) Pada akhir pembelajaran guru memberikan reward kepada siswa berupa pujian dengan kata-kata:”Bagus kamu Mohamaad Rizal “ Kalian sudah bisa membaca pemahaman dengan baik, bisa menemukan gagasan utama, kalimat utama dan kalimat penjelas serta membedakan paragraf induktif dan deduktif dalam bacaan artikel.” Siswa dengan serentak memberikan applause kepada Rizal.
(k) Guru mengadakan refleksi pembelajaran hari ini. Selanjutnya guru memberikan reward berupa buku dan bupen yang memperoleh nilai tertinggi di atas 80 yangtelah menyelesaikan tugas siklus II dengan baik. Siswa terlihat antusias menantikan penerima reward kali ini. Di sela-sela acara pemberian reward tersebut guru menyisipkan bahwa membaca bukanlah hal yang sulit dan membosankan tetapi diperlukan keinginan untuk mau berlatih agar sukses nanti kedepannnya dan dapat berprestasi serta mendapat penghargaan dari instansi lain.
(l) Pada akhir pelajaran guru bersama siswa memberikan applause kepada siswa yang memperoleh nilai paling baik. Guru mengakhiri pembelajaran dengan ucapan salam “Wassalamualaikum Wr. Wb.” Siswa menjawab dengan serentak “Waalaikum salam Wr. Wb.”
Guru tadi mengawali pembelajaran hari ini dengan menyapa siswa dan mengadakan presensi kehadiran siswa. Selanjutnya guru memberikan reward berupa alat tulis yang memperoleh nilai tertinggi 85 kepada 3 orang siswa yang telah menyelesaikan tugas siklus III dengan baik. Siswa terlihat antusias menantikan penerimaan reward kali ini. Di sela-sela acara pemberian reward tersebut guru menyisipkan pesan agar siswa dapat membaca pemahaman dengan baik dan tepat serta cepat agar mendapatkan penghargaan dari guru maupun penghargaan instansi lain. Kemudian guru mengakhiri pembelajaran dengan mengucapkan terima kasih dan salam dan sampai bertemua untuk pertemuan berikutnya.


c. Observasi dan Interpretasi
Pembelajaran berlangsung selama tiga jam pelajaran (dua kali pertemuan). Peneliti mengamati proses pembelajaran membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning di kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun. Pada pelaksanaan proses pembelajaran membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning, berjalan dengan baik, terbukti guru sudah terampil dalam memimpin jalannya proses belajar mengajar secara jelas dan terencana. Siswa terlihat tertib dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Dari kegiatan observasi tersebut, diperoleh deskripsi mengenai jalanya kegiatan pembelajaran membaca pemahaman sebagai berikut.
Pada awal pembelajaran, guru melakukan apersepsi dengan melakukan tanya jawab kepada siswa seputar materi keterampilan membaca pemahaman paragraf induktif dan deduktif. Selanjutkan di ruang multimedia tersebut guru menayangkan gambar-gambar yang bertema tentang kesehatan. Setelah menampilkan gambar-gambar tersebut, siswa diminta berkomentar mengenai gambar itu dan mengungkapkan ide mereka dengan bahasa sendiri dengan tepat dan benar. Tujuannya untuk menyegarkan kembali ingatan siswa terhadap materi yang akan dibahas pada hari itu. Kemudian, guru mengulangi materi sebelumnya dan menjelaskan indikator pembelajaran yang akan dicapai dan memberi motivasi kepada siswa agar rajin belajar. Setelah itu siswa diminta guru untuk mengingat kembali materi-materi membaca paragraf induktif dan deduktif secara garis besar.
Guru memberi tugas kepada siswa membuka teks bacaan dengan judul “Pola Hidup Menentukan Tingkat Kesehatan,” yang ada di buku paket. Guru menugasi masing-masing siswa untuk menganalisis bahan bacaan tersebut. Guru memandu siswa untuk menemukan beberapa paragraf induktif dan deduktif, kalimat utama dan kalimat penjelas yang ada dalam bacaan tersebut dan membuat ringkasannnya dengan pendekatan quantum learning. Selain itu, guru juga memandu siswa untuk menghitung kecepatan membacanya. Setelah menugasi mereka untuk berdiskusi, guru menunjuk beberapa siswa tersebut untuk mempresentasikan hasil diskusinya tersebut di depan teman-temannya.
Setelah siswa tampil, guru memberikan tugas mengerjakan soal postes yang sudah disiapkan oleh guru. Setelah semua siswa mengerjakan tes membaca pemahaman, guru dan siswa menyimpulkan terhadap hasil pembelajaran dan guru mengumumkan tiga siswa yang memperoleh nilai terbaik.
Dari deskripsi proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru di atas, dapat disimpulkan bahwa guru telah melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disusun. Dari kegiatan tersebut terlihat bahwa guru sudah berupaya untuk lebih mengaktifkan siswa melalui pemberian stimulus dan waktu yang memadai untuk mencoba memahami bagaimana membaca pemahaman dengan tepat dan benar. Hasilnya banyak siswa yang aktif merespon secara tepat terhadap stimulus-stimulus dari guru. Selain itu guru sudah tidak terlihat lagi mendominasi kelas.
Pada pertemuan selanjutnya, Rabu 12 Oktober 2011 selama 1 jam pelajaran (1X45 menit). Guru mengajak siswa untuk mengamati tampilan LCD dengan gambar-gambar baru dengan diiringi lagu. Siswa diminta untuk mengamati dan mencermati tayangan melalui LCD tersebut dengan seksama. Setelah selesai mengamati siswa banyak yang komentar mengenai gambar tersebut.
Setelah mengamati tampilan tersebut, guru meminta siswa untuk mengungkapkan komentar, pendapat, dan hal-hal yang menarik dari tayangan melalui LCD. Setelah mendiskusikan tampilan tersebut, guru menugasi siswa untuk membaca bacaan yang sudah disediakan guru, sesuai tema pembelajaran pada hari itu.
Guru memotivasi beberapa siswa untuk membacakan hasil pekerjaaannya di depan kelas setelah siswa selesai mengerjakan. Berbeda dengan siklus terdahulu, siswa sudah mulai berani membacakan hasil pekerjaaanya. Guru meminta siswa yang lain untuk mencermati dan memberikan komentar serta masukan.
Usaha pemberian reward, baik berwujud nilai tambahan maupun pujian bagi siswa yang dapat membaca pemahaman dengan baik, ternyata terbukti mampu membangkitkan minat siswa untuk mengungkapkan komentar mereka, serta merespon pertanyaan dari guru secara sukarela.
Suasana kelas mulai terlihat hidup ketika siswa melihat guru memberikan reward berupa pujian dan nilai tambah pada siswa yang mampu memberi respon terhadap pertanyaan guru. Selanjutnya, tampak beberapa orang siswa yang mengangkat tangan untuk mengajukan diri menjawab pertanyaan dari guru. Terlihat jelas adanya interaksi dari guru dan siswa. Sedangkan, siswa yang belum mampu menjawab pertanyaan dari guru, terlihat berdiskusi dengan teman sebangkunya tentang jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh guru.
Berdasarkan pengamatan peneliti, guru mampu menerapkan pendekatan quantum learning dalam kegiatan membaca pemahaman dengan baik. Siswa sangat tertarik dengan gaya mengajar yang dilakukan guru. Hal itu terlihat dengan raut wajah mereka yang sangat antusias melihat tampilan yang diberikan
Sedangkan dari sisi siswa berdasarkan hasil pengamatan terhadap proses belajar mengajar tersebut dapat dinyatakan keterampilan membaca pemahaman sudah lebih baik dibandingkan siklus sebelumnya.
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap proses belajar mengajar membaca pemahaman, diperoleh gambaran tentang aktivitas siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, yaitu sebagai berikut.
1) Siswa yang aktif selama pemberian apersepsi dan proses pembelajaran sebesar 23 (74,19%,) siswa sedangkan 8 (25,81%) siswa lainya tampak berbicara dengan temannya, melamun ,dan menelungkupkan kepalanya di atas meja. Dari hasil wawancara dengan siswa yang kurang aktif selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, diperoleh penjelasan bahwa di antara mereka ada yang tidak berminat dengan kegiatan membaca, mengantuk, dan malas.
2) Siswa yang aktif selama kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung sebanyak 22 ( 70,96%) siswa, sedangkan 9 (29,04%) siswa yang lainnya kurang memperhatikan penjelasan guru.
3) Siswa yang tuntas dan antusias menjawab soal-soal (lisan maupun tulis sebanyak 26 (83,87,%) siswa, sedangkan 5 ( 16,13%) siswa lainya diam saja 9
saat diberi pertanyaan lisan maupun tulis dan tidak sungguh-sungguh saat diminta mengerjakan soal postes.
Adapun hasil tes keterampilan membaca pemahaman sebagai berikut.
Tabel 4.3. Hasil Keterampilan Membaca Pemahaman Siklus III
No. Nilai Membaca Pemahaman Frekuensi Frekuensi (%) Keterangan
1. 65-69 0 0 Kurang Sekali
2. 70-74 5 16,13% Kurang
3. 75-79 8 25,81% Cukup baik
4. 80-84 14 45,16% Baik
5. 85-89 0 12,90% Sangat Baik
Jumlah 31 100%
Dari tabel di atas dapat disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut.

Gambar 4.3. Grafik Nilai Keterampilan Membaca Pemahaman Siklus III
Siswa kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun
Hasil tes yang disajikan pada tabel atau grafik di atas menunjukkan siswa yang sudah mencapai batas Kriteria Ketuntatasan Minimal (KKM) yang ditetapkan 75 di dapat 26 siswa (83,87%) sudah mampu membaca pemahaman dengan baik. Sedangkan 5 siswa (16,13%) belum mencapai batas ketuntasan.
d. Analisis dan Refleksi Tindakan
Proses pembelajaran membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning di kelas XI MAN 2 Madiun tahun pelajaran 2011/2012 pada siklus III yang dilaksanakan selama dua kali pertemuan, yakni pada Senin 10 Oktober 2011 dan Rabu, 12 Oktober 2011 berjalan dengan lancar. Siswa merespons dengan semangat dan penuh perhatian. Guru berhasil membangkitkan semangat siswa untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan tertib.
Kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I dan siklus II telah dapat diatasi. Siswa yang pada awalnya kurang mampu memahami bacaan dengan baik dan kurang antusias dalam KBM, akhirnya terampil membaca pemahaman . Secara keseluruhan, proses belajar mengajar berjalan mengajar dengan lancar. Peningkatan indikator-indikator ini dapat dilihat dari nilai siswa pada lampiran yang dilakukan pada siklus I, siklus II, dan siklus III.
Pelaksanaan pembelajaran keterampilan membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning, ternyata mampu meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa. Terbukti pendekatan quantum learning dapat memancarkan cahaya positif yang menggerakkan daya kreatif dan sangat membantu untuk meningkatkan keterampilan membacanya.
C. Pembahasan Hasil Penelitian
1. Peningkatan Kualitas hasil Pembelajaran Keterampilan Membaca Pemahaman dengan Penerapan Pendekatan Quantum Learning.
Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan padasiklus I, II, dan III dapat dinyatakan terjadi peningkatan kualitas pembelajaran keterampilan membaca pemahaman dengan menggunakan quantum learning dari siklus I ke siklus berikutnya. Sebelum melaksanakan siklus I, peneliti melakukan survei awal untuk mengetahui kondisi yang ada di lapangan. Dari kegiatan survei ini, peneliti menemukan bahwa kualitas proses dan hasil pembelajaran membaca pemahaman di kelas XI IPS2 MAN 2 Madiun tahun pelajaran 2011/2012 masih tergolong rendah serta guru masih mengunakan metode ceramah dalam pembelajaran. Kemudian, peneliti berkolaborasi dengan guru kelas XI IPS 2 untuk mengatasi masalah tersebut dengan menerapkan model pembelajaran pendekatan quantum learning dalam proses pembelajaran membaca pemahaman.
Peneliti dan guru kelas XI IPS 2 menyusun rencana guna melaksanakan siklus I. Siklus pertama ini merupakan tindakan awal untuk memperbaiki pembelajaran membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning. Dalam siklus ini guru menerapkan pendekatan quantum learning dengan metode TANDUR dan menggunakan media gambar sebagai media. Berdasrkan siklus pertama ini, dapat dideskripsikan hasil pembelajaran keterampilan membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning masih rendah. Dari deskripsi tersebut ternyata masih terdapat beberapa kelemahan atau kekurangan dalam pelaksanaannya. Siklus II dilaksanakan untuk mengatasi kelemahan atau kekurangan yang ada pada siklus I.
Siklus II merupakan siklus untuk memberikan solusi yang dilaksanakan untuk mengatasi kekurangan atau kelemahan yang terjadi selama proses pembelajaran keterampilan membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning dengan metode TANDUR pada siklus I. Berdasarkan pelaksanaan siklus II dapat dilihat peningkatan proses dan hasil jika dibandingkan siklus I. Namun, pada siklus II masih terdapat sedikit kekurangan atau kelemahan. Kemudian, kelemahan pada siklus II ini diatasi dengan melaksanakan pembelajaran keterampilan membaca pemahaman yang menerapkan pendekatan quantum learning metode TANDUR pada siklus III.
Siklus III untuk mengatasi kelemahan atau kekurangan yang terjadi pada siklus II. Selain itu siklus III merupakan siklus terakhir dalam tindakan penelitian ini. Dalam siklus ini guru dan peneliti berusaha memperkecil segala kelemahan yang terjadi selama pembelajaran keterampilan membaca pemahaman berlangsung dengan mengenalkan teknik self correction. Siklus III dilaksanakan dengan menggunakan penerapan pendekatan quantum learning dengan metode TANDUR yang menguatkan siklus I dan siklus II bahwa pendekatan quantum learning dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran membaca pemahaman siswa kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun tahun pelajaran 2011/2012.
Berdasarkan tindakan-tindakan tersebut, guru berhasil melaksanakan pembelajaran membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning yang mampu mengefektifkan waktu pembelajaran keterampilan membaca pemahaman sehingga kemampuan membaca pemahaman siswa dapat terkembangkan dengan optimal dan meningkatnya kualitas proses dan hasil pembelajaran membaca pemahaman. Selain itu, penelitian ini juga bermanfaat untuk meningkatkan kinerja guru karena dengan pendekatan quantum learning dapat mengefektifkan waktu pembelajaran keterampilan membaca pemahaman dan menarik memancarkan energi positif siswa di kelas. Pendekatan quantum learning juga sebagai sarana bagi guru untuk memotivasi siswa agar lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran keterampilan membaca pemahaman. Keberhasilan pendekatan quantum learning dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran membaca pemahaman dapat dilihat dari indikator-indikator sebagai berikut.
a. Siswa terlihat antusias mengikuti pelajaran keterampilan membaca pemahaman
Sebelum tindakan penelitian ini dilaksanakan, siswa terlihat kurang antusias mengikuti pembelajaran keterampilan membaca pemahaman. Hal tersebut disebabkan siswa tidak tertarik dengan cara mengajar yang digunakan oleh guru. Cara mengajar yang biasa digunakan oleh guru dalam mengajarkan pelajaran membaca adalah dengan cara ceramah dan dengan menyuruh siswa mengerjakan tugas membaca bacaan begitu saja. Kelemahan dari pendekatan konvensional ini adalah munculnya suatu kebosanan dan keengganan pada siswa, sehingga siswa tidak tertarik untuk mengikuti pelajaran membaca pemahaman, dan rendahnya minat siswa untuk mengikuti pembelajaran membaca. Hal itu terlihat dari suasana kelas pada saat kegiatan belajar mengajar membaca pemahaman yang sedang berlangsung, siswa tidak begitu aktif menanggapi stimulus dari guru, ada yang tidak menaruh perhatian sepenuhnya pada proses pembelajaran, dan terlihat ada beberapa siswa yang tidak memperhatikan pelajaran, diam dan tidak merespon serta berbicara dengan teman.
Setelah dilakukan tindakan, yaitu menerapkan pendekatan quantum learning dengan metode TANDUR dalam pembelajaran, siswa tertarik untuk mengikuti pembelajaran membaca. Siswa terlihat memperhatikan penjelasan dari guru, serta banyak yang bertanya terhadap hal yang belum mereka pahami dalam pembelajaran. Selain itu, siswa mulai mau aktif ambil bagian dalam proses pembelajaran yang sedang terjadi, seperti mau menyanyi bersama dalam upaya meningkatkan motivasi, menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru kepada mereka.
Dalam memberikan tugas pada siswa untuk membaca pemahaman teks bacaan, pada siklus I siswa yang sungguh-sungguh dalam proses pembelajaran KBM 16 (51,61%) siswa, namun pada siklus II terjadi peningkatan, yakni sebesar 19 (61,29%) siswa dan meningkat lagi pada siklus III yang sebesar 22 ( 70,96%). Dengan demikian, tindakan yang dilakukan guru untuk meningkatkan keterampilan membaca pemahaman dan kecepatan membaca pemahaman cukup berhasil.Tindakan tersebut berupa menugasi siswa menemukan gagasan utama dan mengidentifikasi perbedaan paragraf induktif dan deduktif . Karena mereka berdiskusi, mereka saling belajar menemukan, mengidentifikasi dan menyebutkan ciri-ciri paragraf induktif dan deduktif, menemukan kalimat utama dan kalimat penjelas. Tindakan yang dilakukan guru ini sebagai upaya mengatasi permasalahan individu yang dialami setiap siswa. Jadi dengan metode pembelajaran yang menyenangkan dapat ditingkatkan taraf perkembangan kepribadian seseorang, seperti rasa minder menjadi berani, sifat malas dan kurang bersemangat dapat dihilangkan karena adanya metode pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. Perlu menjadi perhatian penting bagi guru bahwa siswa belajar dalam keadaan santai tapi serius dan menyenangkan tersebut akan sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan tugasnya dari guru .
b. Siswa mengalami peningkatan nilai keterampilan membaca pemahaman
Sebelum diadakan tindakan siswa mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran membaca pemahaman. Siswa juga merasa malas untuk mengawali kegiatannya dalam pelajaran membaca, apalagi masih sulit untuk memahami bacaan untuk menemukan perbedaan, ciri-ciri paragraf induktif dan deduktif, kalimat utama dan kalimat penjelas, dan menemukan gagasan utama dalam bacaan. Kebanyakan siswa masih kesulitan untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan bacaan. Setelah diadakan tindakan keterampilan membaca pemahaman meningkat. Hal ini dapat dilihat dari hasil pekerjaannya. Mereka sudah mampu membaca pemahaman dengan metode TANDUR. Hasil pekerjaan mereka sudah baik. Hal ini tidak lepas dari peran guru yang selalu mengingatkan siswa mengerjakan tugas dengan tepat. Tingkat keberhasilan penelitian ini cukup signifikan. Nilai yang diperoleh siswa dari tiap siklusnya naik dengan memuaskan
Tingkat keberhasilan penelitian ini cukup signifikan. Nilai yang diperoleh siswa dari tiap siklusnya naik dengan memuaskan. Penilaian yang dilakukan peneliti dan guru meliputi ketepatan menentukan letak gagasan utama pada paragraf, menentukan kalimat utama dan kalimat penjelas, ketepatan menentukan paragraf induktif dan deduktif dalam bacaan, mengidentifikasi paragraf induktif dan deduktif, menjelaskan perbedaan paragraf induktif dan deduktif. Berikut nilai yang diperoleh siswa selama penelitian.
Pada pelaksanaan siklus I, nilai rerata kelas, tes keterampilan membaca pemahaman pada kondisi awal adalah 65,9. Setelah diberi tindakan perbaikan pada siklus I, meningkat menjadi 74,5. Peningkatan dari rerata 65,9 menjadi 74,5 belum mencapai nilai bataas ketuntasan sesuai dengan indicator kinerja. Dari segi ketuntasan belajar secara individu belum mencapai tujuan yangdiharapkan. Dari 31 jumlah siswa, tercatat 14 siswa belum mencapai batas tuntas, sedangkan 17 siswa telah mencapai batas tuntas. Penelitian tindakan kelasdilanjutkan padasiklus II.
Pada siklus II hasil rerata tes keterampilan membaca sebesar 75,3. Dilihat dari nilai rerata siswa sudah memenuhi kriteria. Namun secara individual dari hasil tes pada siklus II tersebut masih terdapat 11 siswa mendapat nilai kurang dari 75. Sedangkan yang mendapat lebih besar atau sama dengan 75 sebanyak 20 siswa. Ketuntasan secara kalasikal 64,52%. Jadi hasil tes keterampilan membaca pemahaman siswa pada siklus II, jika dilihat dari batas minimal sesuai dengan indikator belum memenuhi kriteria. Penelitian tindakan kelas dilanjutkan pada siklus III.
Nilai rerata tes keterampilan membaca pemahaman membaca pada siklus III mencapai 79,4. Dilihat dari minimal nilai rerata siswa sudah memenuhi kriteria. Namun, secara individual dari hasil tes padasiklus III tersebut masih terdapat 5 siswa mendapat nilai kurang dari 75. Sedangkan yang mendapat nilai lebih besar atau sama dengan 75 sebanyak 26 siswa. Ketuntatasan secara klasikal sebesar 83,87%. Jadi, nilai rerata keterampilan membaca pemahaman siswa padasiklus III belum semua mencapai batas tuntas yang telah ditetapkan dengan tingkat ketuntatasan secara klasikal sebesar 100% .Berikut tabel dan grafik hasil rerata tes membaca pemahaman dari siklus I, II, dan III.
Tabel 4.4 Nilai Keterampilan Membaca Pemahaman Antarsiklus
Siswa Kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun
Tindakan Nilai Rerata kelas <75,00 ≥75,00 Survei Awal 65,9 93,54% 6,46% Siklus I 74,5 45,16% 54,84% Siklus II 75,3 35,48% 64,52% Siklus III 79,4 16,13% 83,87% Gambar 4.4. Diagram Nilai Keterampilan Membaca Pemahaman Antarsiklus Siswa kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun c. Guru berhasil membangkitkan minat siswa dengan pendekatan quantum learning Minat siswa terhadap pembelajaran membaca pemahaman dapat dikatakan mengalami peningkatan. Hal ini dapat terlihatdari sikap siswa saat mengikuti kegiatan belajar mengajar. Siswa terlihat antusias dan semangat. Dengan penerapan pendekatan quantum learning melalui metode TANDUR yaitu, tumbuhkan, alami, namai, demonstrasikan, ulangi, dan rayakan sehingga mampu memancarkan energi positif pada diri siswa. Misalnya banyak siswa yang mengacungkan tangan menjawab pertanyaan dari guru dan berani mengemukakan pendapat, bertanya kepada guru apabila menemukan hal-hal yang belum mereka pahami. Hal ini terjadi karena guru berusaha membangkitkan minat dengan mengajak mereka menyanyikan lirik lagu bersama-sama yang berbeda dari kegiatan belajar mengajar yang biasanya yaitu metode ceramah saja dan pemberian reward berupa pujian, penambahan nilai dan benda-benda yang bermanfaat bagi siswa yang aktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas. Siswa juga selalu menunggu-nunggu untuk mengikuti pelajaran membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning. Mereka merasa kegiatan belajarnya menjadi semakin menyenangkan karena tidak harus berhadapan dengan buku teks dan papan tulis melulu di dalam ruang kelas tetapi juga diajak guru di ruang multimedia. Siswa merasa sangat terhibur karena adanya suasana baru dalam pembelajaran. BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan sebanyak tiga siklus dapat disimpulkan sebagai berikut. 1) Penerapan pendekatan quantum learning dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran membaca pemahaman pada siswa kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun tahun ajaran 2011/2012 ditandai dengan meningkatnya jumlah siswa yang aktif dalam kegiatan apersepsi pada siklus I adalah 17 siswa dari 31 siswa (54,84%), pada siklus II sebanyak 20 siswa (64,52%),dan pada siklus III sebanyak 23 siswa (74,19%) maupun meningkatnya jumlah siswa yang antusias bertanya dan aktif dalam kegiatan pembelajaran yang menyenangkan pada siklus I sebanyak 16 siswa (51,61%), pada siklus II sebanyak 19 siswa (61,29%), dan pada siklus III sebanyak 22 siswa (70,96%) . 2) Penerapan pendekatan quantum learning dapat meningkatkan kualitas hasil keterampilan membaca pemahaman pada siswa kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun, ditandai dengan meningkatnya jumlah siswa yang mencapai batas ketuntasan, yaitu pada siklus I adalah 17 siswa dari 31 siswa (54,84%). Pada siklus II menjadi 20 siswa (64,52%) dan meningkat lagi pada siklus III, yaitu 26 siswa (83,87%). B. Implikasi Penelitian ini memberikan suatu gambaran yang jelas bahwa keberhasilan proses dan hasil pembelajaran bergantung pada beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut berasal dari pihak guru dan siswa. Faktor dari pihak guru yaitu kemampuan dalam mengembangkan materi, kemampuan guru dalam menyampaikan materi, kemampuan guru dalam mengelola kelas, memilih model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran, serta teknik yang digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan materi. Kemudian faktor dari siswa yaitu minat dan motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Faktor-faktor tersebut saling mendukung sehingga harus diupayakan agar semua faktor tersebut dapat terpenuhi. Apabila guru memiliki kemampuan yang baik dalam menyampaikan materi dan dalam mengelola kelas serta didukung oleh teknik dan sarana yang memadai, pembelajaran akan berlangsung dengan baik. Selain faktor tersebut, pemilihan pendekatan quantum learning yang tepat akan sangat mengefektifkan pembelajaran. Penyampaian materi dan penggunaan pendekatan quantum learning dengan metode TANDUR yang tepat akan dapat diterima siswa apabila siswa juga memilki minat dan motivasi yang tinggi untuk aktif dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran akan berjalan lancar, kondusif, efektif, dan efisien. Penelitian ini membuktikan bahwa dengan menerapkan pendekatan quantum learning dengan metode TANDUR sebagai model pembelajaran membaca pemahaman dapat berhasil . Bagi guru mata pelajaran bahasa Indonesia, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai alternatif dalam melaksanakan pembelajaran membaca pemahaman siswa. Dengan pendekatan quantum learning ini, siswa dapat saling membantu menemukan gagasan utama,kalimat utama dan kalimat penjelas, dan perbedaan paragraf induktif dan deduktif dalam bacaan dan mampu memahami dan mendalami seluruh isi bacaan. Penerapan pendekatan quantum learning dalam pembelajaran membaca pemahaman, keterampilan membaca pemahaman siswa dapat dikembangkan. Siswa dipilih secara heterogen yaitu dengan mempertimbangkan prestasi keterampilan membacanya. Siswa yang mampu membaca pemahaman dengan baik. Selanjutnya, guru memberi kesempatan kepada tiap siswa untuk mendiskusikan materi bacaan dengan teman yang lain. Mereka berdiskusi untuk membuat ringkasan bacaan dan mempresentasikannya di depan kelas. Setelah itu siswa tersebut tampil presentasi, guru mengajak siswa yang tidak tampil presentasi memberi respon terhadap penampilan mereka. Pemberian tindakan pada siklus I, siklus II, dan siklus III memberikan deskripsi bahwa terdapatnya kekurangan atau kelemahan yang terjadi selama proses pembelajaran membaca pemahaman berlangsung. Namun, kekurangan-kekurangan tersebut dapat teratasi pada pelaksanaan tindakan yang kemudian dilakukan refleksi terhadap proses pembelajaran, dapat dideskripsikan terdapatnya peningkatan kualitas pembelajaran membaca pemahaman baik proses maupun hasilnya. Dari segi proses, pembelajaran keterampilan membaca pemahaman dengan memupuk rasa senang siswa dan memotivasi siswa untuk meningkatkan keterampilan membaca pemahamannnya. Adapun dari segi hasil, terdapat peningkatan nilai tes keterampilan membaca pemahaman siswa dari siklus I sampai siklus III. C. Saran Berkaitan dengan simpulan dan implikasi di atas, dapat diajukan saran sebagai berikut. 1. Bagi Siswa a. Siswa diharapkan dapat aktif selama kegiatan pembelajaran berlangsung. b. Siswa diharapkan mulai gemar membaca setelah diterapkan pembelajaran membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning. c. Siswa diharapkan mempresentasikan hasil ringkasannya dengan suara yang jelas sehingga dapat di dengar oleh siswa yang lainnya. d. Siswa yang tidak tampil presentasi, hendaknya memperhatikan dan menyimak siswa lain yang sedang tampil presentasi. 2. Bagi Guru a. Guru hendaknya memonitor dan membimbing siswa yang mengalami kesulitan sewaktu pembelajaran. b. Guru hendaknya memotivasi siswa agar aktif selama proses pembelajaran. c. Guru hendaknya mengarahkan siswa agar aktif selama kegiatan pembelajaran dan sewaktu mereka tampil presentasi. d. Guru hendaknya mengubah pembelajaran keterampilan membaca pemahaman yang teacher-centered menjadi student-centered dengan menerapkan pendekatan quantum learning. 3. Bagi Sekolah a. Hendaknya pihak sekolah selalu memberi motivasi kepada guru dengan jalan antara lain membeir penghargaan kepada guru yang menunjukkan kinerjanya dengan baik. b. Hendaknya sekolah berupaya untuk selalu menciptakan iklim kerja yang kondusif melalui suasana yang harmonis dan komunikasi yang terbuka. 4. Bagi Peneliti a. Pendekatan quantum learning dapat diterapkan di kelas lain maupun di sekolah lain dengan penyesuaian kondisi siswa dan sekolahnya. b. Bagi peneliti yang ingin menerapkan pendekatan quantum learning dapat bekerja sama dan berkolaborasi dengan guru yang mengalami permasalahan pembelajaran membaca pemahaman. DAFTAR PUSTAKA Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja Agustinus Suyoto. 2009. Sistem Membaca Cepat dan efektif” dalam http;//bhsindo.multiply.com/journal/item/1, diunduh pada 20 Maret 2011 Pukul 10.30 WIB.. Jurnal Ilmu Ilmu Pendidikan . Jilid, No.1:71-79,Jakarta: LPTK dan ISPI Ahmad Ridhani Ar. 2004. “Pembelajaran Membaca Interaktif dengan Pendekatan Cooperatif Learning di Sekolah Dasar. Jurnal Ilmu Ilmu Pendidikan . Jilid, No.1:71-79,Jakarta: LPTK dan ISPI Ahmad Slamet Sujana. 2003. Buku Materi Pokok Keterampilan Membaca. Jakarta: UT Ahmad Sudrajad. 2008. Quantum Learning dalam http //akhmadsudrajad. wordpress.com. diunduh pada tanggal 24 Maret 2011. Pukul 11.00 WIB Aminudin.1997. Strategi Pengajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Airlangga. Andayani. 2009. Pendekatan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Salatiga. Widya sari Press. Anderson. Jenathan; Durston, Berry H; dan Poole, Milecent. 10. Efficien Reading: A Practical Guide. Sydney : Hc Graw-Hill. Anderson, Paul S. 1972. Language Skil in Elementary Education. New York : Appleton-Century Crofts. Bown, H. Douglas. 2001. Teaching by principles Ar interactive Approach to Language Pedagogy second Edition .San fransisco : state university. Bobby De Potter, Mike Henarcki. 2005. Quantum Learning . New York: Dell Publising. Burhan Nurgiyantoro, 2001. Penilaian dan Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPEE. Burmeister, Lou E. 1978. Reading Strategis for Middle and Secondary School Techers. Massachusetts Addison-Wesley Publising Company. Davies, Alan dan Widdowson, HG.1974. “Reading and Writing”, dalam techniques in Apllied Linguististics Volume Three, Ed. J.P.B. Allen and s. Pit Corder. London : Oxford University. Davies, Florence. 1995. Intruduction Reading. London : Penguin Books. David Nunan. 1999. Language Teaching Methodology: A Textbook for Teachers. New York: Prentice Hall Inc. DeBoer, John J dan Dallmann, Martha. 196. The Teaching of Reading. United States of America : Holt, Rinehart and Winston, Inc. Teachers. New York: Pratical Hall. Depdiknas . 2007. Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan Madrasah Aliyah. Dwi Putri. 2006.” Manfaat Membaca” dalam http//dwpptrijenewa.isuisse.com/ bulletin/p=312,diunduh pada 28 Maret 2010 Pukul 10.00 WIB. Endang Fauzati.2002. Teaching of English As A Foreign Language (TEFL).: Surakarta: Muhamadiyah Press. Elliot,J. 1991. Action research for Educational Change. Philadelphia: Milton Keynes. Farida Rahim. 2008. Pengajaran Membaca. Jakarta: Bumi Aksara. Fathur Rohman. 2005. “ pengembangan Pembelajaran Membaca”. Makalah disampaikan dalam Bimbingan Teknis Guru SMP/MTS Mata Pelajaran Bahasa Indonesia se-Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh SubDinas Pengembangan tenaga Kependidikan dan NonKependidikan Seksi PTK- SMP. Finocchiaro, Mary dan Bonomo, Michel. 1973. Reading and Reading Comprehension Exercises. New York : Regents Publishing Company,Inc. Gillet, Jean Wallace.1994. Understanding Reading Problem: Assessment and Instruction, New York : Harper Collins College Publishers. Godman, K. 1988. The Conditions of Learning. New York: Cambridge University. Grellet, Francoise. 1991. Developing Reading Skill’s: A Pratical Guide to Reading Comprehension Exercises. New York: University Press. Haris. A.J. 1971. Effective Teaching Advanced Learner’s Dictionary of Current English .Oxford : University Press. H.B. Sutopo. 1996. Methodologi Penelitian Kualitatif.Surakarta: Sebelas Henry Guntur Tarigan. 2010. Membaca sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Hernowo .2005. Quantum Reading. Bandung: MLC Hornby, 1995. Oxfora Advenced Learner’s dictionary of Current English. Oxford : Oxford University Press. I Gusti Ngurah Oka. 1983. Pengantar Membaca dan Pengajaran. Surabaya: Usaha Nasional. Imam Syafi’ie. 1983. Terampil Berbahasa Indonesa I Petunjuk Guru bahasa Indonesia. Jakarta : Depdikbud. -----------1994. Pengajaran Membaca Terpadu. Bahan kursus Pendalaman Materi Guru Inti PKB Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: DEpdikbud. Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. 2009 . Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: P T Remaja Rosdakarya. Khaerudin Kurniawan.2000. “ Membina Kemahiran Menulis Mahasiswa “ dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No. 024. Tahun ke-6. Massofa.2008 “ Strategi Pembelajaran Membaca” dalam http://massofa.wordpress.com/2008/11 /25/strategi -pembelajaran membaca//), diunduh pada 30 Mei 2011 Michel Pressley. 2000. Is This a Breakthrough in Reading?, in The Reading Teacher PP. 258-263 V.III Nurhadi, 2001. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannnya dalam Pendidikan. Malang: Universitas Negeri Malang Press. Nuttall. C.1982. Teaching Reading Skill in Foreign Language. London: Heinemann Educational Books. Nyoman S. Degeng. 2005.” Orkestra Pembelajaran “ Makalah Disampaikan Pada Diskusi ilmiah Peningkatan insruksional. PPs. UNS 30 November 2005. Roekhan dan Martutik. 1991. Evaluasi Pengajaran Bahasa Indonesia. Malang: YA3 Sarwiji Suwandi. 2008. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Penulisan Karya Ilmiah. Surakarta: Yuma Pustaka FKIP UNS. Sarwiji Suwandi dan Reheni Suhita.2000.” Minat Baca Siswa SD dan Upaya Orang Tua Untuk Menumbuhkembangkannya.” Jurnal Penelitian dan Pendidikan Paedagogia. Jilid 3, No. 35: 34. Surakarta: FKIP UNS. Samsu Somadoya. 2011.Strategi dan Teknik Pembelajaran Membaca.Yogyakarta: Graha Ilmu Smith. 2006. “Strategi Pembelajaran Membaca” dalam http//masssofa.wordpress. com//2008/11/25/strategi-pembelajaran-membaca/, diunduh pada 20 Maret 2010 Pukul 19.00 WIB. Space, George D. 1962. Is This a Breakthrough in Readin?In The Reading Teacher PP. 258-263. Soenjono Dardjowidjoyo.2003. Psikolinguistik Pengantar Pemahaman membaca Manusia. Jakarta:Yayasan Obor Indonesia Soenardi Djiwandono. 1996.Tes Bahasa dalam Pengajaran. Bandung: ITB. Suyatno.2004. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya : Penerbit SIC. Sugiyanto. 2010. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Surakarta:Yuma Pustaka St.Y. Slamet. 2008. Dasar-dasar Keterampilan Berbahasa.Surakarta : UNS Press.. Tampubolon. 2008. Kemampuan Membaca Teknik Membaca Efektif dan Efisien. Bandung: Angkasa. Turner,Thomas.N.1988. Comprehension Reading for Meaning. Dalam Alexander. J Estill. 1988. Teaching Reading. Boston: Scott, Foresman and Company. Ubaidillah. 2002. Psikologi Pengembangan. Dalam http://www.e- psikologi. com/pengembangan. (diunduh pada tanggal20Maret 2011 pukul 11.00 WIB). Ujang Sukardi,dkk. 2003.Belajar aktif dan Terpadu. Surabaya:CV Duta Graha Pustaka. Wallace, Catherine. 1996. Reading.. Oxford University Press. Winkel,W.S. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT Grasindo. LAMPIRAN PENELITIAN Lampiran 1 Catatan Lapangan Hasil Wawancara dengan Guru Catatan Lapangan Hasil Wawancara A. Pelaksanaan Wawancara Hari/Tanggal : Sabtu 10 September 2011 Waktu : Pukul 08.00 WIB sampai selesai Tempat : Ruang Kantor Guru MAN 2 Madiun Informan : Ibu Rita Purbawanti,S.Pd. (RP) Pewawancara : Kasmini (KS) Topik Wawancara : Proses Pelaksanaan Pembelajaran Membaca di Kelas XI IPS2 MAN 2 Madiun B. Transkrip Hasil Wawancara KS : “Assalamualaikum, Bu. Maaf, Bu ada waktu untuk saya berwawancara dengan ibu terkait dengan pembelajaran membaca di MAN 2 Madiun ini.” RP : “ Waalaikum salam, Bu, Boleh Bu. Mari cari tempat yang tidak terlalu ramai.” KS : “Begini Bu, bagaimana keterampilan siswa dalam pembelajaran membaca selama ini terkait dengan penerapan KTSP? RP : “ Yang pertama yaitu terkait dengan kurikulumnya, dan silabusnya memang menuntut siswa kelas XI IPS 2, atau dalam standar kompetensi menuntut siswa terampil membaca pemahaman pada materi paragraf induktif dan deduktif. Siswa diperintahkan membaca bacaan melalui tayangan media LCD yang ditayangkan RP. KS : “ Jadi tayangan media ini agar apa, ya, Bu? RP : “ Ya, agar anak bisa menikmati tayangan gambar dan paragraf sehingga merasa senang terhibur sehingga tertarik.” KS : “Untuk metode dan teknik pembelajaran yang digunakan bagaimana, Bu?” RP : “Yang pertama dengan ini, saya menyuruh mereka terbiasa melihat dulu sesuatu yang pernah dia lihat atau alami dalam kehidupan sehari-sehari. Setelah mereka kita bawa ke dunia mereka , mereka mulai tertarik dalam pembelajaran membaca, baru kita bawa untuk membaca paragraf yang sudah disediakan. Dengan cara menentukan kalimat utama, gagasan utama masing-masing paragraf dalam bacaan, Setelah itu saya terangkan mengenai paragraf deduktif dan induktif. KS : “Itu menggunakan metode apa, Bu?” RP : “Metode ceramah dan penugasan.” KS : “Untuk alokasi waktunya bagaimana?” RP : “ Karena membaca pemahaman materi paragraf induktif dan deduktif masih belum ada tekanan untuk kenaikan kelas, jadi masih longgar dan tidak terburu-buru untuk mengenali keterampilan membaca mereka.” KS : “Bagaimana dengan tanggapan, minat, dan antusias siswa terhadap tugas ini,Bu?” RP :”Mayoritas antusias. Kalau ada anak yang kurang antusias itu ya, yang namanya siswa ada yang istilahnya ‘mbeler’. Itu harus ada pendekatan individu. Biasanya kalimat anak tidak komunikatif, nah itu yang saya bantu agar lebih komunikatif lagi.” KS :”Adakah hambatan selama ini, Bu?” RP :” Hambatan ada. Mereka kesulitan untuk memahami bacaan dengan tepat dan cepat, sering harus membaca berulang-ulang.” KS :”Berarti banyak kerja keras dari guru ya, Bu?” RP :”Harus!” KS :”Terus cara untuk mengatasi hambatan itu, bagaimana, Bu?” RP :”Pendekatan secara psikis. Anak itu kan sebenarnya punya potensi. Hanya terkadang mereka malu untuk mengungkapkannya. Jadi saya dekati, saya data mengapa, alasanya apa, ya tentunya tidak di kelas ya.” KS :”Berarti interaksi antara guru dan murid sangat bagus,ya Bu?” RP :”Harusnya seperti itu. Karena memang yang selama ini jadi komitmen saya adalah membuat anak terampil membaca pemahaman. Kan dalam kehidupan sehari-hari maupun di sekolah siswa dituntut untuk terampil memahami suatu bacaan atau respon tentang kehidupan. Apalagi di soal semester maupun UN dituntut untuk dapat memahami bacaan dengan tepat dan cepat. Jadi kalau mereka harus terlatih mulai dini untuk cepat paham dan menangkap isinya.” KS :”Untuk sistem penilaian dan evaluasinya bagaimana,Bu?” RP :”Sitem penilaian yang saya terapkan yang pertama ini, dari hasil memahami dan menjawab pertanyaan. Dari memahami kalimat utama, kalimat penjelas, gagasan utama, perbedaan paragraf induktif dan deduktif.” KS :”Demikian ,Bu. Terima kasih atas segala jawaban, perhatian dan waktu yang telah ibu berikan. Mohon maaf telah merepotkan.” RP :”Ya, sama-sama.” KS :”Assalamualakum” RP :”Waalaikum Salam.” C. Refleksi Hasil Wawancara Dari hasil wawancara ini dapat diketahui bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran membaca mulai dari tahap persiapan, proses pelaksanaan, sampai pada evaluasi sudah dilaksanakan dan dipersiapkan dengan baik. Mulai dari silabus dan rencana pembelajaran, sudah sesuai dengan kurikulum KTSP yang diterapkan dan sesuai dengan anjuran dari TIM MGMP. Pada tahap persiapan, menyuruh siswa untuk melihat tayangan media video dan gambar yang menarik untuk menumbuhkan motivasi anak dalam membaca. Dengan alokasi waktu selama dua kali tatap muka, diharapkan siswa dapat terampil membaca pemahaman dengan baik. Lampiran 2 Catatan Lapangan Hasil Wawancara dengan Siswa. Catatan Lapangan Hasil Wawancara A. Pelaksanaan Wawancara Hari/ Tanggal : Senin, 12 September 2011 Waktu : Pukul 10.00 WIB sampai selesai Tempat : Teras Depan MAN 2 Madiun Informan : Yuvita Wardani (YW) Pewawancara : Kasmini (KS) Topik Wawancara : Hambatan dalam membaca B. Transkrip Hasil Wawancara KS :“Sekarang jam istirahat ,ya mbak? Kamu ada waktu? Saya akan menayakan beberapa hal terkait dengan tugas membaca. Kamu bisa? YW : “Iya Bu, saya bisa.” KS :“Selama ini pelajaran bahasa Indonesia yang paling sulit dan membosankan menurut kamu apa? YW : “Membaca puisi, tetapi yang paling sulit lagi memahami bacaan.” KS : “Mengapa menurut kamu sulit.” YW : “Soalnya harus membaca, dan memahami maksud bacaan karena harus menjawab pertanyaan berkaitan dengan bacaan tersebut, itu yang membosankan dan membuat malas. Bu.” KS : “Kamu selalu mendapat nilai berapa kalau membaca wacana dan menjawab soal-soal terkait? YW : “Ya, hanya dapat 65, padahal menurut saya ya benar, Bu.” KS : “Selama ini guru dalam menerangkan materi membaca dengan media apa?” YW : “Hanya ceramah lalu siswa disuruh membaca sendiri-sendiri lalu diberi tugas untuk menjawab pertanyaan yang ada di bawah bacaan.” KS : “Ada yang lain misalnya diberi permainan atau gambar?” YW : “Sama sekali belum pernah Bu.” C. Refleksi Hasil Wawancara Dari hasil wawancara dengan siswa ini dapat dilihat bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran membaca yang dilakukan siswa kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun cukup baik. Tetapi di sisi lain masih banyak siswa yang kesulitan dalam membaca dan memahami bacaan serta menjawab pertanyaan terkait bacaan. Terutama mengenai pemahaman paragraf induktif dan deduktif, menemukan gagasan utama, serta kalimat utama dan kalimat penjelas dalam bacaan, mereka cenderung mendapat nilai kurang memuaskan. Lampiran 3 Catatan Lapangan 1 Observasi Pra -Tindakan Hari/Tanggal : Selasa, 13 September 2011 Waktu :07.15 WIB Jenis : Observasi Pra-Tindakan (Survei awal) Objek Penelitian : Siswa kelas XI IPS 2 Guru bidang studi bahasa dan Sastra Indonesia Setting: Observasi ini dilaksanakan di ruang kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun, kota Madiun yang berukuran kurang lebih 8 x 6 m. Di dalam ruangan kelas tersebut terdapat sepasang meja dan kursi untuk guru, 31 buah kursi meja untuk siswa, di dinding kelas tertempel gambar presiden dan wakil presiden Republik Indonesia, gambar burung garuda, gambar pahlawan, jam dinding, kipas angin, almari buku dan hasil keterampilan siswa yang dipajang. Pada saat observasi ini dilakukan 3 siswa izin tidak mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dikarenakan sedang sakit. Siswa yang tidak menyangka akan diamati, terlihat gaduh dan bertanya pada gurunya perihal peneliti. Guru kemudian memperkenalkan peneliti kepada siswa, setelah itu guru bersangkutan memulai kegiatan belajar mengajar pada pagi hari itu. Deskripsi: Guru memulai Kegiatan Belajar mengajar dengan membuka pelajaran dan mengecek beberapa siswa yang tidak mengikuti pelajaran bahasa Indonesia pagi itu dengan melihat presensi kelas tersebut. Peneliti menempatkan diri sebagai partisipan pasif dengan berada di tempat duduk bagian belakang, sehingga peneliti dapat mengamati jalannya kegiatan belajar mengajar dengan leluasa tanpa menggangu pelajaran yang sedang berlangsung. Di kelas XI IPS 2 Madiun guru menjelaskan mengenai materi membaca pemahaman, kemudian menjelaskan pengertian paragraf induktif dan deduktif, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membaca, serta menentukan perbedaan, ciri-ciri paragraf induktif dan deduktif dalam bacaan, menentukan gagasan utama, kalimat utama dan kalimat penjelas. Sesekali guru mengajukan pertanyaaan kepada siswa, kemudian meminta siswa untuk tunjuk jari dan menjawab. Namun tidak ada salah seorang siswa yang berani menjawab dengan taegas sambil menujukkan jari, kebanyakan mereka cuma berguman alakadarnya rnenjawab sebisanya. Guru pun akhirnya menunjuk salah satu siswa untuk mennjawab pertanyaan tersebut. Siswa tersebut ternyata mampu menjawab pertanyaan yang diajukan meskipun jawabannya belum tepat tentang pengertian paragraf induktif dan deduktif. Tetapi saat ditanya guru tentang paragraf induktif dan deduktif, siswa langsung menjawab dengan jawaban yang beraneka ragam. Sebelum beranjak memberikan pengertian paragraf induktif dan deduktif terlebih dahulu guru mengajak. siswa mengingat pengalaman mereka berkaitan dengan gambar-gambar atau objek yang disajikan guru dalam tayangan LCD. Dari situ guru menyuruh siswa untuk menyimpulkan yang dimaksud pengertian dan perbedaaan paragraf induktif dan deduktif. Siswa yang mengikuti kegiatan belajar mengajar terlihat begitu antusias, mengingat pelajaran bahasa Indonesia jatuh pada jam setelah upacara hari bendera hari Senin mereka sudah lelah. Suasana di dalam kelas sangat panas dan gerah membuat siswa banyak yang kipas-kipas dan tidak memperhatikan penjelasan dari guru, sehingga motivasi siswa unruk mengikuti pelajaran kali itu kurang. Refleksi: Kegiatan belajar mengajar di kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun berlangsung pasif, sebab kebanyakan siswa tidak begitu aktif menaggapi stimulus yang diberikan oleh guru. Siswa hanya mau aktif apabila guru sudah meunjuk atau memanggil nama siswa untuk menjawab atau menaggapi respon setiap pertanyaan. Guru yang bersangkutan pun terlihat cukup kesulitan dalam mengatasi hal tersebut. Observasi ini merupakan survai awal yang dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui kondisi awal dalam kegiatan pembelajaran menulis pengalaman yang dilakukan oleh guru yang masih bersifat konvensional. Survei awal ini dilakukan untuk mengidentifikasi masalah, sehingga peneliti dapat menentukan rencana untuk tindakan penelitian selanjutnya. Lampiran 4 Catatan Lapangan Observasi awal (Angket) Hari/Tanggal : Rabu, 14 September 2011 Waktu : 08.00-09.00 WIB Jenis : Angket (Observasi Awal) Objek Penelitian : Siswa kelas XI IPS 2 Setting: Observasi ini dilaksanakan di ruang kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun yang berukuran kurang iebih 8 x 6 m. Di dalam ruangan kelas tersebut terdapat sepasang meja dan kursi untuk guru, 31 buah kursi meja untuk siswa, di dinding kelas Was tertempel gambar presiden dan wakil presiden Republik Indonesia, gam bar burung garuda, gambar pahlawan, jam dinding, kipas angin, almari buku dan hasil keterampilan siswa yang dipajang di mading kelas. Pada saat observasi ini dilakukan 2 siswa izin tidak mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dikarenakan sedang sakit. Siswa tidak menyangka akan dijadikan objek penelitian terlihat bingung dan gaduh melihat guru masuk ke kelas bersama-¬sama dengan peneliti yang belum mereka kenal. Setelah guru memberi penjelasan secara singkat perihal peneliti akhirnya siswa mau menerima dan melakukan perintah guru agar siswa mau mengisi angket yang telah disiapkan oleh peneliti. Guru kemudian memberi waktu 30 menit kepada siswa untuk mengisi angket lalu dikumpulkan, guru yang bersangkutan pun memulai belajar mengajar. Deskripsi: Kegiatan ini dilaksanakan dengan memanfaatkan siswa kelas XI IPS 2 sebagai objek penelitian dan sebagai sumber data penelitian. Awalnya siswa bertanya perihal tentang tugas mengisi angket, mereka mengira pertanyaan dalam angket tersebut sulit. Bagi siswa yang tidak mengikuti pelajaran hari kemarin terlihat bingung tentang perihal pengisian angket yang berhubungan dengan materi membaca pemahaman paragraf induktif dan deduktif, sehingga banyak bertanya pada guru. Kebanyakan siswa rarnai dalam kegiatan mengisi angket, ada yang berdiskusi dengan teman sebangku perihal pertanyaan yang ada di dalam angket. Namun setelah guru membatasi waktu pengisisan angket siswa dengan cepat menyelesaikannya. Pengumpulan data dengan cara menyebar angket ini berlangsung selama 30 menit, peneliti duduk dikursi paling belakang keIas XI IPS2, sedangkan guru berkeliling memeriksa hasil kerja siswa sesekali siswa bertanya perihal soal angket nomor tertentu yang dianggap siswa sulit untuk mengisi. Setelah semua siswa selesai menjawab soal-soal di dalam angket guru dan peneliti segera mengumpulkan angket tersebut. Kegiatan memeriksa hasil pengisisan angket dilaksanakan guru dan peneliti di ruang perpustakan. Refleksi: Pengumpulan data dengan menggunakan instrumen angket ini berjalan dengan lancar, meski ada beberapa siswa yang bertanya tentang soal-soal yang disajikan di dalam angket kepada guru. Setelah disimpulkan hasil angket tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar siswa merasa bosan dengan pembelajaran yang dilakukan guru selama ini. Selain itu mereka menyatakan bahwa mereka tidak suka dengan cara mengajar yang digunakan oleh guru mereka waktu itu. Lampiran 5 Instrumen Minat Siswa terhadap Minat Membaca Petunjuk Umum Mengisi Angket 1. Angket ini digunakan untuk mengetahui Minat membaca Anda 2. Jumlah butir soal sebanyak 20. Anda diminta untuk menjawab semua butir soal tersebut. 3. Bacalah semua butir soal dengan cermat dan teliti! 4. Jawablah dengan jujur sesuai dengan hati nurani anda! 5. Anda tidak perlu menuliskan identitas pada lembar jawab. 6. Waktu yang disediakan untuk mengisi angket adalah 20 menit Petunjuk khusus Jawablah soal-soal pada angket berikut, tulislah jawaban Anda pada lembar jawab yang tersedia dengan memberi tanda silang (X) pada huruf a, b,c,atau d! 1. Bagaimana perasaanmu selama ini terhadap pembelajaran membaca? a. sangat senang c. kurang senang b. senang d. tidak senang 2. Selama proses pembelajaran membaca berlangsung, apakah kamu dapat memusatkan perhatian dengan baik? a. selalu c. kadang-kadang b. seringkali d. tidak pernah 3. Apabila mengalami kesulitan atau hambatan dalam belajar membaca, apakah kamu bertanya kepada guru atau teman yang lebih tahu? a. selalu c. kadang-kadang b. seringkali d. tidak pernah 4. Agar dapat membaca dengan baik, apakah kamu bertanya mengenai teknik-teknik membaca kepada guru? a. selalu c. kadang-kadang b. seringkali d. tidak pernah 5. Apabila guru sudah memulai pelajaran, apakah kamu segera memusatkan perhatian kepada materi pembelajaran yang disampaikan? a. selalu c. kadang-kadang b. seringkali d. tidak pernah 6. Bagaimana menurut pendapatmu ketika memberikan pembelajaran membaca, guru sering memberikan tugas individu untuk melatih belajar mandiri? a. Sangat setuju c. kurang setuju b. Setuju d. tidak setuju 7. Apakah kamu senang mendiskusikan berbagai persoalan yang berkaitan dengan keterampilan membaca? a. Selalu c. kadang-kadang b. Seringkali d. tidak pernah 8. Membaca buku-buku itu penting untuk menambah ilmu pengetahuan dan memperluas wawasan. Bagaimana menurut pendapatmu? a. sangat setuju c. kurang setuju b. setuju d. tidak setuju 9. Keterampilan membaca efektif hanya dapat dikuasai dengan baik apabila ada keinginan untuk mencoba banyak berlatih. Bagaimana menurut pendapatmu? a. Sangat setuju c. kurang setuju b. setuju d. tidak setuju 10. Apabila ada tugas dari guru, apakah kamu segera menyelesaikannya agar tidak menjadi beban? a. selalu c. kadang-kadang b. seringkali d. tidak pernah 11. Apabila mengalami kegagalan dalam membaca , apakah kamu mencoba untuk membaca lagi dan berusaha untuk mengatasi hambatan-hambatan yang ada? a. selalu c. kadang-kadang b. seringkali d. tidak pernah 12. Apakah kamu ingin terus mencoba belajar membaca yang efektif agar dapat menunjang pelajaran yang lain dan menambah wawasan? a. selalu c. kadang-kadang b. seringkali d. tidak pernah 13. Apakah kamu berkeinginan membaca dan menuliskan ulasan hasil membaca untuk dikirimkan ke majalah sekolah atau media lain? a. selalu c. kadang-kadang b. seringkali d. tidak pernah 14. Apabila ada buku yang harus kamu baca dan buku itu tidak tersedia, apakah kamu terus berusaha untuk mendapatkan buku tersebut? a. selalu c. kadang-kadang b. seringkali d. tidak pernah 15. Baik ada tugas maupun tidak ada tugas, apakah kamu mencoba membaca sesuatu yang menarik untuk dibaca? a. selalu c. kadang-kadang b. seringkali d. tidak pernah 16. Belajar itu tidak ada batasnya, termasuk mempelajari keterampilan membaca. Bagaimana menurut pendapatmu? a. sangat setuju c. kurang setuju b. setuju d. tidak setuju 17. Apakah kamu ingin berusaha lebih keras untuk untuk mendalami teknik-teknik membaca efektif agar dapat membaca dengan efektif pula? a. selalu c. kadang-kadang b. seringkali d. tidak pernah 18. Apakah akan belajar dengan giat dengan harapan nilai membacamu bagus? a. selalu c. kadang-kadang b. seringkali d. tidak pernah 19. Kalau kamu memiliki idea tau gagasan, apakah saat itu pula idea atau gagasan tersebut kamu tulis dilengkapidengan sumber-sumber dari membaca buku, artikel dalam surat kabar atau internet? a. selalu c. kadang-kadang b. seringkali d. tidak pernah 20. Kebiasaan menunda-menunda waktu merupakan hambatan yang terus dibuang jauh-jauh dalam kegiatan membaca. Bagaimana menurut pendapat kamu? a. sangat setuju c. kurang setuju b. setuju d. tidak setuju Lampiran 6 Lembar Pengamatan Siswa Nama siswa : …………………. NIS :………………….. Nama Pengamat :………………….. a. Antusias siswa dalam menjawab pertanyaan. No Uraian Skor Hasil Pengamatan Skor diperoleh 1 2 3 1 Siswa mengamati objek/gambar/ video dengan antusias 2 Siswa mengamati objek bacaan yang akan dibaca dengan teliti 3 Siswa aktif menjawab pertanyaan berkaitan dengan bacaan yang sudah ada 4 Siswa membuat catatan pokok-pokok dari bacaan yang mereka baca 5 Siswa menggunakan waktu dengan baik selama membaca b. Siswa aktif dalam pemberian apersepsi. No Uraian Skor Hasil Pengamatan Skor diperoleh 1 2 3 1 Siswa memperhatikan penjelasan dari guru 2 Siswa sangat antusias dalam mengikuti pelajaran 3 Siswa berani menjawab pertanyaan 4 Siswa menggunakan waktu dengan baik selama membaca pemahaman 5 Siswa berani bertanya pada saat guru memulai pelajaran c. Siswa aktif dalam kegiatan KBM No Uraian Skor Hasil Pengamatan Skor diperoleh 1 2 3 1 Siswa dengan cepat memulai membaca pemahaman 2 Siswa membaca pemahaman dengan tepat 3 Siswa bertanya apabila menghadapi kesulitan dalam membaca 4 Siswa membaca tepat waktu sesuai dengan alokasi waktu yang ditentukan 5 Siswa berupaya membaca ulang hasil pekerjaannya Skala penilaian pada Lembar Pengamatan No. Kegiatan Nilai Kriteria 1 Antusias menjawab soal 3 Apabila siswa menjawab soal sesuai dengan pertanyaan guru 2 Apabila siswa menjawab soal cukup sesuai dengan pertanyaan dari guru 1 Apabila siswa menjawab soal kurang sesuai dengan pertanyaan dari guru 2 Aktif dalam pemberian apersepsi 3 Apabila siswa sangat aktif mengikuti kegiatan apersepsi yang diberikan guru 2 Apabila siswa aktif mengikuti kegiatan apersepsi yang diberikan guru 1 Apabila siswa kurang aktif mengikuti kegiatan apersepsi yang diberikan guru 3 Aktif dalam kegiatan KBM 3 Apabila siswa sangat aktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar 2 Apabila siswa aktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar 1 Apabila siswa kurang aktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar Keterangan : 1. Antusias menjawab soal : Skor minimal 5, skor maksimal 15 Kategori B bila siswa memperoleh skor 13-15 Kategori C bila siswa memperoleh skor 9-12 Kategori K bila siswa memperoleh skor 5-8 2. Aktif dalam pemberian apersepsi : Skor minimal 5, skor maksimal 15 Kategori B bila siswa memperoleh skor 13-15 Kategori C bila siswa memperoleh skor 9-12 Kategori K bila siswa memperoleh skor 5-8 3. Aktif dalam kegiatan KBM. Skor minimal 8, skor maksimal 20 Kategori B bila siswa memperoleh skor 16-20 Kategori C bila siswa memperoleh skor 11-15 Kategori K bila siswa memperoleh skor 7-10 Lampiran 7 Catatan Lapangan Wawancara Terstuktur (Observasi Awal) Hari/I'anggal : Rabu, 14 September 2011 Waktu :08.00 WIB Jenis : Wawancara Terstuktur (Observasi Awal) Informan : Binti Nur Halimah (siswa) Setting: Wawancara ini dilaksanakan di luar ruang kelas XI IPS 2, Kota Madiun. Di teras depan tersebut terdapat sebuah kursi kayu yang panjang. Suasana sekolah pada waktu itu tidak begitu ramai sebab sebagian besar siswa masih mengikuti palajaran di kelas. Deskripsi: lnforman adalah siswa kelas XI IPS 2 MAN Madiun. Dari percakapan awal, peneliti mengetahui informan adalah salah satu siswa yang memperoleh nilai tertinggi dalam tugas membaca yang diberikan oleh guru. Dari hasil wawancara dapat dilihat di bawah ini: P : Apakah kamu pernah menerima pelajaran membaca pemahaman di sekolah? B : Pernah bu. P : Menurut kamu, bagaimana cara mengajar yang digunakan oleh guru? B : Guru cuma mejelaskan sedikit tentang membaca pemahaman kemudian langsung diberi tugas untuk membaca sehingga males kalau ada tugas membaca. P : Sebenarnya cara mengajar yang bagaimana yang kamu inginkan agar digunakan oleh gurumu dalam mengajarkan membaca? B : Mengajar dengan cara yang menyenangkan, seperti diberi pernainan, bernyanyi-nyanyi atau diberi gambar sesuatu biar menyenangkan. Refleksi Informan yang pernah mendapat pelajaran membaca sewaktu duduk di bangku kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun ini, mengungkapkan ketidaksukaannya dengan cara yang digunakan oleh guru dalam mengajarkan materi mengenai membaca, sebab menurutnya cara guru dalarn mengajarkan membaca kurang menarik dan sulit dipahami siswa. Lampiran 8: Catatan Lapangan Hasil Wawancara dengan Siswa Hari/Tanggal : Kamis, 15 September 2011 Waktu : 08.00 WIB Jenis : Wawancara Terstuktur (Observasi Awal) Informan : Eka Erbhaena (Siswa) Setting: Wawancara ini dilaksnakan di luar ruang kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun. Di teras depan tersebut terdapat sebuah kursi kayu yang panjang. Suasana sekolah pada waktu tidak begitu ramai sebab sebagian besar siswa masih mengikuti pelajaran di kelas. Deskripsi: Informan adalah siswa kelas XI IPS 2 Man 2 Madiun. Dari percakapan awal, peneliti mengetahui adalah salah satu siswa yang memiliki nilai cukup dalam tugas membaca yang diberikan oleh guru. Dari hasil wawancara dapat dilihat di bawah ini: P : Apakah kamu pernah menerima pelajaran membaca di sekolah? E : Pernah bu, wakt itu disuruh membaca oleh guru Bhs Indonesia. P : Menurut kamu bagaimana cara mengajar yang digunakan oleh guru kamu waktu itu dalam rnengajarkan rnembaca? E : Sering tidak paham, menjadi tugas di rumah yang menyenangkan tetapi malas juga mengerjakan soal-soal latihannya. P : Sebenarnya cara mengajar yang bagairnana yang kamu inginkan agar digunakan oleh gurumu dalam mengajarkan membaca? I : Mengajar dengan cara yang menyenangkan, biar kita mudah mengerjakan kalau diberi tugas mengarang. Rcfleksi Informan yang pernah mendapat pelajaran membaca sewaktu duduk di bangku kelas XI IPS 2 ini, mengungkapkan ketidaksukaannya dengan cara yang digunakan oleh gurunya dalam mengajarkan materi mengenai membaca, sebab menurutnya cara guru dalam mengerjakan membaca kurang menarik dan sulit dipahami siswa. Lampiran 9 Catatan Lapangan Hasil Wawancara dengan Siswa HarilTanggal : Sabtu, 17 September 2011 Waktu : 08.30 WIB Jenis : Wawancara Terstuktur (Observasi Awal) Informan : Abdur Rohman (Siswa) Setting: Wawancara ini dilaksanakan di luar kelas. Di teras depan tersebut terdapat sebuah kursi kayu yang panjang. Suasana sekolah pada waktu itu tidak begitu ramai sebab sebagian besar siswa masih mengikuti palajaran di kelas. Deskripsi: Informan adalah siswa kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun. Dari percakapan awal, peneliti mengetahui bahwa informan adalah salah satu siswa yang memiliki nilai kurang dalam tugas membaca pemahaman yang diberikan oleh guru. Dari hasil wawancara dapat dilihat di bawah ini: P . Apakah kamu pernah menerima pelajaran membaca di sekolah? I : Pernah Bu. P : Menurut kamu bagaimana cara mengajar yang digunakan oleh guru kamu waktu itu dalam mengajarkan membaca? I : Sering tidak paham, apalagi saya selalu mendapatkan nilai jelek karena kurang begitu paham kalau membaca, pikiran saya sering ndak konsentrasi. P : Sebenarnya cara mengajar yang bagaimana yang kamu inginkan agar digunakan oleh gurumu dalam mengajarkan membaca? I : Guru harus bisa membuat saya benci membaca menjadi suka membaca. Refleksi Informan yang pernah mendapat pelajaran membaca sewaktu duduk di bangku kelas IPS 2 MAN 2 Madiun ini, mengungkapkan ketidaksukaanya dengan cara yang digunakan oleh gurunya dalam mengajarkan materi mengenai membaca, sebab menurutnya cara guru dalam mengajarkan membaca kurang menarik dan sulit dipahami siswa, apalagi siswa ini selalu mendapatkan nilai kurang dalam tugas membaca karena malas dan tidak bias konsentrasi dalam memahami sebuah bacaan. Lampiran 10 :Catatan Lapangan Observasi Mendalam (Tahap Perencanaan Tindakan Siklus I) Haril,tanggal : Sabtu, 17 September 2011 Waktu : 10.00 WIB Jenis : Observasi Mendalam (Tahap Perencanaan Tindakan siklus I) Objek Penelitian : Guru bidang studi bahasa Indonesia Setting: Observasi ini dilakukan di ruang guru yang terletak di depan ruang kepala Madrasah Aliayah Negeri 2 Madiun. Ruangan ini berukuran 8X6 m di dalam ruangan tersebut terdapat beberapa pasang meja kursi guru, lemari dan rak buku, serta perlengkapan lainnya yang disediakan oleh pihak sekolah. Deskripsi: Peneliti mengawali kegiatan perencanaan tindakan tersebut dengan menerangkan pada guru mengenai Penlitian Tindakan Kelas (PTK), untuk menyamakan persepsi antara guru dengan peneliti. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari adanya salah pengertian yang dapat menghambat pelaksanaan penelitian. Setelah itu, peneliti menjelaskan kepada guru mengenai hasil survei awal yang telah dilakukan oleh peneliti pada hari Selasa, 13 September dan Rabu, 14 September 2011. Setelah guru memahami mengenai kondisi yang ada pada survei awal tersebut, peneliti harus bersama-sama guru yang bersangkutan menyusun rencana tindakan yang akan diambil untuk mengatasi bebagai permasalahan yang ada. Permasalahan yang muncul dalam survei awal yang dilakukan oleh peneliti, yakni: 1. Tingkat kemampuan membaca pemhaman siswa rendah 2. Tingkat motivasi dan keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran membaca rendah. 3. Guru kesulitan dalam mengembangkan minat siswa terhadap pembelajaran membaca yang dilakukannya. 4. Guru kesulitan menemukan pendekatan, strategi, dan teknik mengajar membaca pemahaman dengan baik. 5. Guru hanya mengandalkan pemberian pelatihan membaca pemahaman saja tanpa penggunaan media yang mendukung. Untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut,akhirnya disepakati bahwa guru akan mengajar dengan penerapan pendekatan quantum learning, hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa. Urutan pelaksanaan tindakan pada siklus I sebagai berikut. 1. Guru menyuruh siswa mencermati gambar-gambar yang ditayangkan di LCD sesuai dengan tema yang sudah disediakan. 2. Guru menjelaskan materi 3. Siswa mendengarkan penjelasan yang disampaikan guru. 4. Guru menerapkan metode TANDUR dalam pembelajaran sambil menyanyikan lagu wajib. 5. Siswa membaca pemahaman. 6. Guru bertanya tentang wacana yang dibaca, mengenai penemuan paragraf induktif dan deduktif 7. Guru dan siswa merayakan bersama dengan cara pemberian applause dan pembacaan yel-yel. Untuk melaksanakan urutan tindakan pembclajaran tersebut, guru bersama-sama dengan peneliti membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang akan dijadikan sebagai pedoman mengajar. Refleksi: Pelaksanaan kegiatan perencanaan tindakan dalam siklus I ini berjalan dengan lancar. Guru mendengarkan semua keterangan yang diberikan oleh peneliti. Guru juga aktif memberikan pendapatnya demi kelancaran pelaksanaan tindakan dalam penelitian. Pada awalnya guru merasa kebingungan mengenai penelitian ini, namun setelah mendengarkan penjelasan dari peneliti mengenai Penelitian Tindakan Kelas, guru sangat mendukung pelaksanaan penelitian ini sebagai cara baru dalam KBM. Lampiran 11 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( SIKLUS I ) Satuan Pendidikan : MAN 2 Madiun Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas/Semester : XI IPS/ I Alokasi Waktu : 3X45 Menit A. Standar Kompetensi : Membaca 3. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca intensif dan membaca nyaring. B. Kompetensi Dasar : 3.1 Menemukan perbedaan paragraf induktif dan deduktif melalui kegiatan membaca intensif C. Indikator: 1. Menemukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada paragraf 2. Menemukan kalimat penjelas yang mendukung gagasan utama 3. Menemukan paragraf induktif dan deduktif 4. Mengidentifikasi ciri paragraf induktif dan deduktif 5. Menjelaskan perbedaan antara paragraf induktif dengan deduktif D. Tujuan Pembelajaran 1. Siswa menemukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada paragraf. 2. Siswa menemukan kalimat penjelas yang mendukung gagasan utama. 3. Siswa menemukan paragraf induktif dan deduktif. 4. Siswa mengidentifikasi ciri paragraf induktif dan induktif 5. Siswa menjelaskan perbedaan antara paragraf induktif dengan deduktif Karakter siswa yang diharapkan : - Disiplin - Percaya diri - Rasa hormat dan perhatian - Tekun - Tanggung jawab - Berani - kerjasama E. Materi Pembelajaran Paragraf yang berpola induktif dan deduktif 1. Kalimat utama 2. Kalimat penjelas 3. Kalimat simpulan 4. Ciri paragraf induktif dan deduktif 5. Perbedaan paragraf induktif dan deduktif F. Metode Pembelajaran 1. Ceramah 2. Tanya jawab 3. Diskusi 4. Penugasan G. Model Pembelajaran CTL ( Contekstual Learning) H. Langkah-Langkah Pembelajaran No. Uraian Kegiatan Waktu Metode 1 PERTEMUAN I Kegiatan awal a. Guru memberikan salam dan mengecek kehadiran siswa, kebersihan kelas dan kerapian siswa sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan dan kedisiplinan b. Guru memberikan apersepsi berkenaan dengan perbedaan paragraf induktif dan deduktif secara komunikatif c. Guru menumbuhkan rasa ingin tahu (memotivasi) dengan menyampaikan SK, KD, dan Indikator, 15Menit Ceramah bervariasi, Tanya jawab Tumbuhkan Tumbuhkan 2 Kegiatan Inti Eksplorasi. a. Guru menyiapkan artikel atau bahan bacaan siswa diajak untuk mengamati contoh-contoh paragraf yang telah disediakan dan ditayangkan di LCD. b. Guru mengajak siswa untuk mengidentifikasi pengertian paragraf induktif dan deduktif c. Guru membimbing siswa untuk mendefinisikan pengertian paragraf induktif dan deduktif. Eksplorasi d. Guru mengajak siswa mengidentifikasi ide pokok/ kalimat utama pada tiap tiap paragraf berdasarkan hasil paparan siswa. e. Guru membimbing diskusi siswa untuk menyebutkan unsur-unsur paragraf termasuk kalimat utama dan kalimat penjelas dalam tiap-tiap paragraf. f. Guru mengajak siswa untuk mengidentifikasikan ciri-ciri paragraf induktif dan deduktif berdasarkan hasil paparan siswa. g. Guru membimbing siswa untuk menyebutkan ciri-ciri paragraf induktif dan deduktif. h. Guru bertanya kepada siswa tentang pengertian paragraf induktif dan deduktif i. Guru bertanya kepada siswa tentang unsur-unsur paragraf termasuk kalimat utama dan kalimat penjelas j. Guru bertanya kepada siswa tentang ciri-ciri paragraf induktif dan dedutif (kecakapan hidup, menggalai informasi) 50 Menit Alami Alami Namai Namai Demonstrasikan Demonstrasikan Demonstrasikan Demonstrasikan Demonstrasikan Ulangi Ulangi 3 Penutup a. Guru membimbing siswa untuk membuat simpulan b. Guru memberikan evaluasi hasil belajar. c. Guru mengumumkan hasil belajar dan memberikan reward bagi yang hasilnya bagus d. Guru memberikan tugas individu menganalisis paragraf induktif dan deduktif. e. Guru mengakhiri pembelajaran dengan tepuk tangan. 25 Menit Namai Ulangi Rayakan Rayakan 1 PERTEMUAN II Kegiatan awal a. Guru memberikan salam dan mengecek kehadiran siswa, kebersihan kelas dan kerapian siswa sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan dan kedisiplinan b. Guru bertanya tentang materi sebelumnya c. Guru dan siswa mengulas materi pada pertemuan materi sebelumnya. d. Guru menanyakan hasil analisis paragraf induktif dan deduktif e. Guru memberikan pengarahan mengenai tugas individu. 10 Menit Ceramah bervariasi 2 3 Kegiatan inti Elaborasi Siswa berdiskusi untuk ; Menyimpulkan ciri paragraf induktif dan deduktif Menyimpulkan perbedaan antara paragraf induktif dan deduktif Kolaborasi Tiap-tiap kelompok secara komunikatif menyampaikan ciri-ciri dan perbedaan paragraf induktif dan deduktif Tiap – tiap kelompok secara komunikatif menggunakan simpulan untuk menyusun paragraf induktif dan deduktif. Kelompok lain memberikan tanggapan secara sopan dan terbuka terhadap paragraf yang ditulis tiap- tiap kelompok. Konfirmasi Guru memberikan tanggapan dan simpulan secara jujur dan terbuka terhadap paragraf induktif dan deduktif hasil diskusi siswa. Guru memberikan penguatan mengenai paragraf induktif dan deduktif. Penutup Guru melakukan penilaian akhir terhadap materi yang telah diberikan secara bertanggung jawab. Guru memberikan umpan balik terhadap materi yang telah diajarkan secara demokratis. Guru menumbuhkan rasa ingin tahu siswa agar gemar membaca dengan menyampaikan rencana pembelajaran untuk pertemuan berikutnya. Tindak lanjut Untuk menumbuhkan minat baca siswa, guru menugasi siswa • Mencari contoh paragraf induktif dan deduktif di surat kabar • Mencatat pokok-pokok isi paragraf induktif dan deduktif dalam surat kabar 25 Menit 10 Menit Ulangi/Demonstrasikan/ulangi/rayakan Demonstrasikan/ ulangi/ rayakan I. Alat dan Sumber Belajar • Alat Contoh paragraf induktif dan deduktif • Sumber - Buku Paket Bahasa Indonesia (Tim Edukatif.2010. Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga). - Artikel dari media cetak ( harian Jawa Pos bulan September) J. Prosedur Penilaian ● Penilaian Kognitif Teknik : Pertanyaan lisan dan tulisan Bentuk : pilihan ganda, uraian dan performan (unjuk kerja) ● Penilaian Afektif Bentuk : Lembar pengamatan Lembar Pengamatan Nama Antusias siswa dalam menjawab pertanyaan Siswa Aktif dalam pemberian apersepsi Siswa aktif dalam kegiatan KBM Skor yang Diperoleh Skala Penilaian dibuat dengan rentangan dari 1 sampai dengan 5 Penafsiran angka : 1 = sangat kurang, 2 = kurang, 3 = cukup, 4 = baik, 5 = sangat ● Penilaian Psikomotor Bentuk : Lembar penilaian kerja. Penugasan Terstruktur 1. Menyimak penjelasan paragraf dan pola pengembangannya berdasakan letak gagasan utama. 2. Menentukan gagasan utama dan letaknya pada paragraf. 3. Menentukan jenis pola pengembangan paragraf berdasarkan letak gagasan utama. 4. Membedakan paragraf deduktif dan induktif dari teks yang disediakan. 5. Menulis paragraf deduktif dan induktif. Kegiatan Mandiri Mencatat pokok-pokok membedakan paragraf deduktif dan induktif dari tayangan presentasi yang disampaikan guru atau dari berita atau dari buku kemudian membuat rangkuman isi berita tersebut! ● Instrumen Penilaian Butir Soal dan kunci jawaban terlampir pada bahan ajar Pedoman Penilaian = jumlah skor a. Penilaian hasil belajar (kognitif) No. Uraian Soal Skor 1 2 3 4 5 Temukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada tiap-tiap di atas ! Temukan kalimat penjelas yang mendukung gagasan utama pada bacaan di atas! Carilah paragraf induktif dan deduktif pada bacaan tersebut! Identifikasilah ciri paragraf induktif dan deduktif? Jelaskan perbedaan antara paragraf induktif dan deduktif? 20 20 20 20 20 Format Nilai Akhir Siswa No NIS Nama Siswa L/P Kognitif Praktik (Psikomotor) Sikap (Afektif) SKBM = 75 Keterangan : Kriteria penilaian : Skor perolehan X 100% Skor Maksimal Madiun, 17 September 2011 Kolaborator Peneliti Rita Purbawanti,S.Pd. Kasmini NIP 19790327 200710 2 002 NIM S841008014 Mengetahui, Drs. Basuki Rachmat, M.Pd. NIP 19671209 1999403 1 002 Lampiran 12 JURNAL REFLEKSI GURU 1. Apakah yang baru saja saya ajarkan dalam pembelajaran? ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………… 2. Hasil apa yang sudah dicapai dalam pembelajaran? ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………… 3. Masalah masalah apa yang muncul dalam pembelajaran? ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………… 4. Apa rencana perubahan untuk siklus berikutnya? …………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………… Lampiran 13 JURNAL REFLEKSI SISWA 1. Apakah yang baru saja saya pelajari? ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………… 2. Pengetahuan / keterampilan apa yang saya peroleh? ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………… 3. Kendala/ masalah apa yang saya hadapi dari pembelajaran yang disampaikan? ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………… Lampiran 14 Catatan lapangan (Observasi Mendalam Tahap Pelaksanaan Tindakan Siklus I Pertemuan Pertama) Haril/Tanggal : Senin, 19 September 2011 Waktu :0745.00 – 09.15WIB Jenis : Observasi Mendalam (Tahap Pelaksanaan Tindakan Siklus I) Objek Penelitian : Guru bidang studi bahasa Indonesia Siswa kelas XI IPS Setting: Observasi ini dilaksanakan di ruang kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun, kota Madiun yang berukuran kurang lebih 8 x 6 m. Di dalam ruangan kelas tersebut terdapat sepasang meja dan kursi untuk guru, 31 buah kursi meja untuk siswa, di dinding kelas tertempel gambar presiden dan wakil presiden Republik Indonesia, gambar burung garuda, gambar pahlawan, jam dinding, kipas angin, almari buku dan hasil keterampilan siswa yang, dipajang. Pada saat observasi ini dilakukan 2 siswa izin tidak mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dikarenakan sedang sakit. Siswa yang tidak menyangka akan diamati, terlihat gaduh dan bertanya pada gurunya perihal peneliti. Guru kemudian memperkenalkan peneliti kepada siswa, setelah itu guru bersangkutan memulai kegiatan belajar mengajar pada pagi hari itu. Deskripsi Guru memulai Kegiatan Belajar Mengajar dengan membuka pelajaran dan mengecek beberapa siswa yang tidak mengikuti pelajaran bahasa Indonesia pagi itu dengan melihat presensi kelas tersebut, kebersihan kelas dan kerapian sebagai wujud keedulian terhadap lingkungan dan kedisiplinan. Peneliti menempatkan diri sebagai partisipan pasif dengan berada di tempat duduk belakang, sehingga peneliti dapat mengamati jalannya kegiatan kegiatan belajar mengajar dengan leluasa tanpa mengganggu pelajaran yang sedang berlangsung. Di kelas XI IPS 2 guru menjelaskan mengenai materi membaca pemahaman paragraf nduktif dan deduktif, kemudian mengajak siswa memperhatikan gambar dan video yang ditayangkan di LCD. Kegiatan ini diiringi dengan mengajak siswa menyanyikan lagu wajib, sesekali guru mengajukan pertanyaan kepada siswa, kemudian meminta siswa untuk tunjuk jari dan menjawab. Namun tidak ada salah seorang siswa yang berani menjawab dengan tegas sambil menunjukkan jari, kebanyakan mereka hanya bergumam ala kadarnya menjawab sebisanya. Guru pun akhirnya menunjuk salah satu siswa untuk menjawab pertanyaan tersebut. Siswa tersebut ternyata mampu menjawab pertanyaan yang diajukan meskipun jawabannya belum tepat tentang pengertian , perbedaan, dan ciri-ciri paragraf induktif dan deduktif. Guru kemudian menerapkan metode TANDUR dalam pendekatan quantum learning. Terlihat beberapa siswa tampak antusias mengikuti pengalaman baru ini dalam pembelajaran membaca bagi mereka. Guru menyuruh siswa untuk mengemukakan pengalaman, hal yang telah mereka alami, dan amati. Kemudian guru menyuruh siswa untuk segera membaca, ternyata masih banyak siswa yang kurang memahami perintah yang disampaikan oleh guru, sehingga tidak sedikit dari mereka yang bertanya dengan teman sebangkunya. Berhubung waktu sudah habis, guru, menyuruh siswa melanjutkan membaca dan menjawab pertanyaan di rumah. Refleksi: Pelaksanaan pembelajaran membaca pemahaman materi paragraf induktif dan deduktif dengan pendekatan quantum learning di kelas XI IPS 2 berjalan dengan lancar. Siswa terlihat mulai tertarik dengan teknik mengajar dengan quantum learning. Kegiatan membaca pemahaman materi induktif dan deduktif dengan mudah dilakukan siswa karena dari tayangan berupa gambar dan video yang ditayangkan guru. Siswa merasa terbawa ke dunia mereka. Hal ini terbuti dari keseriusan mereka dalam mengerjakan tugas dari guru. Tetapi dalam keberanian siswa untuk mengemukakan pendapat di depan kelas kurang berani. Lampiran 15: Catatan Lapangan Observasi Mendalam (Tahap Pelaksanaan Siklus I Pertemuan Kedua) Haril/Tanggal : Rabu, 21 September 2011 Waktu :07.45 WIB Jenis : Observasi Mendalam (Tahap Pelaksanaan Tindakan Siklus I) Objek Penelitian : Guru bidang studi bahasa Indonesia Siswa kelas XI Setting: Observasi ini dilaksanakan di ruang kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun, kota Madiun yang berukuran kurang lebih 8 x 6 m. Di dalam ruangan kelas tersebut terdapat sepasang meja dan kursi untuk guru, 31 buah kursi meja untuk siswa, di dinding kelas tertempel gambar presiden dan wakil presiden Republik Indonesia, gambar burung garuda, gambar pahlawan, jam dinding, kipas angin, almari buku dan hasil keterampilan siswa yang, dipajang. Pada saat observasi ini dilakukan 2 siswa izin tidak mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dikarenakan sedang sakit. Siswa yang tidak menyangka akan diamati, terlihat gaduh dan bertanya pada gurunya perihal peneliti. Guru kemudian memperkenalkan peneliti kepada siswa, setelah itu guru bersangkutan memulai kegiatan belajar mengajar pada pagi hari itu. Deskripsi Guru memulai Kegiatan Belajar Mengajar dengan membuka pelajaran dan mengecek beberapa siswa yang tidak mengikuti pelajaran bahasa Indonesia pagi itu dengan melihat presensi kelas tersebut, kebersihan kelas dan kerapian sebagai wujud keedulian terhadap lingkungan dan kedisiplinan. Hari itu siswa kelas XI IPS 2 semua hadir. Kegiatan hari ini adalah guru membuka pelajaran dengan memotivasi siswa dalam kelas dengan mengajak salah satu siswa untuk ke depan kelas memandu menyanyikan lagu wajib yang mereka bias (Indonesia Raya). Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan minat belajarnya sebagai metode (T:tumbuhkan). Guru mengadakan refleksi terhadap pembelajaran pada pertemuan terdahulu dengan mengadakan Tanya jawab kepada siswa terkait apa yang telah mereka alami (A: alami). Guru menjabarkan garis besar pembelajaran hari ini yang menerapkan pendekatan quantum learning dengan media tayangan gambar dan video dari LCD serta menjelaskan tugas yang harus dilakukan siswa kali ini. Guru dan siswa membagikan kertas pertanyaan kepada masing-masing siswa dan menugasi siswa mendefinisikan pargraf induktif dan deduktif dalam wacana. (D: demontrasikan). Guru menyuruh siswa mempresentasikan di depan kelas untuk menjawab beberapa pertanyaan yang diberikan guru tadi. (U: ulangi). Guru menyuruh siswa menyebutkan kembali materi yang sudah diberikan tadi dengan bahasanya sendiro sesuai dengan paparan siswa. Guru menyuruh siswa membacakan hasil pekerjaannya di depan kelas, tetapi hanya ada 3 orang siswa yang maju, itu pun setelah ditunjuk guru. (R: rayakan) siswa yang telah selesai membaca diberi applause dan pembelajaran diakhiri dengan menyayikan lagu “Indonesia Raya” dan siswa mengucapkan yel-yel serta guru mengadakan refleksi pembelajaran hari ini. Refleksi: Pelaksanaan pembelajaran membaca pemahaman membaca materi paragraf induktif dan deduktif dengan pendekatan quantum learning dengan metode TANDUR pada siswa berjalan dengan sangat lancar. Antara guru dengan siswa terjalin dengan komunikasi yang baik, terlihat dari banyaknya siswa yang bertanya kepada guru dan siswa memiliki motivasi yang tinggi untuk mengikuti pembelajaran. Tetapi ada beberapa kendala terkait hasil pekerjaan siswa yang kurang memuaskan. Lampiran 16 LEMBAR PENILAIAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN Nama Guru : Rita Purbawanti,S.Pd. Nama Sekolah : MAN 2 Madiun Pokok Bahasan : Paragraf Induktif dan Deduktif Hari/Tanggal : Senin, 19 September 2011 Petunjuk Berilah skor pada butir-butir pelaksanaan pembelajaran dengan cara melingkari angka pada kolom skor (1, 2, 3, 4, 5) sesuai dengan kriteria sebagai berikut: 1= sangat tidak baik 2= tidak baik 4=baik 3= kurang baik 5=sangat baik No Aspek yang dinilai Skor Keterangan 1. Kejelasan perumusan tujuan pembelajaran (tidak menimbulkan penafsiran ganda dan mengandung perilaku hasil belajar) 1 2 3 4 5 Baik 2. Pemilihan materi ajar (sesuai dengan tujuan dan karakteristik peserta didik) 1 2 3 4 5 Baik 3. Pengorganisasian materi ajar (keruntutan, sistematika, materi dan kesesuaian dengan alokasi waktu) 1 2 3 4 5 Kurang Baik 4. Pemilihan sumber/media pembelajaran (sesuai dengan tujuan, materi, dan karakteristik peserta didik) 1 2 3 4 5 Kurang Baik 5. Kejelasan skenario pembelajaran (langkah-langkah kegiatan pembelajaran: awal, inti, dan penutup) 1 2 3 4 5 Kurang Baik 6. Kerincian skenario pembelajaran (setiap langkah tercermin strategi/metode dan alokasi waktu pada setiap tahap) 1 2 3 4 5 Kurang Baik 7. Kesesuaian teknik dengan tujuan pembelajaran 1 2 3 4 5 Kurang Baik 8. Kelengkapan instrument (soal, kunci, pedoman penskoran) 1 2 3 4 5 Kurang Baik Skor Total 26 Lampiran 17 LEMBAR PENGAMATAN GURU Petunjuk Berilah skor pada butir-butir pelaksanaan pembelajaran dengan cara melingkari angka pada kolom skor (1, 2, 3, 4, 5) sesuai dengan Kriteria sebagai berikut: 1= sangat tidak baik 2= tidak baik 3= kurang baik 4=baik 5=sangat baik No Indikator / Aspek yang dinilai Skor Keteranagan I PRAPEMBELAJARAN 1. Mempersiapkan siswa untuk belajar 1 2 3 4 5 Baik 2. Melakukan kegiatan apersepsi 1 2 3 4 5 Baik II KEGITAN INTI PEMBELAJARAN A. Penguasaan materi pembelajaran 3. Menunjukkn pengusaan materi pembeljaran 1 2 3 4 5 Kurang Baik 4. Mengaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan 1 2 3 4 5 Kurang Baik Menyampaikan materi dengan jelas sesuai dengan hierarki belajar dan karakteristik siswa 1 2 3 4 5 Baik 6. Mengaitkan materi dengan realitas kehidupan 1 2 3 4 5 Baik B. Pendekatan/strategi pembelajaran 7. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi (tujuan) yang akan dicapai dan karakteristik siswa 1 2 3 4 5 8. Melaksanakan pembelajaran secara runtut 1 2 3 4 5 Baik 9. Menguasai kelas 1 2 3 4 5 Baik 10. Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual 1 2 3 4 5 Baik 11. Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebisaan positif 1 2 3 4 5 Baik 12. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan. 1 2 3 4 5 Kurang Baik C. Pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran 13. Menggunakan media secara efektif dan efisien 1 2 3 4 5 Baik 14. Menghasilkan pesan yang menarik 1 2 3 4 5 Kurang Baik 15. Melibatkan siswa dalam pemanfaatan media 1 2 3 4 5 Kurang Baik D. Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa 16. Menumbuhkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran 1 2 3 4 5 Kurang Baik 17. Menunjukkan sikap terbuka terhadap respon siswa 1 2 3 4 5 Baik 18. Menumbuhkan keceriaan dan antusiasme siswa dalam belajar 1 2 3 4 5 Baik E. Penilaian proses dan hasil belajar 19. Memantau kemajuan belajar selama proses 1 2 3 4 5 Kurang Baik 20. Melakukan penilaian akhir sesuai dengan kompetensi (tujuan) 1 2 3 4 5 Baik F. Penggunaan Bahasa 21. Menggunakan bahasa lisan dan tulis secara jelas, baik, dan benar 1 2 3 4 5 KurangBaik 22. Menyampaikan pesan 1 2 3 4 5 KurangBaik III PENUTUP 23. Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan siswa 1 2 3 4 5 Baik 24. Melaksanakan tindak lanjut memberikan arahan, atau kegiatan, atau tugas sebagai bagian remidi/pengayaan 1 2 3 4 5 Kurang baik Skor Total 7 4 Baik Keterangan: Guru dalam melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar mulai dari persiapan sudah terlaksana dengan baik, terbukti dalam membuat Rencana pembelajaran secara terinci. Sedangkan, dalam hal pelaksanaan pengajaran termasuk menjelaskan materi, mengapresiasikan pendekatan quantum learning guru kurang mengusai. Hal tersebut terjadi dikarenakan guru kurang mengenal pendekatan quantum learning dan belum memahaminya, sehingga dalam tindakan siklus I pelaksanaan pengajaran sudah cukup baik dilihat dari skor nilai yang diperoleh, yaitu 74. Disisi lain penguasaan dalam menyampaikan materi dan berkomunikasi dengan siswa kurang, sehingga perlu adanya perbaikan. Lampiran 18 SOAL KOMPETENSI PARAGRAF INDUKTIF DAN DEDUKTIF (SIKLUS I) Bacalah bacaan berikut dengan cermat! Barang Impor Menjajah Negeri Ini Pusat perbelanjaan semakin subur setahun belakangan ini. Mal, pusat grosir, maupun tempat perkulakan baru berdiri di setiap sudut kota. Pusat-pusat konsumsi ini dibangun dari ukuran kecil, menengah, hingga sangat besar. Seharusnya, kita gembira melihat kenyataan ini karena berarti perekonomian kita tumbuh. Akan tetapi, apakah demikian kenyataan? Pantaskah kita bersuka cita? Sayangnya, menjamurnya pusat konsumsi itu belum dibarengi dengan pertumbuhan sektor produksi, sector yang seharusnya mengisi barang-barang di mal, pusat perbelanjaan dan pusat perkulakan. Kenyataannya, industry yang memproduksi beberapa jenis barang justru tenggelam. Contohnya adalah industri mainan anak dan tekstil. Barang-barang impor untuk produk tersebut”menjajah. “ negeri ini. Hal ini dapat kita lihat di pasar Tanah Abang Jakarta misalnya. Sebelumnya, pasar itu merupakan pusat penjualan terbesar untuk produk tekstil produksi dalam negeri. Akan tetapi, kini pasar itu menjual lebih banyak tekstil impor untuk kelas bawah hingga kalangan atas tersedia di Pasar Tanah Abang. Tidak hanya di Pasar Tanah Abang , pusat grosir di Mangga Dua, pusat grosir di Bogor, Bekasi, dan berbagai kota lain di Indonesia juga sama. Akibatnya, banyak produsen pakaian dan produk tekstil lainnya gulung tikar. Ternyata, barang-barang impor tidak hanya mengancam industry tekstil dan mainan anak saja. Industri makanan dan minuman juga terancam. Saat ini, produk makanan dan minuman asing sangat mudah kita temukan di berbagai toko swalayan. Seringkali, kita merasa bangga jika mengonsumsi produk asing itu. Menyedihkan sekali, bukan? Thomas Darmawan, Ketua Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia berkeluh kesah,”Jika bukan kita yang membeli produksi bangsa sendiri, lalu kepada siapa kita berharap? Saya memiliki data. Dalam data tersebut terlibat, setiap tahun Indonesia mengimpor makanan dan minuman sebesar US$ 1 milyar atau sekitar RP9 triliun. Jika konsumen lebih arif, makanan dan minuman sebanyak itu tidak perlu diimpor. Banyak tenaga kerja yang akan terserap jika makanan senilai itu diproduksi di sini. Oleh karena itu, pemerintah sebaiknya memberikan perhatian lebih ke sektor makanan dan minuman.” Jawablah pertanyaan berikut dengan tepat 1. Temukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada tiap tiap paragraf di atas! 2. Temukan kalimat penjelas yang mendukung gagasan utama pada bacaan di atas! 3. Carilah paragraf induktif dan paragraf deduktif pada bacaan tersebut! 4. Identifikasilah ciri paragraf induktif dan deduktif! 5. Jelaskan perbedaan antara paragraf induktif dan deduktif! Lampiran 19 Perolehan Nilai Membaca Pemahaman pada Siklus I LEMBAR PENILAIAN MEMBACA PEMAHAMAN KELAS XI IPS 2 MAN 2 MADIUN TAHUN PELAJARAN 2011-2012 (SIKLUS I) No. Nama Aspek Yang Dinilai Jumlah Nilai A B C D E 1 Abdul Rohman 10 15 16 14 15 70 2 Afian Ismail 10 14 17 13 14 68 3 Anang Yulianto 10 20 20 16 16 82 4 Aulia Mu’tashim 10 16 17 17 16 76 5 Ayu Hana F 10 16 15 16 15 72 6 Binti Nur Halimah 11 19 19 18 16 83 7 Cita Mukti Handayani 10 13 16 13 15 67 8 Eka Erbhaena 9 16 16 14 13 68 9 Ella Resika Putri Fransisca 10 14 17 15 15 71 10 Elsinta Meina Hapsari 10 14 17 15 15 71 11 Fajar Bangun Wiradani 10 19 18 15 13 75 12 Febri Putra Wardana 9 15 15 15 15 69 13 Filian Mufcha Ichwana 10 14 14 14 14 66 14 Gustyarso Azis Windraswara 10 15 16 15 15 71 15 Ika Ayu Mustikaningtyas 10 14 16 14 16 70 16 Irasetio Wati 9 17 20 17 18 81 17 Maulida PamungkasariAK 10 16 17 17 17 77 18 Meyta Aryanti 9 18 19 17 17 80 19 Moh. Ilham 10 17 17 17 18 79 20 Mohammad Rizal Hanafi 9 19 19 18 18 81 21 Muhamad Fahmi Fatchur Rozi 10 16 18 18 18 80 22 Mutohar 10 15 19 18 18 80 23 Nur Rachma Diah Falupi 9 15 16 15 15 70 24 Rizky Indra Permatasari 10 17 18 16 15 75 25 Wahyu Arif Permadhani 10 18 17 15 18 78 26 Wahyu Eko Hendratno 9 15 16 14 14 68 27 Widodo Wicaksono 10 17 18 17 16 78 28 Yuvita Wardani 9 17 18 18 17 79 29 Zuqni Qurotul Uyun 9 17 16 16 17 74 30 M. Fakih Usman 9 15 17 18 18 78 31 Maulida Khoirunnisa 9 17 19 18 17 80 Aspek Yang Dinilai : A = ketepatan menentukan gagasan utama pada paragraf paragraf B = ketepatan menentukan kalimat penjelas yang mendukung gagasan utama C = ketepatan menentukan paragraf induktif dan deduktif dalam paragraf D = ketepatan mengidentifikasi paragraf induktif dan deduktif pada paragraf E = ketepatan menjelaskan perbedaan paragraf induktif dan deduktif Skala penilaian dibuat dengan rentangan dari nilai terkecil 20 sampai dengan 100. Lampiran 20 Catatan Lapangan Observasi Mendalam Tahap Perencanaan Siklus II Hari/Tanggal : Sabtu, 1 Oktober 2011 Waktu : 8.00 W1B Jenis :Observasi Mendalam (Tahap Perencanaan Tindakan Siklus II) Objek Penelitian : Guru bidang studi bahasa Indonesia Setting: Observasi ini dilakukan di ruang kantor guru MAN 2 Madiun. Ruangan ini berukuran 8X7 m. di dalam ruangan tersebut terdapat beberapa pasang meja kursi guru, lemari dan rak buku, serta beberapa unit komputer barang-barang lainnya yang disediakan oleh pihak sekolah. Deskripsi: Dalam kesempatan ini, peneliti mengemukakan hasil tindakan siklus I yang dilaksanakan pada hari Senin, 19 Setember 2011 dan Rabu, 21 September 2011. Dalam siklus I ini. peneliti mencatat beberapa kelemahan yang muncul, diantaranya yaitu siswa masih malu dalam menyampaikan mendapat di depan kelas sehingga perlu adanya stimulus, posisi guru selalu di depan kelas dalam pembelajaran, guru kurang memahami penerapan pendekatan quantum learning secara optimal, masih adanya kekurangtepatan dalam membaca pemahaman Unluk disepakati hal-hal yang sebaiknya dilakukan oleh guru dalam mengajarkan membaca pemahaman paragraf induktif dan deduktif pada siswa. Hal-hal tersebut yakni: posisi guru selama pelajaran berlangsung harus senantiasa berotasi agar guru dapat mengamati perilaku seluruh siswanya, baik yang duduk di kursi bagian depan maupun di bagian belakang. Selain itu, disepakati pula adanya media alternatif yang digunakan dalam pembelajaran membaca pemahaman, serta memahami dan mempelajari tentang pendekatan quantum learning yang akan diterapkun. Pemakaian pendekatan dan media ini dengan tujuan agar siswa menjadi tertarik untuk mengikuti pembelajaran membaca pemahaman. Sedang untuk menstimulus siswa agar aktif menyatakan pendapat/berkomentar, serta membaca pemahaman yang lebih baik lagi dan tepat perlu adanya reward yang diberikan guru kepada siswa yang berprestasi. Reward dapat berupa tambahan nilai, pujian, hadiah buku, bolpoint, dll. Refleksi: Setelah segala kekurangan diketahui akhirnya guru bersangkutan sangat kooperatif, dan berusaha memperbaiki kekurangan, yang pada siklus senlanjutnya. Sedangkan dalam kegiatan pembelajarannya serta masih menggunakan pendekatan quantum learning dengan metode TANDUR. Lampiran 21 Catatan Lapangan Observasi Mendalam Tahap Pelaksanaan Tindakan Siklus II Pertemuan Pertama Hari/Tanggal : Senin, 3 Oktober 2011 Waktu :07.45 – 09.15 WIB Jenis : Observasi Mendalam (Tahap Pelaksanan Tindakan Siklus II) Objek Penelitian : Guru bidang studi bahasa Indonesia Siswa kelas XI IPS 2 MAN 2 Madiun Setting: Observasi ini dilaksanakan di ruang Multimedia yang berukuran kurang lebih 8 x 6 m. Di dalam ruangan multimedia tersebut terdapat sepasang meja dan kursi untuk guru, 31 kursi meja untuk siswa, di dinding kelas tertempel gambar presiden, dan wakil presiden Republik Indonesia, gambar. burung garuda, gambar pahlawan, jam dinding, dan kipas angin. Pada saat observasi ini jumlah siswa keseluruhan ada 31 orang. Siswa yang tidak menyangka akan kembali diamati, peneliti menempatakan diri duduk dikursi bagian belakang. Guru tiba-tiba mengajak siswanya ke ruang multimedia yang dimiliki MAN 2 Madiun yanjg berukuran 8X6, sehingga siswa tampak gembira menyamlbut perintah guru. Ruang multitliedia termasuk ruang ber-AC, juga terdapat televisi, seperangkat komputer, OHP, LCD, Audio conferen, speaker aktif,dan beberapa hasil karya siswa yang dipajang. Deskripsi: Guru memulai Kegiatan Belajar Mengajar dengan membuka pelajaran dan dan mengecek beberapa siswa yang tidak mengikuti pelajaran bahasa lndonesia pagi itu dengan melihat presensi kelas tersebut. Peneliti menempatkan diri sebagai partisipan pasif dengan berada duduk bagian belakang, sehingga peneliti dapat mengamati jalannya kegiatan belajar mengajar dengan leluasa tanpa mengganggu pelajaran yang sedang berlangsung. Di ruang multimedia , peneliti sudah menyiapkan LCD dan komputer, guru kembali menyegarkan ingatan siswa dengan menjelaskan mengenai materi membaca pemahaman paragraf induktif dan deduktif, peneliti membantu guru mengoperasikan komputer dan LCD. Sesekali guru mengajukan pertanyaaan kepada siswa, kemudian meminta siswa untuk tunjuk jari dan menjawab. Kali ini banyak siswa yang mau menunjuk jari untuk menjawab serta berkomentar tentang pertanyaan dari guru. Guru pun akhirnya menampilkan gambar, rekaman dan foto lewat LCD, kali ini dengan topik yang diangkat berbeda dari siklus I yaitu "Macam-macam Tanaman Toga", sebagai media pembelajaran dalam membaca pemahaman. Guru lalu meminta siswa untuk mengamati beberapa tampilan yang disuguhkan, siswa sangat tertarik karena kejadian tersebut juga di rumahnya ada, sehingga ingatan mereka masih segar dan tentang kejadian yang mereka lihat waktu itu. Guru menyuruh siswa untuk merigemukakan pengalaman yang telah dia lihat dan amati perihal kejadian tersebut.. Di luar dugaan akhirnya banyak siswa yang berkomentar mau mengemukakan pendapat, gagasan serta pengalamannya. Hal tersebut setelah guru menginformasikan tentang pemberian reward. Guru mengajak siswa untuk berdiskusi tentang gambar/objek tersebut. Posisi guru dalam menyampaikan pelajaran lebih banyak Setelah mengamati tampilan tersebut, guru meminta siswa untuk mengemukakan komentar, pendapat, gagasan, dan tanggapan perihal peristiwa tersebut. Kemudian siswa diajak menyanyikan lagu wajib, siswa sangat tertarik dan senang mengikuti pelajaran Usai mendiskusikan tampilan tersebut guru menugasi siswa untuk langsung menyuruh siswa untuk membaca bacaan yang sudah tersedia. Guru memotivasi beberapa siswa untuk membacakan hasil pekerjaannya ke depan kelas setelah siswa selesai mengerjakan. Berbeda dengan siklus terdahulu, siswa sudah mulai berani membacakan hasil tulisannya. Guru meminta siswa yang lain untuk mencermati dan memberikan komentar serta masukan. Usaha pemberian reward, baik berwujud nilai tambahan maupun pujian bagi siswa yang dapat mengemukakan pendapatnya dengan tepat, ternyata terbukti mampu membangkitkan minat siswa untuk mengungkapkan komentar mereka, serta merespon pertanyaan dari guru secara sukarela. Suasana kelas mulai terlihat hidup ketika siswa melihat guru memberikan reward berupa pujian dan nilai tambah pada siswa yang mau memberi respon terhadap pertanyaan guru. Selanjutnya, tampak beberapa orang siswa yang mengangkat tangan untuk mengajukan diri menjawab pertanyaan dari guru. Terlihat jelas adanya interaksi dari guru dan siswa. Sedangkan, siswa yang belum mampu menjawab pertanyaan dari guru, terlihat berdiskusi dengan teman sebangkunya tentang jawaban jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh guru. Berdasarkan pengamatan peneliti, guru mampu menerapkan pendekatan quantum learning dengan metode TANDUR dalam kegiatan membaca pemahaman dengan baik. Siswa sangat tertarik dengan media yang diberikan guru. Hal itu terlihat dengan raut wajah mereka yang sangat antusias melihat tampilan yang disuguhkan. Refleksi: berdasarkan hasil pengamatan terhadap proses belajar mengajar tersebut dapat dinyatakan keterampilan membaca pemahaman siswa sudah lebih baik dibanding siklus sebelumnya, terlihat dalam membaca dan mengerjakan soal-soal siswa tidak lagi berkesan asal-asalan, namun sudah mulai mengerti tentang pengertian , cirri-ciri, dan menentukan paragraf induktif dan deduktif dalam bacan. Tapi ada beberapa kendala yang masih dihadapi oleh guru yaitu siswa masih ada yang tidak memperhatikan tayangan dari objek tersebut. Meskipun ada peningkatan dalam hasil pekerjaan siswa, namun agaknya masihada siswa yang masih mengabaikan materi tersebut yang telah peneliti dan guru coba perbaiki. Lampiran 22 Catatan Lapangan Observasi Mendalam Pelaksanaan Tindakan Siklus II Pertemuan Kedua Hari/Tanggal : Rabu, 5 Oktober 2011 Waktu :07.45-08.30 WIB Jenis : Observasi Mendalam (Tahap Pelaksanan Tindakan Siklus II) Objek Penelitian : Guru bidang studi bahasa Indonesia Siswa kelas XI IPS 2 Setting: . Observasi ini dilaksanakan di ruang Multimedia yang berukuran kurang lebih 8 x 6 m. Di dalam ruangan multimedia tersebut terdapat sepasang meja dan kursi untuk guru, 31 kursi meja untuk siswa, di dinding kelas tertempel gambar presiden, dan wakil presiden Republik Indonesia, gambar. burung garuda, gambar pahlawan, jam dinding, dan kipas angin. Pada saat observasi ini jumlah siswa keseluruhan ada 31 orang. Siswa yang tidak menyangka akan kembali diamati, peneliti menempatakan diri duduk dikursi bagian belakang. Di ruang multimedia yang dimiliki MAN 2 Madiun yanjg berukuran 8X6, siswa tampak gembira menyambut perintah guru. Ruang multimedia termasuk ruang ber-AC, juga terdapat televisi, seperangkat komputer, OHP, LCD, Audio conferen, speaker aktif,dan beberapa hasil karya siswa yang dipajang. Peneliti langsung menempatkan posisi dibelakang sebagai partisipan pasif. Guru bersangkutan memulai kegiatan belajar mengajar pada pagi hari itu. Deskripsi: Guru mengajak siswa untuk mengamati tampilan LCD dengan mengambil topik "Jenis-jenis Tanaman Obat-obatan" dengan diiringi lagu "Halo¬-Halo Bandung". Siswa diminta untuk mengamati dan mencermati rekaman/ foto/gambar tersebut dengan seksama. Setelah selesai mengamati, siswa banyak yang bercerita karena kebanyakan orang tua mereka banyak yang mempunyai tanaman obat-obatan di rumahnya. Posisi guru sudah tidak lagi berada di depan kelas dalam memberikan penjelasan. Guru sudah mau berotasi untuk memonitor siswa dalam pelaksanaan pembelajaran dibanding siklus sebelumnya. Setelah semua paham tentang penyampaian materi, foto/rekaman/gambar tersebut, akhirnya guru kembali menugasi siswa untukmembaca pemahaman dari bacaan yang sudah tersedia. Setelah waktu habis, guru menyuruh siswa untuk mengumpulkan hasil pekerjaaanya. Refleksi: Pelaksanaan pembelajaran membaca pemahaman di kelas XI IPS 2 berjalan dengan lancar. Siswa terlihat mulai lebih tertarik dengan pendckatan quantum learning yang diterapkan guru dalam menggajar. Kegiatan menulis pengalaman terkesan menyenangkan dalam pembelajaran tersebut. Hal tersebut dilakukan dengan guru selalu mengajak siswa untuk berdiskusi. Pemberian reward ternyata memacu siswa untuk lebih aktif dalarn kegiatan pembelajaran. Hal tersebut. terbukti dari keberanian siswa untuk mengemukakan pendapat, banyak diantara mereka yang bercerita dengan melihat kejadian tersebut karena sudah mempunyainya. Dalam menyampaikan pelajaran posisi guru lebih banyak melakukan rotasi, tidak selalu di depan kelas. Lampiran 23 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( SIKLUS II) Satuan Pendidikan : MAN 2 Madiun Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas/Semester : XI IPS/ I Alokasi Waktu : 3X45 Menit A. Standar Kompetensi : Membaca 3. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca intensif dan membaca nyaring. B. Kompetensi Dasar : 3.2 Menemukan perbedaan paragraf induktif dan deduktif melalui kegiatan membaca intensif C. Indikator: 1. Menemukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada paragraf 2. Menemukan kalimat penjelas yang mendukung gagasan utama 3. Menemukan paragraf induktif dan deduktif 4. Mengidentifikasi ciri paragraf induktif dan deduktif 5. Menjelaskan perbedaan antara paragraf induktif dengan deduktif D. Tujuan Pembelajaran 1. Siswa menemukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada paragraf. 2. Siswa menemukan kalimat penjelas yang mendukung gagasan utama. 3. Siswa menemukan paragraf induktif dan deduktif. 4. Siswa mengidentifikasi ciri paragraf induktif dan induktif 5. Siswa menjelaskan perbedaan antara paragraf induktif dengan deduktif Karakter siswa yang diharapkan : - Disiplin - Percaya diri - Rasa hormat dan perhatian - Tekun - Tanggung jawab - Berani - kerjasama E. Materi Pembelajaran Paragraf yang berpola induktif dan deduktif 1. Kalimat utama dan kalimat penjelas 2. Gagasan utama 3. Kalimat simpulan 4. Ciri paragraf induktif dan deduktif 5. Perbedaan paragraf induktif dan deduktif F. Metode Pembelajaran TANDUR G. Model Pembelajaran CTL ( Contekstual Learning) H. Langkah-Langkah Pembelajaran No. Uraian Kegiatan Waktu Metode 1 PERTEMUAN I Kegiatan awal a. Guru memberikan salam dan mengecek kehadiran siswa, kebersihan kelas dan kerapian siswa sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan dan kedisiplinan b. Guru memberikan apersepsi berkenaan dengan perbedaan paragraf induktif dan deduktif secara komunikatif c. Guru menumbuhkan rasa ingin tahu (memotivasi) 15menit Ceramah bervariasi, Tanya jawab Tumbuhkan 2 Kegiatan Inti Eksplorasi. a. Guru mengajak siswa untuk mengamati contoh-contoh paragraf yang telah disediakan, b. Guru mengajak siswa untuk mengidentifikasi pengertian paragraf induktif dan deduktif c. Guru membimbing siswa untuk mendefinisikan pengertian paragraf induktif dan deduktif. Eksplorasi d. Guru mengajak siswa mengidentifikasi gagasan utama pada tiap tiap paragraf berdasarkan hasil paparan siswa. e. Guru membimbing diskusi siswa untuk menyebutkan unsur-unsur paragraf termasuk kalimat utama dan kalimat penjelas dalam tiap-tiap paragraf. f. Guru mengajak siswa untuk mengidentifikasikan ciri-ciri paragraf induktif dan deduktif berdasarkan hasil paparan siswa. g. Guru membimbing siswa untuk menyebutkan ciri-ciri paragraf induktif dan deduktif. h. Guru bertanya kepada siswa tentang pengertian paragraf induktif dan deduktif i. Guru bertanya kepada siswa tentang unsur-unsur paragraf termasuk kalimat utama dan kalimat penjelas j. Guru bertanya kepada siswa tentang ciri-ciri paragraf induktif dan dedutif (kecakapan hidup, menggalai informasi) 50 Menit Alami Alami Namai Namai Demonstrasikan Namai Demonstrasikan Namai Demonstrasikan Ulangi/Rayakan Ulangi/Rayakan 3 Penutup a. Guru membimbing siswa untuk membuat simpulan b. Guru memberikan evaluasi hasil belajar. c. Guru bersama siswa melakukan koreksi hasil belajar. d. Guru mengumumkan hasil belajar e. Guru memberikan tugas individu menganalisis paragraf induktif dan deduktif. f. Guru mengakhiri pembelajaran dengan tepuk tangan. 25 Menit Namai/Demonstrasikan/Ulangi Demonstrasikan Rayakan 1 PERTEMUAN II Kegiatan awal a. Guru memberikan salam dan mengecek kehadiran siswa, kebersihan kelas dan kerapian siswa sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan dan kedisiplinan b. Guru bertanya tentang materi sebelumnya c. Guru dan siswa mengulas materi pada pertemuan materi sebelumnya. d. Guru menanyakan hasil analisis paragraf induktif dan deduktif e. Guru memberikan pengarahan mengenai tugas individu. 10 Menit Ceramah bervariasi 2 3 Kegiatan inti Elaborasi Siswa berdiskusi untuk ; Menyimpulkan ciri paragraf induktif dan deduktif Menyimpulkan perbedaan antara paragraf induktif dan deduktif Kolaborasi Tiap-tiap kelompok secara komunikatif menyampaikan ciri-ciri dan perbedaan paragraf induktif dan deduktif Tiap – tiap siswa secara komunikatif menggunakan simpulan untuk menyusun paragraf induktif dan deduktif. Kelompok lain memberikan tanggapan secara sopan dan terbuka terhadap paragraf yang ditulis tiap- tiap kelompok. Konfirmasi Guru memberikan tanggapan dan simpulan secara jujur dan terbuka terhadap paragraf induktif dan deduktif hasil diskusi siswa. Guru memberikan penguatan mengenai paragraf induktif dan deduktif. Penutup Guru melakukan penilaian akhir terhadap materi yang telah diberikan secara bertanggung jawab. Guru memberikan umpan balik terhadap materi yang telah diajarkan secara demokratis. Tindak lanjut Guru memberikan tugas membaca artikel di media cetak Guru menumbuhkan rasa ingin tahu siswa agar gemar membaca dengan menyampaikan rencana pembelajaran untuk pertemuan berikutnya. Ulangi/Demonstrasikan/ulangi/rayakan Demonstrasikan/ ulangi/ rayakan I. Alat dan Sumber Belajar • Alat Contoh paragraf induktif dan deduktif • Sumber - Buku Paket Bahasa Indonesia (Tim Edukatif.2010. Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga). - Artikel dari media cetak ( harian Jawa Pos bulan September) J. Prosedur Penilaian ● Penilaian Kognitif Teknik : Pertanyaan lisan dan tulisan Bentuk : uraian dan performan (unjuk kerja) ● Penilaian Afektif Bentuk : Lembar pengamatan Lembar Pengamatan Skala Penilaian dibuat dengan rentangan dari 1 sampai dengan 5 Penafsiran angka : 1 = sangat kurang, 2 = kurang, 3 = cukup, 4 = baik, 5 = sangat ● Penilaian Psikomotor Bentuk : Lembar penilaian kerja. Nama Antusias siswa dalam menjawab pertanyaan Siswa Aktif dalam pemberian apersepsi Siswa aktif dalam kegiatan KBM Skor yang Diperoleh Penugasan Terstruktur 1. Menyimak penjelasan paragraf dan pola pengembangannya berdasakan letak gagasan utama. 2. Menentukan gagasan utama dan letaknya pada paragraf. 3. Menentukan jenis pola pengembangan paragraf berdasarkan letak gagasan utama. 4. Membedakan paragraf deduktif dan induktif dari teks yang disediakan. 5. Menulis paragraf deduktif dan induktif. Kegiatan Mandiri Mencatat pokok-pokok membedakan paragraf deduktif dan induktif dari tayangan Presentasi yang disampaikan guru atau dari berita atau dari buku kemudian membuat rangkuman isi berita tersebut! ● Instrumen Penilaian Butir Soal dan kunci jawaban terlampir pada bahan ajar Pedoman Penilaian = jumlah skor b. Penilaian hasil belajar (kognitif) No. Uraian Soal Skor 1 2 3 4 5 Temukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada tiap-tiap di atas ! Temukan kalimat penjelas yang mendukung gagasan utama pada bacaan di atas! Carilah paragraf induktif dan deduktif pada bacaan tersebut! Identifikasilah ciri paragraf induktif dan deduktif? Jelaskan perbedaan antara paragraf induktif dan deduktif? 20 20 20 20 20 Jumlah 100 Format Nilai Akhir Siswa No NIS Nama Siswa L/P Kognitif Praktik (Psikomotor) Sikap (Afektif) 1 SKBM = 75 Keterangan : Kriteria penilaian : Skor perolehan X 100% Skor Maksimal Madiun, 30 September 2011 Kolaborator Peneliti . Rita Purbawanti Kasmini NIP197903272007102002 NIMS841008014 Mengetahui, Kepala Madrasah Drs. Basuki Rachmat, M.Pd. NIP 1967120919994031002 Lampiran 24 LEMBAR PENILAIAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN Nama Guru : Rita Purbawanti,S.Pd. Nama Sekolah : MAN 2 Madiun Pokok Bahasan : Paragraf Induktif dan Deduktif Hari/Tanggal : Senin,3 Oktober 2011 Petunjuk Berilah skor pada butir-butir pelaksanaan pembelajaran dengan cara melingkari angka pada kolom skor (1, 2, 3, 4, 5) sesuai dengan kriteria sebagai berikut: 1= sangat tidak baik 2= tidak baik 4=baik 3= kurang baik 5=sangat baik No Aspek yang dinilai Skor Keterangan 1. Kejelasan perumusan tujuan pembelajaran (tidak menimbulkan penafsiran ganda dan mengandung perilaku hasil belajar) 1 2 3 4 5 Baik 2. Pemilihan materi ajar (sesuai dengan tujuan dan karakteristik peserta didik) 1 2 3 4 5 Baik 3. Pengorganisasian materi ajar (keruntutan, sistematika, materi dan kesesuaian dengan alokasi waktu) 1 2 3 4 5 Kurang Baik 4. Pemilihan sumber/media pembelajaran (sesuai dengan tujuan, materi, dan karakteristik peserta didik) 1 2 3 4 5 Kurang Baik 5. Kejelasan skenario pembelajaran (langkah-langkah kegiatan pembelajaran: awal, inti, dan penutup) 1 2 3 4 5 Baik 6. Kerincian skenario pembelajaran (setiap langkah tercermin strategi/metode dan alokasi waktu pada setiap tahap) 1 2 3 4 5 Baik 7. Kesesuaian teknik dengan tujuan pembelajaran 1 2 3 4 5 Kurang Baik 8. Kelengkapan instrument (soal, kunci, pedoman penskoran) 1 2 3 4 5 Kurang Baik Skor Total 28 Lampiran 25 LEMBAR PENGAMATAN GURU Petunjuk Berilah skor pada butir-butir pelaksanaan pembelajaran dengan cara melingkari angka pada kolom skor (1, 2, 3, 4, 5) sesuai dengan Kriteria sebagai berikut: 1= sangat tidak baik 2= tidak baik 3= kurang baik 4=baik 5=sangat baik No Indikator / Aspek yang dinilai Skor Keteranagan I PRAPEMBELAJARAN 1. Mempersiapkan siswa untuk belajar 1 2 3 4 5 Baik 2. Melakukan kegiatan apersepsi 1 2 3 4 5 Baik II KEGITAN INTI PEMBELAJARAN A. Penguasaan materi pembelajaran 3. Menunjukkn pengusaan materi pembeljaran 1 2 3 4 5 Kurang Baik 4. Mengaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan 1 2 3 4 5 Kurang Baik Menyampaikan materi dengan jelas sesuai dengan hierarki belajar dan karakteristik siswa 1 2 3 4 5 Baik 6. Mengaitkan materi dengan realitas kehidupan 1 2 3 4 5 Baik B. Pendekatan/strategi pembelajaran 7. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi (tujuan) yang akan dicapai dan karakteristik siswa 1 2 3 4 5 8. Melaksanakan pembelajaran secara runtut 1 2 3 4 5 Baik 9. Menguasai kelas 1 2 3 4 5 Baik 10. Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual 1 2 3 4 5 Baik 11. Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebisaan positif 1 2 3 4 5 Baik 12. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan. 1 2 3 4 5 Kurang Baik C. Pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran 13. Menggunakan media secara efektif dan efisien 1 2 3 4 5 Baik 14. Menghasilkan pesan yang menarik 1 2 3 4 5 Kurang Baik 15. Melibatkan siswa dalam pemanfaatan media 1 2 3 4 5 Kurang Baik D. Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa 16. Menumbuhkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran 1 2 3 4 5 Baik 17. Menunjukkan sikap terbuka terhadap respon siswa 1 2 3 4 5 Baik 18. Menumbuhkan keceriaan dan antusiasme siswa dalam belajar 1 2 3 4 5 Baik E. Penilaian proses dan hasil belajar 19. Memantau kemajuan belajar selama proses 1 2 3 4 5 Kurang Baik 20. Melakukan penilaian akhir sesuai dengan kompetensi (tujuan) 1 2 3 4 5 Baik F. Penggunaan Bahasa 21. Menggunakan bahasa lisan dan tulis secara jelas, baik, dan benar 1 2 3 4 5 Baik 22. Menyampaikan pesan 1 2 3 4 5 Baik III PENUTUP 23. Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan sisw 1 2 3 4 5 Baik 24. Melaksanakan tindak lanjut memberikan arahan, atau kegiatan, atau tugas sebagai bagian remidi/pengayaan 1 2 3 4 5 Baik Skor Total 7 8 Baik Keterangan: Guru dalam melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar mulai dari persiapan sudah terlaksana dengan baik, terbukti dalam membuat Rencana pembelajaran secara terinci. Sedangkan, dalam hal pelaksanaan pengajaran termasuk menjelaskan materi, mengapresiasikan pendekatan quantum learning guru sudah mulai mengusai. Hal tersebut terjadi dikarenakan guru sudah mengenal pendekatan quantum learning pada siklus I, sehingga dalam tindakan siklus II pelaksanaan pengajaran sudah cukup baik dibanding siklus I dilihat dari skor nilai yang diperoleh, yaitu 78. Disisi lain penguasaan dalam menyampaikan materi dan berkomunikasi dengan siswa kurang, sehingga perlu adanya perbaikan. Lampiran 26 SOAL KOMPETENSI PARAGRAF INDUKTIF DAN DEDUKTIF (SIKLUS II) Bacalah bacaan berikut dengan cermat! Biji Jarak sebagai Bahan Bakar Alternatif Ketika perang Dunia II, banyak kapal laut logistic Jepang ditenggelamkan oleh armada perang Amerika. Keadaan itu membuat “ negeri matahari terbit” itu melirik minyak jarak untuk menggerakkan mesin-mesin perangnya. Tidak hanya truk dan tank, bahkan pesawat terbang pun menggunakan bahan bakar minyak jarak. Kebijakan yang diterapkan Jepang itu akhirnya sampai juga ke Indonesia. Rakyat diminta menanam pohon jarak sebagai tanaman pagar. Tanaman jarak pun selanjutnya dikenal sebagai jarak pagar, tanaman ini diyakini dapat menggantikan bahan bakar fosil yang selama ini dipakai secara luas di seluruh dunia. Itulah sekelumit sejarah pemakaian minyak jarak di Indonesia. Penelitian ilmiah pun mulai dilakukan secara intensif. Salah satu lembaga yang serius meneliti khasiat minyak jarak sebagai energy alternative ini adalah Institut Teknologi Bandung (ITB). Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Robert manurung itu dilakukan bersama peneliti dari Mitsubishi Research Institute, Jepang. Penelitian ini pun berbuah manis. Akhirnya, pada 18 Februari 2005, ITB berhasil menemukan minyak jarak alami tanpa campuran solar sedikit pun. Minyak jarak ini dikucurkan pada mesin pembangkit listrik berukuran 30 kilowatt. Mesin ini sangat ideal untuk memasok listrik di daerah terpencil. Jika diasumsikan sebuah rumah di desa memerlukan 300 watt, mesin itu mampu menerangi 100 rumah. Mesin seharga Rp 100 juta itu perlu delapan liter minyak jarak setiap jam. Jadi, sehari semalam dibutuhkan 192 liter. Untuk satu tahun, kira-kira hanya membutuhkan 70.000 liter minyak jarak. Menurut perhitungan, setiap hektar lahan dapat menghasilkan 10 ton biji jarak. Jika diperas, biji jarak itu akan menghasilkan 3.500 liter minyak jarak. Dengan demikian, untuk memerangi 100 rumah setiap tahun hanya dibutuhkan sekitar lahan jarak. Jika Negara kita menanam 1 juta hektar, akan menghasilkan 4,3 milyar liter minyak per tahun. Itu berarti Negara dapat menghemat devisa yang biasa digunakan mengimpor solar sebesar Rp 12 triliun. Keberhasilan para peneliti ITB ini membuat Indonesia merupakan satu-satunmya Negara yang berhasil mengucurkan minyak jarak alami tanpa campuran solar apa pun untuk menggerakkan mesin diesel. Sementara di Negara lain, minyak jarak digunakan sebagai campuran solar untuk mengurangi bahan bakar fosil ini. Oleh karena itu, keberhasilan para peneliti di ITB patut mendapat acungan jempol. (Sumber: Gatra, 2 April 2005) Jawablah pertanyaan berikut dengan tepat! 1. Temukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada tiap- tiap paragraf di atas! 2. Temukan kalimat penjelas yang mendukung gagasan utama pada bacaan di atas! 3. Carilah paragraf induktif dan paragraf deduktif pada bacaan tersebut! 4. Identifikasilah ciri paragraf induktif dan deduktif! 5. Jelaskan perbedaan antara paragraf induktif dan deduktif! Lampiran 27 Perolehan Nilai Membaca Pemahaman pada Siklus II LEMBAR PENILAIAN MEMBACA PEMAHAMAN KELAS XI IPS 2 MAN 2 MADIUN TAHUN PELAJARAN 2011-2012 (SIKLUS II) No. Nama Aspek Yang Dinilai Jumlah Nilai A B C D E 1 Abdul Rohman 10 16 15 15 15 71 2 Afian Ismail 11 15 17 14 13 70 3 Anang Yulianto 10 20 20 16 16 82 4 Aulia Mu’tashim 10 16 17 17 16 76 5 Ayu Hana F 10 16 15 16 15 72 6 Binti Nur Halimah 11 19 19 18 16 83 7 Cita Mukti Handayani 10 13 16 13 15 67 8 Eka Erbhaena 9 16 16 14 13 68 9 Ella Resika Putri Fransisca 10 14 17 15 15 71 10 Elsinta Meina Hapsari 10 14 17 15 15 71 11 Fajar Bangun Wiradani 10 19 18 15 13 75 12 Febri Putra Wardana 9 15 15 15 15 69 13 Filian Mufcha Ichwana 10 14 14 14 14 66 14 Gustyarso Azis Windraswara 10 15 16 15 15 71 15 Ika Ayu Mustikaningtyas 10 14 16 15 16 71 16 Irasetio Wati 9 17 20 17 19 82 17 Maulida PamungkasariAK 10 16 17 17 17 77 18 Meyta Aryanti 9 18 20 17 17 81 19 Moh. Ilham 11 17 17 17 18 80 20 Mohammad Rizal Hanafi 9 19 19 18 18 81 21 Muhamad Fahmi Fatchur Rozi 10 16 18 18 18 80 22 Mutohar 10 15 19 18 18 80 23 Nur Rachma Diah Falupi 11 16 16 16 16 75 24 Rizky Indra Permatasari 10 17 18 16 15 75 25 Wahyu Arif Permadhani 10 19 17 16 18 80 26 Wahyu Eko Hendratno 9 15 16 14 14 75 27 Widodo Wicaksono 10 17 18 17 16 78 28 Yuvita Wardani 9 17 17 18 17 78 29 Zuqni Qurotul Uyun 9 18 16 16 17 75 30 M. Fakih Usman 9 15 17 17 17 76 31 Maulida Khoirunnisa 9 16 17 17 17 76 Aspek Yang Dinilai : A = ketepatan menentukan gagasan utama pada paragraf paragraf B = ketepatan menentukan kalimat penjelas yang mendukung gagasan utama C = ketepatan menentukan paragraf induktif dan deduktif dalam paragraf D = ketepatan mengidentifikasi paragraf induktif dan deduktif pada paragraf E = ketepatan menjelaskan perbedaan paragraf induktif dan deduktif Skala penilaian dibuat dengan rentangan dari nilai terkecil 20 sampai dengan 100. Lampiran 28 Catatan Lapangan Observasi Tahap Perencanaan Siklus III Hari/Tanggal : Sabtu, 8 Oktober 2011 Waktu :09.45 WIB Jenis : Observasi Mendalam (Tahap Perencanaan Tindakan Siklus III) Objek Penelitian : Guru bidang studi bahasa Indonesia Setting: Observasi ini dilakukan di ruang tamu kantor guru MAN 2 Madiun. Ruangan ini berukuran 8X6 m, di dalam ruangan tersebut terdapat beberapa pasang meja kursi guru, almari dan rak buku, serta beberapa unit komputer barang-barang lainnya yang disediakan oleh pihak sekolah. Deskripsi: Dalam kegiatan perencanaan tahap akhir ini, peneliti kerrmbali mengemukakan kelemahan yang muncul dalam pelaksanaan siklus II. Kelemahan yang ada yakni: siswa masih mengalami kesulitan dalam menentukan paragraf induktif dan deduktif serta menentukan gagasan utama dalam bacaan, Peneliti dan guru berdiskusi dan menganalisis segala kekurangan dan kelebihan pada siklus II. Peneliti dan guru akhirnya menyepakati bahwa untuk siklus selanjutnya guru akan menerapkan teknik selfcorection seibagai upaya perbaikan hasil pekerjaan siswa. Peneliti dan guru juga menetapkan jadwal penelitian selanjutnya yaitu Senin, 10 Oktober 2011 dan Rabu, 12 Oktober 2011. Untuk mengatasi kekurangan dalam pembelajaran yang terjadi pada siklus II, guru dan peneliti sepakat untuk mengadakan pembelajaran membaca pemahaman, guru mengaplikasi solusi yang telah disepakati dengan peneliti untuk mengatasi kekurangan pada proses pembelajaran membaca dalam siktus II, sedangkan peneliti rnelakukan observasi terhadap proses pembelajaran. Pada pertemuan selanjutnya, membagikan reward berupa buku dan pulpen pada 3 siswa yang telah mengikuti pembelajaran dan mengerjakan soal-soal dengan baik. Selanjutnya guru mengajak siswa mengamati rekaman/gamabar/video tentang makna hidup sehat yang disajikan oleh guru menampilkan kisah baru yang belum pernah mereka lihat sebelurnnya. Refleksi: Dalam kegiatan perencanaan ini, guru terlihat semakin memahami mengenai Penelitian Tindakan Kelas. Terbukti guru semakin kreatif dalam memberikan ide¬ide untuk pelaksanaan tindakan penelitian ini. Selain ini kemampuan guru untuk mengajak siswanya berlatih menulis argumentasi yang baik dan benar semakin meningkat. Lampiran 29 Catatan Lapangan Observasi Mendalam tahap Pelaksanaan Siklus III Pertemuan Pertama Hari,Tanggal : Senin, 10 Oktober 2011 Waktu : 07.45- 09.15 WIB Jenis : Observasi Mendalam (Tahap Pelaksanan Tindakan Siklus III) Objek Penelitian : Guru bidang studi bahasa Indonesia Siswa kelas XI IPS 2 Setting: Observasi ini dilaksanakan di ruang Multimedia yang berukuran kurang lebih 8 x 6 m. Di dalam ruangan multimedia tersebut terdapat sepasang meja dan kursi untuk guru, 31 kursi meja untuk siswa, di dinding kelas tertempel gambar presiden, dan wakil presiden Republik Indonesia, gambar. burung garuda, gambar pahlawan, jam dinding, dan kipas angin. Pada saat observasi ini jumlah siswa keseluruhan ada 31 orang. Siswa yang tidak menyangka akan kembali diamati, peneliti menempatakan diri duduk dikursi bagian belakang. Guru tiba-tiba mengajak siswanya ke ruang multimedia yang dimiliki MAN 2 Madiun yang berukuran 8X6, sehingga siswa tampak gembira menyamlbut perintah guru. Ruang multitliedia termasuk ruang ber-AC, juga terdapat televisi, seperangkat komputer, OHP, LCD, Audio conferen, speaker aktif,dan beberapa hasil karya siswa yang dipajang. Deskripsi: Guru memulai Kegiatan Belajar Mengajar dengan membuka pelajaran dan mengecek beberapa siswa yang tidak mengikuti pelajaran bahasa Indonesia pagi itu dengan melihat presensi kelas. Peneliti menempatkan diri sebagai partisipan pasif dengan berada di tempat duduk bagian belakag. sehingga peneliti dapat mengamati jalannya kegiatan belajar mengajar dengan leluasa tanpa menggangu pelajaran yang sedang berlangsung, kegiatan belajajr mengajar diawali dengan pendahuluan, guru menyapa siswa dan melakukan presensi. Kemudian guru memberikan apersepsi serta menyegarkan kembali ingatan siswa seputar materi yang telah dibahas pada pertemuan yang lalu tentang membaca pemahaman paragraf induktif dan deduktif. Guru juga menyinggung tentang pengertian cirri, perbedaan paragraf induktif dan deduktif serta gagasan utama, kalimat utama dalam paragraf yang benar. Guru mengadakan tanya jawab kepada siswa mengenai materi membaca. Pendahuluan ini dilakukan ± 15 menit. Guru kemudian membagikan hasil tulisan siswa pada siklus I dan siklus IL Pekerjaan siswa pada siklus I telah diteliti oleh guru dan peneliti dengan cara memberikan tanda koreksi pada hal-hal yang salah, sedangkan pekerjaan siswa dalam siklus II telah dikoreksi guru dan peneliti tetapi tidak diberi tanda koreksi secara detail. Siswa kernudian diajak untuk menerapkan teknik self corection pada peketjaan siswa. Siswa menganalisis kesalahan-kesalahan mereka dalam siklus II. Ada beberapa pertanyaan dari siswa mengenai tanda-tanda koreksi yang digunakan peneliti dan guru. Guru menjelaskan maksud tanda tersebut dan memberikan petunjuk mengenai hal-hal yang disalahkan peneliti dan guru. Selanjutnya mereka membaca dan rnenganalisis bacaan untuk menemukan gagasan utama, kalimat utama dan kalimat penjelas dalam bacaan pada hasil pekerjaan mereka dalam siklus II. Kesalahan-kcsalahan tersebut mereka data dan mereka cari solusi untuk memecahkan masalah tersebut. Siswa terlihat aktif dalam pelaksanaan teknik self corection kali ini Setelah selesai menganalisis pekerjaan mereka sendiri, guru meminta siswa untuk mengumpulkan kembali pekerjaan mereka. Refleksi: Pelaksanaan pembelajaran membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning pada siswa kelas XI IPS 2 Madiun berjalan dengan lancar. Siswa terlihat mulai bisa melakukan tindakan mengoreksi kesalahan hasil pekerjaan sendiri dengan teknik self corection. Kegiatan membaca pemahaman dapat dengan mudah dilakukan oleh siswa karena dengan metode TANDUR. Kali ini siswa rnulai paham bagaimana membaca pemahaman yang baik dan benar. Lampiran 29: Catatan Lapangan Observasi Mendalam Tahap Pelaksanaaan Tindakan Siklus III Pertemuan Kedua Haril,Tanggal : Rabu, 12 Oktober 2011 Waktu : 07.45-08.30 WIB Jenis : Observasi Mendalam (Tahap Pelaksanan Tindakan Siklus III) Objek Penelitian : Guru bidang studi bahasa Indonesia Siswa kelas XI IPS 2 Setting: Observasi ini dilaksanakan di ruang Multimedia yang berukuran kurang lebih 8 x 6 m. Di dalam ruangan multimedia tersebut terdapat sepasang meja dan kursi untuk guru, 31 kursi meja untuk siswa, di dinding kelas tertempel gambar presiden, dan wakil presiden Republik Indonesia, gambar. burung garuda, gambar pahlawan, jam dinding, dan kipas angin. Pada saat observasi ini jumlah siswa keseluruhan ada 31 orang. Siswa yang tidak menyangka akan kembali diamati, peneliti menempatakan diri duduk dikursi bagian belakang. Guru tiba-tiba mengajak siswanya ke ruang multimedia yang dimiliki MAN 2 Madiun yang berukuran 8X6, sehingga siswa tampak gembira menyambut perintah guru. Ruang multitliedia termasuk ruang ber-AC, juga terdapat televisi, seperangkat komputer, OHP, LCD, Audio conferen, speaker aktif,dan beberapa hasil karya siswa yang dipajang. Peneliti langsung menempatkan diri duduk di kursi bagian belakang sebagai partisipan pasif. Guru bersangkutan memulai kegiatan belajar mengajar pada pagi itu. Deskripsi: Guru memulai pelajaran dan mengecek berapa siswa yang tidak mengikuti pelajaran bahasa Indonesia pagi itu dengan melihat presensi kelas. Hari itu siswa kelas XI IPS 2 semua hadir. Kegiatan hari ini adalah guru membagikan hasil pckerjaan siswa yang telah dinilai. Setelah mengetahui hasil nilai yang diperoleh, akhirnya guru mengajak siswa untuk menganalisis bersama-sama. Kali ini sudah banyak sekali perubahan yang terjadi dibandingkan siklus I dan II tentang hasil membaca pemahaman siswa. Pada pertemuan selanjutnya, membagikan reward berupa buku dan pulpen pada 3 siswa yang telah membaca pemahamn quantum learning dengan baik. Selanjutnya guru mengajak siswa mengamati tayangan LCD . Siswa telihat antusias melihat dan mengamati yang disajikan oleh guru merupakan kisah baru yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Siswa kemudian diminta untuk menuliskan kembali pengalaman yang telah mereka lihat dan amati tersebut dengan ketentuan yang telah disepakati pada pertemuan sebelumnya. Guru juga menekankan bahwa siswa jangan lagi mengtilangi kesalahan yang telah mereka ketahui dan telah mereka perbaiki. Setelah siswa selesai membaca dan mengerjkaan pertanyaan, guru mengajukan kesempatan pada siswa untuk membacakan hasil pekerjaan mereka di depan kelas. Ada beberapa siswa yang mau maju tanpa ditunjuk. Siswa lainnya menyimak dan memberikan komentar mengenai pembacaan hasil pekerjaan teman mereka. Selanjutnya siswa dimintai berpendapat maupun berkomentar seputar cerita yang telah mereka baca. Siswa dan guru melakukan tanya-jawab seputar kesan dan perasaan mereka melihat kegiatan tayangan yang ada dalam tersebut. Siswa terlihat aktif dalam rnenanggapi setiap pertanyaan yang diajukan oleh guru. Guru merninta siswa untuk mengumpulkan hasil pekerjaannya, kemudian memanfaatkan waktu yang tersisa dengan memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya. Setelah beberapa saat tidak ada siswa yang mengajukan pertanyaan, guru mengakhiri kegiatan pembelajaran hari itu sambil mengajak siswa menyanyikan lagu "Maju Tak Gentar", dengan disertai pemberitahuan bahwa penelitian yang dilaksanakan antara peneliti dan guru di kelas mereka berakhir. Guru memberikan kesempatan kepada peneliti untuk mengacapkan terima kasih pada siswa yang telah bersedia membantu dalam penelitian ini. Refleksi: Pelaksanaan pembelajan membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning pada siswa kelas XI IPS 2 berjalan sangat lancar. Antara guru dengan siswa terjalin komunikasi yang baik, terlihat dan banyaknya siswa yang bertanya kepada guru dan mau berdiskusi. Keterampilan membaca pemahaman siswa semakin meningkat. Selain itu, kemampuan guru dalam menyampaikan materi, mengembangkan materi, serta mengelola kelas juga meningkat. Sehingga dapat disimpulkan penelitian ini terbukti memperbaiki kualitas pembelajaran membaca siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Lampiran 31 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( SIKLUS III) Satuan Pendidikan : MAN 2 Madiun Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas/Semester : XI IPS/ I Alokasi Waktu : 3X45 Menit A. Standar Kompetensi : Membaca 3. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca intensif dan membaca nyaring. B. . Kompetensi Dasar : 3.3 Menemukan perbedaan paragraf induktif dan deduktif melalui kegiatan membaca intensif C. Indikator: 1. Menemukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada paragraf 2. Menemukan kalimat penjelas yang mendukung gagasan utama 3. Menemukan paragraf induktif dan deduktif 4. Mengidentifikasi ciri paragraf induktif dan deduktif 5. Menjelaskan perbedaan antara paragraf induktif dengan deduktif D. Tujuan Pembelajaran 1. Siswa menemukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada paragraf. 2. Siswa menemukan kalimat penjelas yang mendukung gagasan utama. 3. Siswa menemukan paragraf induktif dan deduktif. 4. Siswa mengidentifikasi ciri paragraf induktif dan induktif 5. Siswa menjelaskan perbedaan antara paragraf induktif dengan deduktif Karakter siswa yang diharapkan : - Disiplin - Percaya diri - Rasa hormat dan perhatian - Tekun - Tanggung jawab - Berani - kerjasama E. Materi Pembelajaran Paragraf yang berpola induktif dan deduktif 1. Kalimat utama 2. Kalimat penjelas 3. Kalimat simpulan 4. Ciri paragraf induktif dan deduktif 5. Perbedaan paragraf induktif dan deduktif F. Metode Pembelajaran TANDUR G. Model Pembelajaran CTL ( Contekstual Learning) H. Langkah-Langkah Pembelajaran No. Uraian Kegiatan Waktu Metode 1 PERTEMUAN I Kegiatan awal a. Guru memberikan salam dan mengecek kehadiran siswa, kebersihan kelas dan kerapian siswa sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan dan kedisiplinan b. Guru menyinggung kembali berkenaan dengan perbedaan paragraf induktif dan deduktif secara komunikatif dengan metode TANDUR c. Guru menerapkan teknik self correction untuk menambah daya kritis siswa 15Menit Ceramah bervariasi, Tanya jawab Tumbuhkan Penugasan dan diskusi 2 Kegiatan Inti Eksplorasi. a. Guru memberikan apersepsi b. Guru mengajak siswa untuk mengamati contoh-contoh paragraf yang telah disediakan dan gambar-gambar yang ditayangkan di LCD. c. Guru menjelaskan kembali tentang perbedaan paragraf induktif dan deduktif dalam paragraf berdasarkan hasil pekerjaan siswa pada siklus II d. Guru mengajak siswa untuk memgoreksi sendiri (self correction) kesalahan yang terdapat dalam hasil pekerjaan mereka. e. Guru memberikan reward pada siswa yang mampu membaca pemahaman dengan baik f. Siswa diajak mengamati tayangan gambar/video pada tayangan LCD. g. Guru dan siswa mengadakan Tanya jawab seputar peristiwa yang telah mereka lihat tersebut. h. Siswa diajak bernyanyi lagu Maju Tak Gentar i. Guru bertanya kepada siswa tentang ciri-ciri paragraf induktif dan dedutif (kecakapan hidup, menggalai informasi). j. Guru menugasi beberapa siswa membacakan hasil pekerjaannya di depan kelas. 50 Menit Alami Alami Namai Namai Demonstrasikan Namai Demonstrasikan Namai Demonstrasikan 3 Penutup a. Guru memberikan refleksi dan menyimpulkan kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan bersama b. Guru memberikan evaluasi hasil belajar. c. Guru member kesempatan pada siswa untuk bertanya apabila ada yang kurang jelas d. Guru mengakhiri pembelajaran dengan tepuk tangan dan membacakan yel-yel. 25 Menit Namai/Demonstrasikan/Ulangi Demonstrasikan Rayakan 1 PERTEMUAN II Kegiatan awal a. Guru memberikan salam dan mengecek kehadiran siswa, kebersihan kelas dan kerapian siswa sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan dan kedisiplinan c. Guru bertanya tentang materi sebelumnya d. Guru dan siswa mengulas materi pada pertemuan materi sebelumnya. e. Guru menanyakan hasil analisis paragraf induktif dan deduktif f. Guru memberikan pengarahan mengenai tugas individu. 10 Menit Ceramah bervariasi 2 3 Kegiatan inti Elaborasi Siswa berdiskusi untuk ; Menyimpulkan ciri paragraf induktif dan deduktif Menyimpulkan perbedaan antara paragraf induktif dan deduktif Kolaborasi Tiap-tiap kelompok secara komunikatif menyampaikan ciri-ciri dan perbedaan paragraf induktif dan deduktif Tiap – tiap kelompok secara komunikatif menggunakan simpulan untuk menyusun paragraf induktif dan deduktif. Kelompok lain memberikan tanggapan secara sopan dan terbuka terhadap paragraf yang ditulis tiap- tiap kelompok. Konfirmasi Guru memberikan tanggapan dan simpulan secara jujur dan terbuka terhadap paragraf induktif dan deduktif hasil diskusi siswa. Guru memberikan penguatan mengenai paragraf induktif dan deduktif. Penutup Guru melakukan penilaian akhir terhadap materi yang telah diberikan secara bertanggung jawab. Guru memberikan umpan balik terhadap materi yang telah diajarkan secara demokratis. Tindak lanjut Guru memberi tugas siswa untuk membaca dan mengerjakan buku paket hal 101 Guru menumbuhkan rasa ingin tahu siswa agar gemar membaca lalu menutup pelajaran dengan bertepuk tangan dan membacakan yel-yel. 25 Menit 10 Menit Ulangi/Demonstrasikan/ulangi/rayakan Demonstrasikan/ ulangi/ rayakan I. Alat dan Sumber Belajar • Alat Contoh paragraf induktif dan deduktif • Sumber - Buku Paket Bahasa Indonesia (Tim Edukatif.2010. Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga). - Artikel dari media cetak ( harian Jawa Pos bulan September) J. Prosedur Penilaian ● Penilaian Kognitif Teknik : Pertanyaan lisan dan tulisan Bentuk : pilihan ganda, uraian dan performan (unjuk kerja) ● Penilaian Afektif Bentuk : Lembar pengamatan Lembar Pengamatan Nama Antusias siswa dalam menjawab pertanyaan Siswa Aktif dalam pemberian apersepsi Siswa aktif dalam kegiatan KBM Skor yang Diperoleh Skala Penilaian dibuat dengan rentangan dari 1 sampai dengan 5 Penafsiran angka : 1 = sangat kurang, 2 = kurang, 3 = cukup, 4 = baik, 5 = sangat ● Penilaian Psikomotor Bentuk : Lembar penilaian kerja Penugasan Terstruktur 1. Menyimak penjelasan paragraf dan pola pengembangannya berdasakan letak gagasan utama. 2. Menentukan gagasan utama dan letaknya pada paragraf. 3. Menentukan jenis pola pengembangan paragraf berdasarkan letak gagasan utama. 4. Membedakan paragraf deduktif dan induktif dari teks yang disediakan. 5. Menulis paragraf deduktif dan induktif. Kegiatan Mandiri Mencatat pokok-pokok membedakan paragraf deduktif dan induktif dari tayangan presentasi yang disampaikan guru atau dari berita atau dari buku kemudian membuat rangkuman isi berita tersebut! Format Nilai Akhir Siswa No NIS Nama Siswa L/P Kognitif Praktik (Psikomotor) Sikap (Afektif) SKBM = 75 Keterangan : Kriteria penilaian : Skor perolehan X 100% Skor Maksimal Madiun, Oktober 2011 Kolaborator Peneliti . Rita Purbawanti, S.Pd. Kasmini NIP197903272007102002 NIM S841008014 Mengetahui, Kepala Madrasah Drs. Basuki Rachmat, M.Pd. NIP 1967120919994031002 Lampiran 32 LEMBAR PENILAIAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN Nama Guru : Rita Purbawanti,S.Pd. Nama Sekolah : MAN 2 Madiun Pokok Bahasan : Paragraf Induktif dan Deduktif Hari/Tanggal : Senin,10 Oktober 2011 Petunjuk Berilah skor pada butir-butir pelaksanaan pembelajaran dengan cara melingkari angka pada kolom skor (1, 2, 3, 4, 5) sesuai dengan kriteria sebagai berikut: 1= sangat tidak baik 2= tidak baik 4=baik 3= kurang baik 5=sangat baik No Aspek yang dinilai Skor Keterangan 1. Kejelasan perumusan tujuan pembelajaran (tidak menimbulkan penafsiran ganda dan mengandung perilaku hasil belajar) 1 2 3 4 5 Baik 2. Pemilihan materi ajar (sesuai dengan tujuan dan karakteristik peserta didik) 1 2 3 4 5 Baik 3. Pengorganisasian materi ajar (keruntutan, sistematika, materi dan kesesuaian dengan alokasi waktu) 1 2 3 4 5 Baik 4. Pemilihan sumber/media pembelajaran (sesuai dengan tujuan, materi, dan karakteristik peserta didik) 1 2 3 4 5 Baik 5. Kejelasan skenario pembelajaran (langkah-langkah kegiatan pembelajaran: awal, inti, dan penutup) 1 2 3 4 5 Baik 6. Kerincian skenario pembelajaran (setiap langkah tercermin strategi/metode dan alokasi waktu pada setiap tahap) 1 2 3 4 5 Baik 7. Kesesuaian teknik dengan tujuan pembelajaran 1 2 3 4 5 Baik 8. Kelengkapan instrument (soal, kunci, pedoman penskoran) 1 2 3 4 5 Baik Skor Total 32 Lampiran 33 LEMBAR PENGAMATAN GURU SIKLUS III Petunjuk Berilah skor pada butir-butir pelaksanaan pembelajaran dengan cara melingkari angka pada kolom skor (1, 2, 3, 4, 5) sesuai dengan Kriteria sebagai berikut: 1= sangat tidak baik 2= tidak baik 3= kurang baik 4=baik 5=sangat baik No Indikator / Aspek yang dinilai Skor Keteranagan I PRAPEMBELAJARAN 1. Mempersiapkan siswa untuk belajar 1 2 3 4 5 Baik 2. Melakukan kegiatan apersepsi 1 2 3 4 5 Baik II KEGITAN INTI PEMBELAJARAN A. Penguasaan materi pembelajaran 3. Menunjukkn pengusaan materi pembeljaran 1 2 3 4 5 Baik 4. Mengaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan 1 2 3 4 5 Baik Menyampaikan materi dengan jelas sesuai dengan hierarki belajar dan karakteristik siswa 1 2 3 4 5 Baik 6. Mengaitkan materi dengan realitas kehidupan 1 2 3 4 5 Baik B. Pendekatan/strategi pembelajaran 7. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi (tujuan) yang akan dicapai dan karakteristik siswa 1 2 3 4 5 8. Melaksanakan pembelajaran secara runtut 1 2 3 4 5 Baik 9. Menguasai kelas 1 2 3 4 5 Baik 10. Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual 1 2 3 4 5 Baik 11. Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebisaan positif 1 2 3 4 5 Baik 12. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan. 1 2 3 4 5 Baik C. Pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran 13. Menggunakan media secara efektif dan efisien 1 2 3 4 5 Baik 14. Menghasilkan pesan yang menarik 1 2 3 4 5 Baik 15. Melibatkan siswa dalam pemanfaatan media 1 2 3 4 5 Baik D. Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa 16. Menumbuhkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran 1 2 3 4 5 Baik 17. Menunjukkan sikap terbuka terhadap respon siswa 1 2 3 4 5 Baik 18. Menumbuhkan keceriaan dan antusiasme siswa dalam belajar 1 2 3 4 5 Baik E. Penilaian proses dan hasil belajar 19. Memantau kemajuan belajar selama proses 1 2 3 4 5 Baik 20. Melakukan penilaian akhir sesuai dengan kompetensi (tujuan) 1 2 3 4 5 Baik F. Penggunaan Bahasa 21. Menggunakan bahasa lisan dan tulis secara jelas, baik, dan benar 1 2 3 4 5 Baik 22. Menyampaikan pesan 1 2 3 4 5 Baik III PENUTUP 23. Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan sisw 1 2 3 4 5 Baik 24. Melaksanakan tindak lanjut memberikan arahan, atau kegiatan, atau tugas sebagai bagian remidi/pengayaan 1 2 3 4 5 Baik Skor Total 96 Baik Keterangan: Guru dalam melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar mulai dari persiapan sudah terlaksana dengan baik, terbukti dalam membuat Rencana pembelajaran secara terinci. Sedangkan, dalam hal pelaksanaan pengajaran termasuk menjelaskan materi, mengapresiasikan pendekatan quantum learning guru sudah mengusai. Hal tersebut terjadi dikarenakan guru sudah mulai mengenal pendekatan quantum learning pada siklus I, dan siklus II sehingga dalam tindakan siklus III pelaksanaan pengajaran sudah sangat baik dibanding siklus I dan siklu II dilihat dari skor nilai yang diperoleh, yaitu meningkat dari 74 (siklus I) 78 (siklus II), dan 96 (siklus III). Disisi lain penguasaan dalam menyampaikan materi dan berkomunikasi dengan siswa kurang, sehingga perlu adanya perbaikan pada siklus III. Dengan penerapan pendekatan quantum learning dalam pengajaran terbukti tidak hanya memunculkan daya aktif siswa tetapi juga guru, dengan tujuan akhir menjadikan sebuah pembelajaran yang menyenangkan. Lampiran 34 SOAL KOMPETENSI PARAGRAF INDUKTIF DAN DEDUKTIF (SIKLUS III) Bacalah artikel berikut yang berisi mengenai beberapa faktor dominan yang menjadi penyebab penyakit bagi tubuh. Pola Hidup Menentukan Kesehatan Anda Pada pertengahan abad ke-19, para mahasiswa kedokteran menjadi semakin sadar bahwa masalah pikiran dan perasaan dapat menyebabkan organ-organ tubuh mengalami gangguan kerja. Hubungan pikiran dan tubuh ini akhirnya disebut psikomatik, yaitu suatu hubungan timbal-balik di mana tubuh mempengaruhi pikiran, dan pikiran mempengaruhi tubuh oleh ilmu kedokteran. Pada pertengahan abad XX, telah dipastikan bahwa penyakit dapat disebabkan oleh banyak faktor. Faktor itu di antaranya adalah kuman, kelebihan dan kekurangan gizi, ketidak-seimbangan hormon, dan stres pikiran, perasaan, serta ketegangan. Lebih lanjut, para pakar juga sadar bahwa penyakit dapat juga disebabkan oleh pola hidup seseorang seperti apa yang dimakannya, bagaimana kebiasaan-kebiasaan hidupnya, dan juga pikiran-pikirannya. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh pola hidup ini antara lain jantung koroner, tekanan darah tinggi, stroke, maupun diabetes. Penyakit-penyakit itu pada umumnya telah menjadi pembunuh terbesar dewasa ini. Pola hidup di negara Barat sangat berbeda dengan pola hidup di negara berkembang. Hal ini menumbuhkan sekelompok penyakit yang begitu berbeda. Orang-orang Amerika Serikat yang mengikuti kebiasaan hidup orang Papua Nugini, meninggal karena penyakit-penyakit yang banyak membunuh orang Papua Nugini. Demikian juga sebaliknya, orang-orang dari budaya lain yang bermigrasi ke Amerika Serikat dan hidup dengan pola Amerika akhirnya meninggal karena penyakit-penyakit yang banyak ditemukan di negara baru mereka. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar penyakit disebabkan oteh pola hidup. Pola hidup Anda sebagian besar menentukan kesehatan Anda dan penyakit-penyakit yang Anda derita. Mengingat hat ini, mari kita perhatikan unsur-unsur pola hidup, dan lihatlah bagaimana riset modern telah mengungkapkan penentu-penentu kesehatan dan penyakit. Bagaimanakah pota hidup Anda menentukan apakah Anda sehat atau sakit? Setiap unit fungsional dalam tubuh Anda bekerja dalam batas-¬batas yang jelas dan telah ditentukan sebelumnya, seperti suhu, keasaman atau kebasaan, jumlah bahan yang dibutuhkan, dan kadar bahan-bahan buangan. Kisaran (range) kegiatan ini sebagai kisaran biologis atau fisiologis. Kalau kisaran ini dilewati baik berlebihan atau kekurangan, maka sistem akan kehilangan keseimbangan atau yang oleh para ahli disebut homeostasis. Ketidakseimbangan ini, pertama-tama akan menghasilkan gangguan fungsi, dan jika tidak diatasi, akan menyebabkan kerusakan jaringan dan akhirnya memunculkan penyakit. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa pola hidup menentukan kesehatan Anda. Cobalah Anda perhatikan untuk sesaat, misi Apollo ke bulan. Modul pendarat membutuhkan dukungan dan sistem kendati yang rumit agar bisa menyelesaikan tugasnya. Bahkan, astronot pun ketika ia berjalan di permukaan bulan, membawa unit pendukung kehidupannya yang diikatkan pada punggungnya, dan dituntun oleh instruksi-instruksi dari bumi. Hat ini sama dengan tubuh Anda. Setiap unit fungsional harus mendapatkan dukungan dan arahan yang tepat agar bisa melaksanakan aktivitasnya. Sumber: Kiat Ke(uarga Sehat: Mencapai Hidup Prima dan Bugar (Terjemahan) oleh Ruben Supit, 2003 Jawablah pertanyaan berikut dengan tepat! 1. Temukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada tiap- tiap paragraf di atas! 2. Temukan kalimat penjelas yang mendukung gagasan utama pada bacaan di atas! 3. Carilah paragraf induktif dan paragraf deduktif pada bacaan tersebut! 4. Identifikasilah ciri paragraf induktif dan deduktif! 5. Jelaskan perbedaan antara paragraf induktif dan deduktif! Lampiran 35 Perolehan Nilai Membaca Pemahaman pada Siklus III LEMBAR PENILAIAN MEMBACA PEMAHAMAN KELAS XI IPS 2 MAN 2 MADIUN TAHUN PELAJARAN 2011-2012 (SIKLUS III) No. Nama Aspek Yang Dinilai Jumlah Nilai A B C D E 1 Abdul Rohman 11 15 15 16 15 72 2 Afian Ismail 11 15 16 14 16 72 3 Anang Yulianto 11 19 20 18 18 86 4 Aulia Mu’tashim 11 17 19 18 17 82 5 Ayu Hana F 11 17 18 18 16 80 6 Binti Nur Halimah 12 19 19 18 17 85 7 Cita Mukti Handayani 11 15 15 14 15 70 8 Eka Erbhaena 10 17 17 16 16 76 9 Ella Resika Putri Fransisca 10 15 16 17 18 76 10 Elsinta Meina Hapsari 11 14 17 16 16 74 11 Fajar Bangun Wiradani 11 18 18 15 14 76 12 Febri Putra Wardana 11 19 20 18 18 86 13 Filian Mufcha Ichwana 11 17 17 15 14 74 14 Gustyarso Azis Windraswara 10 17 18 16 17 78 15 Ika Ayu Mustikaningtyas 11 15 16 16 17 75 16 Irasetio Wati 10 18 20 17 18 83 17 Maulida PamungkasariAK 11 16 17 17 18 79 18 Meyta Aryanti 11 18 19 18 18 84 19 Moh. Ilham 11 17 17 17 20 82 20 Mohammad Rizal Hanafi 10 18 20 18 19 85 21 Muhamad Fahmi Fatchur Rozi 11 17 19 18 18 83 22 Mutohar 11 18 17 18 18 82 23 Nur Rachma Diah Falupi 10 17 20 18 18 83 24 Rizky Indra Permatasari 11 17 17 16 15 76 25 Wahyu Arif Permadhani 11 18 19 16 18 82 26 Wahyu Eko Hendratno 10 17 19 18 18 82 27 Widodo Wicaksono 11 17 18 17 17 80 28 Yuvita Wardani 10 17 19 18 17 81 29 Zuqni Qurotul Uyun 10 18 16 16 17 77 30 M. Fakih Usman 10 16 18 17 19 80 31 Maulida Khoirunnisa 10 17 19 18 18 82 Aspek Yang Dinilai : A = ketepatan menentukan gagasan utama pada paragraf paragraf B = ketepatan menentukan kalimat penjelas yang mendukung gagasan utama C = ketepatan menentukan paragraf induktif dan deduktif dalam paragraf D = ketepatan mengidentifikasi paragraf induktif dan deduktif pada paragraf E = ketepatan menjelaskan perbedaan paragraf induktif dan deduktif Skala penilaian dibuat dengan rentangan dari nilai terkecil 20 sampai dengan 100. Lampiran 36 Deskripsi Hasil Penelitian Tabel : Deskripsi Hasil Penelitian Deskripsi hasil Penelitian Siklus I Siklus II Siklus III Perencanaan tindakan 1.Peneliti dan guru merancang skenario pembelajaran. 2.Guru menyusun rencana pembelajaran (RP) untuk materi membaca pemahaman paragraf induktif dan deduktif dengan pendekatan quantum learning. 3.Peneliti dan guru mempersiapkan media pembelajaran berupa gambar/video 4.Peneliti dan guru menyusun instrumen penelitian (tes dan nontes) 1.Guru memperbaiki posisinya di kelas agar dapat mengamati perilaku seluruh siswa. 2.Guru akan menstimulus siswa agar aktif dengan memberikan reward. 3.Guru akan menambah pengetahuan siswa tentang pengertian, perbedaan, ciri-ciri paragraf induktif dan deduktif serta mengajak siswa menerapkan metode TANDUR dalam membaca 1.guru menyinggung kembali tentang pengertian, perbedaan, ciri-ciri paragraf induktif dan deduktif terkait dengan metode TANDUR. 2.Guru menerapkan teknik self correction untuk menambah daya kritis Pelaksanaan Tindakan 1.Guru memberikan apersepsi. 2.Guru menjelaskan materi. 3.Guru menjelaskan quantum learning dan penggunaanya dalam pelajaran membaca pemahaman. 4.Penerapan metode TANDUR 5.Siswa menyanyikan Rayuan Pulau Kelapa. 6. Siswa diajak mengingat kembali dari gambar/ video yang ditayangkan seperti yang telah mereka lamai. 7.Siswa diminta mendata peristiwa yang menarik dan mengungkapkannya di depan kelas. 8.Guru menugasi siswa membaca bacaan dan menjawab pertanyaan dengan tepat. 9.Guru menugasi beberapa siswa membacakan hasil pekerjaannya di depan kelas. 10.guru dan siswa melakukan refleksi terhadap proses belajar mengajar. 1.Guru memberikan apersepsi. 2.Guru menjelaskan penggunaan gambar/video 3.Guru menjelaskan tentang pengertian, perbedaan, ciri-ciri paragraf induktif dan deduktif berdasarkan hasil pekerjaan siswa pada siklus I Guru memberikan reward pada siswa yang telah menjawab pertanyaan seputar paragraf induktif dan deduktif dalam bacaan dengan baik. 5.Siswa diajak mengamati peristiwa tentang pasar-pasar di Indonesia dengan metode TANDUR melalui tayangan gambar/video 6.Siswa menyanyikan lagu Halo-halo Bandung. 7.Siswa diminta mengomentari peristiwa tersebut dan mengaitkan dengan pengalaman sehari-hari. 8.Guru menugasi siswa membaca pemahaman paragraf induktif dan deduktif dan menjawab pertanyaan 9.Guru menugasi beberapa siswa membacakan hasil pekerjaan di depan kelas. 10.Guru dan siswa melakukan refleksi terhadap proses belajar mengajar. 1.Guru memberikan apersepsi. 2.Guru menjelaskan kembali tentang pengertian, perbedaan, ciri-ciri paragraf induktif dan deduktif bersasarkan hasil pekerjaan mereka pada siklus II. 3.Guru mengajak siswa mengoreksi sendiri (self correction) kesalahan yang terdapat dalam hasil pekerjaan mereka 4. Guru memberikan reward pada siswa yang mampu menjawab pertanyaan dengan baik. 5.Siswa diajak mengamati tayangan gambar/video tentang pentingnya kesehatan bagi kehidupan sehari-hari dengan metode TANDUR. 6.Siswa diajak menyanyikan lagu Maju Tak Gentar. 7.Guru menugasi siswa mengingat kembali peristiwa yang pernah dia ingat kemudian baru membaca pemahaman sesuai dengan tema hari itu. 8.Guru menugasi beberap siswa membacakan hasil pekerjaanya di depan kelas. 9.guru dan siswa mengadakan Tanya jawab seputar peristiwa yang mereka lihat dan materi pada hari itu. 10.Guru dan siswa melakukan refleksi terhadap proses belajar mengajar. Hasil 1.Siswa aktif selama apersepsi sebanyak 54,84%. 2.Siswa yang aktif selama KBM sebanyak 51,61%. 3.Siswa yang antusias menjawab soal-soal (lisan maupun tulisan) sebanyak 54,84%. 4.Hasil pekerjaan siswa didapat 54,84% siswa sudah dapat membaca pemahaman dengan pendekatan quantum learning dengan cukup baik dan 45,16% siswa perlu perbaikan. 1.Siswa aktif selama apersepsi sebanyak 64,52%. 2.Siswa yang aktif selama KBM sebanyak 61,29%. 3.Siswa yang antusias menjawab soal-soal (lisan maupun tulisan) sebanyak 67,74%. 4.Hasil pekerjaan siswa didapat 67,74% mampu membaca pemahaman dengan baik dan memuaskan,32,26% perlu perbaikan. 1.Siswa aktif selama apersepsi sebanyak 74,19%. 2.Siswa yang aktif selama KBM sebanyak 70,96%. 3.Siswa yang antusias menjawab soal-soal (lisan maupun tulisan) sebanyak 83,87%. 4.Hasil pekerjaan siswa didapat 83,87% mampu membaca pemahaman dengan baik dan memuaskan, 16,13% sisanya perlu perbaikan. Kekurangan atau Kelemahan 1.Guru tidak memberikan umpan balik kepada siswa tentang seberapa jauh tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan. 2.Posisi guru lebih banyak berada di depan kelas, sehingga tidak dapat memonitor keseluruhan siswa dalam kelas tersebut. 3.Masih terlihat beberapa siswa kurang memperhatikan pelajaran. 4. Siswa terlihat belum sepenuhnya aktif dalam pembelajaran. 5.Siswa masih kesulitan dalam membaca pemahaman dengan menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan bacaan. 6. Media yang digunakan terlalu kecil dan terbatas. 1.Siswa masih agak kesulitan untuk membaca pemahaman dengan metode TANDUR. 2. Siswa yang masih mengabaikan pemahaman dan cara membaca pemahaman. 3.Guru masih kesulitan menemukan gambar-gambar/video yang bervariasi pada media LCD. 1.Secara umum proses pembelajaran membaca pemahaman paragraf induktif dan deduktif dengan pendekatan quantum learning siklus III ini berjalan dengan baik, semua kelemahan-kelemahan sudah dapat teratasi dengan cukup baik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembelajaran membaca pemahaman paragraf induktif dan deduktif tersebut telah berhasil dan menunjukkan peningkatan baik dari segi proses maupun hasil. Lampiran 37 Rekapitulasi Nilai Membaca Pemahaman Siklus I, II, dan III DAFTAR KETERCAPAIAN KOMPETENSI SISWA NILAI TUGAS MEMBACA PEMAHAMAN SISWA KELAS XI IPS 2 MAN 2 MADIUN TAHUN PELAJARAN 2010/2011 No Nama siswa Nilai Survei Awal Siklus I Siklus II Siklus III Keterangan 1 Abdul Rohman 66 70 71 72 Meningkat 2 Afian Ismail 55 68 70 72 Meningkat 3 Anang Yulianto 66 82 82 86 Meningkat 4 Aulia Mu’tashim 71 76 76 82 Meningkat 5 Ayu hana fadhilah 73 72 72 80 Meningkat 6 Binti Nur halimah 66 83 83 85 Meningkat 7 Cita Mukti Handayani 55 67 67 70 Meningkat 8 Eka Erbhaena 72 68 68 76 Meningkat 9 Ella Resika Putri Fransisca 63 71 71 76 Meningkat 10 Elsinta Meina Hapsari 68 71 71 74 Meningkat 11 Fajar Bangun Wiradani 63 75 75 76 Meningkat 12 Febri Putra Wardana 66 69 69 86 Meningkat 13 Filian Mufcha Ichwana 65 66 66 74 Meningkat 14 Gustyarso Azis Windraswara 70 71 71 78 Meningkat 15 Ika Ayu Mustikaningtyas 72 70 71 75 Meningkat 16 Irasetio Wati 65 81 82 83 Meningkat 17 Maulida Pamungkas sari AK 55 77 77 79 Meningkat 18 Meyta Aryanti 75 80 81 84 Meningkat 19 Moh. Ilham 55 79 80 82 Meningkat 20 Mohammad Rizal Hanafi 60 81 81 85 Meningkat 21 Muhamad fahmi fatchur Rozi 61 80 80 83 Meningkat 22 Mutohar 75 80 80 82 Meningkat 23 Nur rachma Diah Falupi 67 70 75 83 Meningkat 24 Rizky Indra Permatasari 68 75 75 76 Meningkat 25 Wahyu Arif Permadhani 67 78 80 82 Meningkat 26 Wahyu Eko Hendratno 67 68 75 82 Meningkat 27 Widodo wicaksono 66 78 78 80 Meningkat 28 Yuvita Wardani 66 79 78 81 Meningkat 29 Zuqni Qurotul Uyun 67 74 75 77 Meningkat 30 M. fakih Usman 73 76 78 80 Meningkat 31 Maulida Khoirunnisa 67 76 78 82 Meningkat Rata-rata 65,9 74,5 75,3 79,4 Nilai < 75 29 14 10 5 Nilai >75 2 17 21 26
Ketuntatasan klasikal (%) 6,45% 54,84% 67,74% 83,87%


Lampiran 38 Lembar Penilaian Mengajar Guru



NO


Nama Antusias dalam Menjawab Pertanyaan
Siklus Aktif dalam Apersepsi

Siklus Aktif dalam KBM

Siklus
I II III I II III I II III
1 Abdul Rohman K K B K K K B B K
2 Afian Ismail K K K K K K B B K
3 Anang Yulianto B B B C B B B B B
4 Aulia Mu’tashim B B B B B B B B B
5 Ayu Hana F K K B K K B K K B
6 Binti Nur Halimah B B B B B B B B B
7 Cita Mukti Handayani K K B K K K B K B
8 Eka Erbhaena K K C K K B K K C
9 Ella Resika Putri Fransisca K K C K K B K K C
10 Elsinta Meina Hapsari K B B K B K K K K
11 Fajar Bangun Wiradani C C B C B C B B B
12 Febri Putra Wardana K B B K B B K K B
13 Filian Mufcha Ichwana B B B B B K K B K
14 Gustyarso Azis Windraswara B B B B B B B B B
15 Ika Ayu Mustikaningtyas B B C K B C C B B
16 Irasetio Wati B B B B B B B B B
17 Maulida PamungkasariAK B B B B B K B B B
18 Meyta Aryanti C B B B K B B B B
19 Moh. Ilham B B B B B B B B B
20 Mohammad Rizal Hanafi B B B B B B B B B
21 Muhamad Fahmi Fatchur Rozi B B B B B B K B B
22 Mutohar C B B B B B B B B
23 Nur Rachma Diah Falupi B C B B C B K C K
24 Rizky Indra Permatasari C C C C C C B C B
25 Wahyu Arif Permadhani C B B B B B B B B
26 Wahyu Eko Hendratno B C B B C B K C B
27 Widodo Wicaksono B B B B B B B K B
28 Yuvita Wardani B B B B B B C K B
29 Zuqni Qurotul Uyun B C B B C B K C K
30 M. Fakih Usman B B B C B B C B B
31 Maulida Khoirunnisa C B B C B B C B K
Kategori B 17 20 26 17 20 23 16 19 22
Kategori C 6 5 4 5 4 3 5 4 2
Kategori K 8 6 1 9 7 5 10 8 7







Lampiran 39 Rekapitulasi Persentase Hasil Pengamatan Kegiatan Belajar Siswa
No. Unsur yang diamati Kriteria Siklus I
(%) Siklus II
(%) Siklus III
(%)

1.
Antusias dalam menjawab pertanyaan Baik 54,83 64,52 83,87
Cukup 19,35 16,13 12,90
Kurang 25,80 19,35 3,22

2.
Aktif dalam apersepsi Baik 54,83 64,51 74,19
Cukup 16,13 12,90 9,68
Kurang 29,03 22,58 16,13

3.
Aktif dalam KBM Baik 51,61 61,29 70,96
Cukup 16,13 12,90 6,45
Kurang 32,25 25,80 22,58








Lampiran 40 Foto-foto Kegiatan
Hari :Sabtu,10 September 2011


Gambar 1 Kegiatan wawancara dengan Guru

Hari, Tanggal : Senin, 12 September 2011


Gambar 2 Kegiatan Wawancara dengan Siswa
Hari, Tanggal : Senin, 19 September 2011


Gambar 3 Kegiatan Belajar Mengajar




Gambar 4 Antusias Siswa dalam KBM



Gambar 5 Kegiatan Siswa dalam mengerjakan Tugas





Gambar 6 Kegiatan Siswa dalam membacakan Hasil Membaca Pemahaman di Depan
Kelas



Gambar 7 Kegiatan Siswa dalam Menyanyikan Lagu dan Mengucapkan Yel -yel


Gambar 8 Kegiatan Pengamat (Peneliti ) dalam KBM kelas










Gambar 9 Media dalam Pembelajaran

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar